Si Peragu

Anoew


“Saya nggak jadi pergi” ucapnya tegas.

“Lho, kenapa?” tanya saya dengan kening berkerut.

“Karena ada yang berencana meremas eh.. memeras saya di sana” jawabnya dengan nafas tersendat, lantas matanya menerawang jauh.

Ah, saya ikut menerawang jauh. Sudah saya duga sebelumnya bahwa dia akan bersikap seperti ini, bahkan jauh-jauh hari sebelum dia terpilih kembali sebagai ketua geng di kelompok kami ini. Dia akan selalu bersikap tak tegas dan bersifat peragu, meskipun sudah saya jelaskan panjang-lebar bahwa keselamatannya akan dijamin sepenuhnya oleh ketua geng di kampung sebelah, tanpa perlu khawatir dengan ancaman dari preman-preman yang berencana memerasnya. Lagi pula kan, kita diundang.

“Punya rokok?”, dia memecah kebisuan.

Saya merogoh saku celana lantas mengangsurkan rokok yang segera disambarnya.

“Apa sih yang bikin ragu-ragu, lalu batal pergi?” tanya saya sambil menyalakan mancis untuknya.

“Ancaman preman..,” sahutnya.

“Lalu?”

“Kedaulatan dan kehormatan geng kita ini.”

“Apa hubungannya?” penasaran saya tatap matanya.

Lagi-lagi dengan nafas tersendat dia menjawab, “saya lebih peduli dengan citra geng kita ini yang dikenal sebagai geng manis.”

“Apa nggak malah membuat mereka tersinggung dengan pembatalan ini?”

“Pokoknya saya batalkan”, tukasnya tegas. “Atau tepatnya saya tunda sampai waktu tak ditentukan.” Dia meralat ucapannya, padahal terasa belum kering ludah di bibir.

“Baik. Lantas bagaimana kalau nanti mereka mengundang lagi?”

“Biar nanti ketua geng setelah saya yang menghadapi.” Dia menjawab sambil menatap saya dengan pandangan tegas.

“Baik. Mari kita percepat saja pemilihan ketua geng”, saya tantang dia.

“Eng… enggg… Tunggu nanti lah dua tahun lagi. Saya masih perlu memperbaiki citra.”

“Bos..” sahut saya sabar, “kami-kami ini butuh ketegasan. Butuh keberanian. Jangan sampai orang atau geng-geng lain melecehkan kita!”

Dia menghela nafas, lantas menyedot rokoknya dalam-dalam.

“Biar lah pandangan orang seperti itu, saya pasrah. Mumet tenan (*) dadi ketua geng..” sambil geleng-geleng kepala dia mematikan rokoknya di asbak.

Saya hanya berkata dalam hati, untung dulu tidak latah ikut memilih dia. Meskipun toh sekarang dia memilih curhat kepada saya, itu tak lebih karena kebetulan beliau ini sudah terkenal suka curcol (**) ke mana-mana.

“Yuk kita pulang, warung kopi sudah mau tutup”, ujar saya begitu melihat bapak tukang warung bermuka masam hanya karena dua pembelinya ini terlalu lama ngobrol padahal cuma memesan dua gelas kopi.

Maka kami pun beranjak pulang dan berpisah di persimpangan jalan.

Salam Ragu.

catatan:
* mumet tenan = benar-benar pusing

** curcol = curhat kecolongan

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.