Burung Hantu

Jumari HS


Setiap malam burung hantu itu datang di kebun bambu Surti, dan entah dari mana datangnya bahkan keberadaannya begitu membuat rasa ketakutan yang mendengarnya. Sampai Surti dan anak-anakmya sulit untuk tidur diselimuti rasa takut yang begitu mencekam. Mereka ingin mengusirnya tapi tak tahu keberadaannya dan suara nguk..nguk..nguk yang diperdengarkan burung hantu terus berulang-ulang tak henti-hentinya.

Suatu saat pada malam purnama, Surti sengaja memberanikan diri ingin menjebak burung hantu itu dengan duduk di bawah pohon bambu kebunnya sejak awal petang hari. Dia dengan sabar sambil menunggu suara burung Hantu itu muncul dan mau melihat keberadaannya di mana. Apa yang dilakukan itu ternyata sia-sia saja, Dia hanya mendengarkan suara nguk..nguk..nguk saja dari rerimbunan pohon bambu, akan tetapi tak menemukan burung hantu itu, bahkan rasa ketakutannya semakin besar merayap dalam dirinya, akhirnya dia harus lari dan kembali ke dalam rumahnya.

***

Malam bercampur dingin dan sunyi, hati Surti menerawang jauh mengingat suaminya yang kerja di luar pulau dan setiap tiga bulan baru pulang bahkan bisa sampai enam bulan, Dia sambil berbaring di kamar menjaga ke dua-anak laki dan perempuan yang baru 7 tahun dan 4 tahun yang tertidur pulas. Rasanya dirinya ingin ikut suami saja kalau suasana di rumah tersiksa seperti ini.

“ Sekarang kau sedang apa, suamiku? Di sini aku terus berjuang menahan takut , kapan kau pulang kembali kang? “ keluhnya. Penuh harap dan dalam lamunannya tiba-tiba terdengar lagi suara burung hantu nguk..nguk…nguk.

“ Kurang ajar burung hantu itu, apa maunya dan apa salahku sedemikian kejamnya meneror keluargaku? “ berontaknya penuh kesal sambil berusaha sekeras-kerasnya menutupi telinga. Tapi suara burung hantu itu belum juga berhenti bahkan membuat telinganya seperti diseleti. Dalam suasana seperti itu Surti tak tahan lalu keluar dan mengambil batu seadanya lalu melemparnya ke arah suara burung Hantu berkali-kali. Tapi suaranya juga belum juga berhenti bahkan seperti mengejek. “ ya Tuhan apa salahku apa dosaku “ pinta Surti sepenuh dan sedalam hati sampai dirinya lemas terkulai di lantai depan rumahnya.

***

Pagi sangat cerah dan keceriaan burung-burung berkicau berlintasan dari ranting ke ranting, matahari pun begitu hangat, sehangat pagi yang memberi harapan baru bagi kehidupan bagi siapapun. Tapi sialnya tubuh Surti yang masih tergeletak di lantai depan rumahnya belum juga terbangun dari tidurnya dan kerumuni tetangga-tetangganya yang melihat kondisinya sangat memprihatinkan.

“ Surti bangun, bangun! Sudah siang kasihan anak-anakmu! “ tetangganya berusaha membangunkan.

“ Ibu bangun, ibu bangun aku mau sekolah “ rengek anaknya yang tua sambil mendekap tubuh ibunya.

Surti begitu terlelap dan asyik dalam tidur sampai tak menghiraukan siapapun bahkan tanggung jawabnya  sebagai pengganti kepala keluarga. Dalam suasana yang begitu memprihatinkan tetangga-tetangganya pun berusaha sabar menunggu Surti sampai terbangun. Di atas mtaahari pun terus merangkak dan cahayanya semakin terang benderang.

“ Aku di mana? “

“ Ibu di rumah dan semalamt tertidur di lantai depan ini “ jawab anak yg tua

“ Ada apa tetangga pada datang di sini dan ada apa dengan diriku? “

“  Semalam mimpi apa Sur ? Tanya tetangga dekat.

“ Aku tak mimpi apa-apa, aku menugusir burung hantu “

“ Apa, burung hantu? “ tetangganya kaget.

“ Ya, burung hantu, burung hantu itu menggoda dan menakut-nakutiku “

“ Lantas? “

“ Suaranya sangat menakutkan, keberadaannya tak bisa aku ketahui. Aku takut…aku takut! “ jelas Surti.

Tetangga-tetangga itu dalam hatinya pada tanda tanya dengan apa yang dialami keluarga Surti, mereka merasa heran dan penuh keanehan. Sedangkan menurut cerita orang tua dulu bahwa siapapun saja yang didatangi burung hantu, orangnya biasa punya utang dengan orang lain, lalu “ apa Surti punya hutang dengan orang lain “ bisik tetangga-tetangga.

“  Selama ini, aku tak mendengar suara burung hantu itu Sur. “ seloroh tetangga yang lain.

“ Entahlah yang pasti setiap malam aku mendengar suara burung hantu “

“ Aneh! Kami pernah melihat burungnya? “

“ Tidak! “

“ Lantas? “

“ Hanya suaranya yang tersa mengiris dada dan membuat rasa takut “  jelas Surti.

“ Apa kamu pernah punya hutang denga orang lain? “ tanya tetangga

“ Seperti tidak pernah dan apa hubungannya burung hantu dengan  hutang“

“ Coba dipikir dulu saja, setelah pikiranmu tenang“

Perasaan Surti merasa gundah dan penuh tanda tanya dengan pertanyaan-pertanyaan tetangganya itu. Apa mungkin aku punya hutang ataukah suamiku yang punya hutang dengan orang lain?. Perasaan yang dipenuhi pertanyaan itu terus mengalir deras dalam urat nadinya. Sampai dirinya merasa serba salah dan belum juga ada jawaban.

***

Kerinduan berat pada keluarga terpampang di wajah Suro yang sudah hampir satu tahun baru pulang rumah. Dia benar-benar ingin mencium istri dan anak-anaknya untuk melampiaskan kerinduan yang paling dalam, Dia benar-benar rindu karena selama kepergiannya dalam bekerja di luar pulau adalah sebagai rasa tanggung jawab kepala keluarga. Sedangkan rumah yang dibangun sejak lima tahun yang lalu itu terasa hidup kembali. Keriangan dan kebahagiaan terasa nampak pada istri dan anak-anak dengan kehadirannya kembali di sisi keluarga. Sehingga kebahagiaan itu sangat terasa dan benar-benar terasa sekali.

“ Sur, sekarang kamu kelihatan kurus. Apa yang sedang kau pikirkan selama ini“ tanya Suro pada istrinya.

“ Aku tersiksa kang? “

“ Tersiksa apa? “

“ Besuk saja aku ceritakan, kakang istirahat saja dulu “

Surti berusaha menyimpan dulu tentang peristiwa tentang burung hantu, dan dia ingin membuktikan nanti malam apakah suara burung hantu itu akan muncul kembali atau tidak dari rerimbunan pohon bambu di kebunnya itu. Sebab suami sudah pulang rumah dan dengan kehadirannya suaminya. Mungkin saja membuat burung hantu itu jera dan tak akan muncul lagi.

Tapi apa yang diperkirakan Surti tidak terbukti, burung hantu itu itu ternyata muncul kembali dan suara nguuk..nguk..nguk kembali muncul dan bahkan suara malah terdengar lebih nyaring dan menakutkan. Sura yang mendekap istrinya penuh kasih saying itu merasa terganggu, dan Sura pun keluar rumah mencari burung hantu itu. Dalam rerimbunan pohon bambu dia telisik dengan seksama, tapi hasil nihil dan burung hantu itu malah seperti mengejeknya dengan suaranya yang menjadi-jadi, Sura merasa diperlakukan seenaknya oleh burung hantu itu.

“ Apa mungkin selama aku kerja di luar pulau istriku diganggu burung hantu seperti ini?, bisiknya dalam hati penuh tanda tanya..

Gelap pun makin menggulita di sertai embun yang mulai menggelupas. Hati Sura pun mendidih dalam kejengkelan..Dia ingin merobek burung hantu yang nguk..nguk itu. Tapi apa daya, suara itu hanya suara, sosok tak kelihatan seperti hantu di dalam tanah yang menyemburkan rasa takut, ya rasa takut.

“ Kenapa kamu belum juga tidur, kamu takut dengan suara burung hantu itu Sur ? “ tanya Suro.

“ Ya Kang, setiap malam suara itu selama ini menakut-nakuti “

“ Tidurlah saja Sur, besuk bangun dan kita bicarakan, mungkin kehadirannya burung hantu itu ada yang nggak beres pada keluaraga kita. “

Sisa malam tinggal dalam hitungan waktu, masih membuat Suro dan istri masih belum    bisa memejamkan kedua matanya, rasa kalut kedua insane terserbut masih diselimuti rasa takut yang belum juga sirna. Sampai embun yang menetes tak terasa dingin di tubuhnya.

***

Matahari mulai terbit dari ufuk timur, Sura dan istrinya berusaha bangkit dari kamar tidur untuk menatap kehidupan baru, suasana di luar rumah yang cerah kedua insane suami istri saling pandang memandang. Surti merasakan wajah suaminya tiba – tiba seperti burung hantu yang menakutkan. Meski demikian Dia berusaha menyembunyikan rasa takutnya itu. Dengan senyum yang dipaksakan Dia membelai suaminya penuh kelembutan.

“ Sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan, Sur? “ tanya Suro pada istrinya

“ Nggak kang, boleh aku tanya sesuatu kang? “

“ Apakah akang punya hutang dengan orang lain? “

“ Hutang? “

Pertanyaan istrinya membuat hati Suro berpikir keras, tiba-tiba Dia ingat mbah Parto yang saat Dia mau kerja luar pulau hutang tiga juta. Dengan ingat hutang itu Suro penasaran dan cemas.

“ Mbah Parto sekarang di mana Sur?

“ Dia sudah meninggal enam bulan yang lalu? ‘

“ Haahhh, meninggal? “

“ Kenapa kang? “

“ Aku hutang  “

“ Hutang !? “

“ Ya, Sur “

Jawaban itu spontan membuat pikiran Suro dan istrinya merasa terngiang-ngiang dan burung hantu itu seperti hinggap di kepalanya bahkan  burung hantu terasa terus berkoak-koak yang membuatnya kelimpungan dan kebingungan, kemana mereka akan  mengembalikan hutangannya itu, danpada siapa? Sedangkan mbah Parto sudah meninggal.. Suro dan istri sangat cemas dan ketakutan dan di atas rumahnya terdengar suara nguk..nguk…nguk yang menebar baying-bayang.

***


Kudus, 2010

Ilustrasi: usbr.gov

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.