Donat Ungu

Galuh Chrysanti


“Langit rasanya selalu tersenyum di atas sekolahku”, begitulah perasaan Ami tiap paginya ketika  memulai aktivitas mengajarnya di tempat itu.

“Assalammualaikum, Bu Amiiii… ,” sekumpulan balita menyambutnya dengan pelukan,  menyelimutinya dengan  energi yang berlimpah lewat senyum riang dan binar kejora mata mereka.

Waktu bagaikan berlari.  Apalagi hari itu  Ami mengajak murid-muridnya menghias donat untuk Bunda di rumah. Bergembira sepanjang pagi hingga waktunya pulang.  Ditatapnya raut-raut  lelah duduk bersila mengelilinginya.  Ada aroma kebanggaan yang menyeruak, tangan kecil mereka menggenggam plastik berikat pita berisi donat untuk Bunda tercinta.

Menit-menit menjelang bel berbunyi.

Ami tersenyum ketika sudut matanya menangkap bungkusan di tangan Dira yang duduk di sisinya.  Donatnya berhias krim warna ungu, bukan aneka warna seperti yang lain. “Mamaku sukanya warna ungu, Bunda,” bisiknya di telinga Ami.

Rasa gemas  menggoda Ami untuk memeluk Dira. “Bu Ami cintaaa sekali sama Dira…,” katanya tulus.

Tak dinyana,  sosok dalam pelukan itu meregang. Wajahnya terkesiap, tubuh mungilnya meronta sekuat tenaga. Kakinya mulai menendang kian kemari.

“Ngga mau cintaaaaaaaaaaaaaa, ngga mau cintaaaaaaaaaaaa,” jeritnya.

Bergetar gendang telinga Ami oleh jeritan Dira yang semakin liar. Bintik-bintik bening memenuhi dahi mungilnya.

“Maafkan Ibu, Dira… maafkan , ya?” pinta Ami, terbawa panik. Dipegangnya  erat tangan kecil yang bertubi-tubi memukulinya itu. Entah berapa lama, tangan itu mulai melemah, layu.

Ami memeluk Dira. Menyerahkan selapang hatinya untuk anak malang itu. Seragam Dira kuyup keringat.  Berdesak-desakan bulir bening di mata Ami ingin keluar, tak tega.

Diantarnya  Dira pulang ke rumahnya dengan mobil jemputan.  Terlelap di pangkuannya, kelelahan sangat.

Terbata,  Ami mengkisahkan yang  terjadi.  Membuat sang Bunda terhenyak, sampai akhirnya tubuh kurus itu menggeletar.

Hhhh…,” suara aneh seakan keluar dari dadanya. Sebelum Ami menyadari apa yang terjadi, sebuah tangisan kembali pecah di depan matanya.

“Salaahku, salahku,” tangisnya. Hari itu, pundak Ami kembali menampung tumpahnya air mata.

Perempuan kurus, kini bermata sembab , menjelaskan padanya.

Karena tekanan hidup, ia kerap melampiaskan amarahnya pada Dira. Cubitan, tamparan, bahkan jambakan dirasakan Dira kecil tiap harinya.

Setelah puas memukul Dira, Bunda selalu berkata, “Dira, Bunda memukul Dira karena Bunda sayang, makanya, Dira jangan nakal, yaa…”

Atau, “Bunda mencubit  Dira karena  Bunda cinta, supaya Dira jadi anak baik.”

Giliran air mata hati Ami, bercucur deras tak terkendali.

Dira yang meronta, justru ketika gurunya mengucapkan cinta. Dalam benaknya yang sederhana, sayang berarti memukul, cinta berarti…tersakiti.

Donat ungu yang sudah tak berbentuk menjadi saksi, hati Ami nyeri. Sangat nyeri…



Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.