[Exclusive] Yohanes Surya: Cahaya Surya Ilmu Pengetahuan Indonesia – Bringing Science to Life

Iwan Satyanegara Kamah & Josh Chen


BALTYRA Bersama Yohanes Surya: Cahaya Surya untuk ilmu pengetahuan Indonesia

Mendekati libur Lebaran, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Pondol, makan di sana, beli lauk untuk dibawa pulang permintaan istri dan anak-anak. Istri dan si bungsu masih dalam proses pemulihan setelah pertengahan Agustus harus hospitalized karena beruntun Demam Berdarah Dengue.

Bertepatan memang si Sasayu sedang mudik dan hari itu adalah hari terakhir di Indonesia. Perbincangan siang itu di Pondol headquarter (Grogol) sungguh ramai. Bisa dibayangkan betapa ramainya Sasayu di artikel-artikelnya dan komentar-komentarnya, plus ditemani cik Lili sang ibunda. Ramailah kami bertiga ngobrol ngalor ngidul kesana kemari. Sampai pada satu topik tentang olimpiade science Indonesia di dunia internasional.

Adik kandung Sasayu baru saja memenangkan medali emas untuk olimpiade biologi yang diselenggarakan di Korea pada 11-18 Juli 2010. Cerita mengalir dari awal mula penggemblengan si adik sampai kisruhnya pejabat terkait dalam penyelenggaraan dan ruwetnya di dalam instansi terkait. Dan tentu saja sampailah ke sosok yang cukup dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan baik nasional maupun internasional, yaitu Yohanes Surya.

Sosok Yohanes Surya sudah saya kenal “akrab” sejak SMA, karena buku-buku cetak pelajaran fisika SMA ketika itu penulisnya adalah Yohanes Surya, diterbitkan oleh Penerbit Intan (entah sekarang masih atau tidak). Dari situ mulailah saya mengenal nama Yohanes Surya. Ditambah lagi di beberapa media di kemudian hari, kiprah beliau dan tulisan-tulisan ringan mengakrabi science di beberapa media cetak.

Tak terlalu lama, saya langsung menanyakan contacts Pak Yo, dan dijawab cik Lili “ya nanti aku sms”. Setelah mendapatkannya, e-mail address Pak Yo sempat mengendap di catatan saya sekitar 2-3 minggu, karena kesibukan dan urusan domestik. Sampai suatu malam, saya memberanikan diri mengirimkan e-mail perkenalan kepada beliau, dengan keyakinan bahwa beliau pasti membalas, di mana beliau dikenal sebagai sosok yang low profile dan mau mengenal semua kalangan.

Tidak salah memang, tak selang beberapa hari, Pak Yo membalas e-mail dan melimpahkan appointment untuk berbincang ke sekretarisnya. Komunikasi selanjutnya berlangsung cukup intens dan akhirnya disepakatilah sore itu untuk bertemu.

Terima kasih kami sampaikan kepada cik Lili, Sasayu dan adiknya yang membuka kesempatan untuk kita semua berkenalan dengan sosok Yohanes Surya.

Berikut adalah hasil perbincangan sore itu…


ENTAH secara kebetulan atau tidak, awal Oktober ini Baltyra mendapat kesempatan berbincang sejenak dengan seorang tokoh yang mempunyai impian mencetak orang Indonesia agar dapat menerima hadiah Nobel di masa datang. Biasanya secara tradisi dalam minggu pertama bulan kesepuluh ini, panitia Nobel mulai mengumumkan nama-nama pemenang hadiah paling bergengsi di jagat untuk berbagai bidang. Dia adalah Yohanes Surya.

Pria berusaha 47 tahun ini memang bermimpi suatu hari kelak ada putra-putri terbaik Indonesia mendapat hadiah Nobel di dalam bidang ilmu pengetahuan, seperti Nobel untuk kedokteran, kimia atau fisika atau mungkin dalam bidang ekonomi. Berbeda dengan pemenang Nobel untuk kesusasteraan atau perdamaian, yang sering mengundang kontroversial, karena ukuran prestasinya sangat subyektif dengan nilai yang dipakai panitia Nobel dan berbagai pihak.


Lembaga- Nan Unggul Indonesia (LNI) atau Institute for Indonesia’s Future Excellence (IIFE)

Salah satu upaya Prof Yohanes Surya untuk mendorong putra-putri terbaik Indonesia agar dapat belajar di universitas terbaik di dunia terutama di bidang sains dan teknologi adalah melalui program beasiswa.

“Saya bersama Azyumardi Azra dan Ishadi SK, mendirikan Lembaga- Nan Unggul Indonesia”, kata Yohanes Surya yang ditemui Baltyra di kantornya Surya Institute di bilangan Golden Boulevard BSD.

Lembaga- Nan Unggul Indonesia (LNI) atau Institute for Indonesia’s Future Excellence (IIFE) yang sebelumnya bernama Lembaga Nobel Indonesia atau The Indonesia Nobel Foundation untuk menghindari kerancuan The Nobel Foundation di Stockholm, Sweden maka Lembaga Nobel Indonesia diganti namanya menjadi Lembaga- Nan Unggul Indonesia (LNI) atau Institute for Indonesia’s Future Excellence (IIFE). Lembaga ini bertujuan mencetak putra-putri Indonesia yang disiapkan bisa meraih hadiah Nobel untuk bidang-bidang sulit, seperti fisika, kimia atau kedokteran.

Tujuan dari LNI ini adalah menghasilkan 30.000 PhD di bidang sains dan teknologi dan diharapkan di tahun 2030 nanti diantara para doktor ini ada yang mendapatkan hadiah nobel dibidang sains dan teknologi.

Adapun visi LNI di sini adalah:

Ø       Membuat Road- Map perkembangan dan kebutuhan sains dan teknologi di Indonesia

Ø       Memfasilitasi minimal 3000 siswa/ mahasiswa terbaik Indonesia setiap tahunnya untuk belajar di berbagai universitas terbaik di dunia hingga mencapai gelar doctor lewat program semi- beasiswa.

Ø       Memfasilitasi para doktor Indonesia (S3 dalam bidang sains dan teknologi) yang ada didalam dan luar negeri untuk mendapatkan kesempatan riset dan mengkomersialkan hasil riset demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Tekad Pak Yohanes “Kami ingin setiap propinsi mengirim 100 siswa untuk jadi doktor di perguruan tinggi prestisius di luar negeri”. Melalui lembaga yang dijalankannya sekarang, upaya tersebut sedang dilakukan dengan baik. Bila saja setiap propinsi mengirimkan seratus warganya, sangat mungkin memacu Indonesia cepat melesat di bidang IPTEK.

“Kalau 33 propinsi mengirim masing-masing 100 orang, maka tercapai mencetak 3300 doktor dalam bidang iptek”, katanya menghitung-hitung. Artinya, keinginan menjadikan Indonesia sebagai negeri ilmuwan bisa tercapai mulai dari langkah awal. Sekarang ini Indonesia masih jauh tertinggal dalam bidang iptek, kecuali sebagai bangsa pemakai hasil-hasil iptek.

“Indonesia harus punya 30 ribu doktor dalam bidang sains dan teknologi kalau ingin maju seperti negara lain. Itu minimal!”, tekad pria yang tak pernah lelah mengurusi iptek dalam negeri ini. Dia memberi contoh negara Cina yang kemajuannya sangat pesat dan susah serta kewalahan dihambat oleh siapapun. Puncaknya, Cina menjadi negara ketiga di dunia yang berhasil mengirimkan astronot ke luar angkasa, yaitu Yang Liwei (2003) setelah Yuri Gagarin dari Uni Soviet (1961), John Glenn dari AS (1962).

“Antara tahun 1995 sampai 2005, Cina mencetak 30 ribu doktor bidang iptek. Dampaknya bisa dilihat”, alasan Pak Yo mematok angka 30 ribu doktor yang harus diraih Indonesia agar mau cepat maju dalam iptek. Soal hitung-hitungan jumlah doktor iptek, Indonesia memang berada di barisan belakang. Bandingkan dengan AS yang punya 1,5 juta doktor iptek dan gemar mencetak pemenang Nobel setiap tahun untuk bidang iptek. Lalu berapa jumlah doktor bidang iptekyang dimiliki Indonesia sekarang? “Masih di bawah seribu”, katanya sedih menyebut jumlah doktor iptek di negeri ini.

Pak Yohanes  memiliki  tekad yang sangat prestisius  untuk mengejar ketinggalan Indonesia dalam bidang sains dan teknologi. Kuatnya keinginan itu membuat dirinya kukuh kembali ke tanah air, meski dia telah memiliki green card (ijin tinggal dan bekerja) di Amerika Serikat, tempat dia meraih gelar doktornya tahun 1994 dengan predikat cum laude di di College of William and Mary, Virginia.


INDONESIA NEGERI ILMUWAN

Di mata seorang Yohanes Surya, Indonesia bisa menjadi negeri tempat mencetak banyak ahli sains dan teknologi. Tujuan akhirnya, seperti yang disebut sebelumnya, memang antara lain mencetak orang intelektual yang mungkin bisa meraih Nobel kelak. Tetapi untuk menuju keinginan itu, bukanlah hal mudah seperti menggoreng telur mata sapi.

Sudah banyak yang dilakukannya untuk menuju ke cita-cita itu. Lihat saja berapa sering siswa-siswa Indonesia dengan mudah bisa meraih juara ajang olimpiade fisika atau matematika di panggung dunia pendidikan. Kejelian seorang Yohanes Surya bisa diandalkan dan terbukti dalam melihat bibit unggul untuk meraih prestasi itu.

Sejak campur tangan seorang Yohanes Surya dalam penggemblengan para siswa berbakat ini, nama Indonesia kian berkibar di kiprah ilmu pengetahuan internasional. Emas demi emas, perak demi perak, dan perunggu demi perunggu disabet dalam berbagai kesempatan di berbagai kancah bergengsi. Salah satunya yang cukup dikenal adalah TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) – http://www.tofi.or.id/ yang mengkhususkan di bidang fisika.

Dari yang sebelumnya dikenal sebagai underdog atau pupuk bawang, sekarang Indonesia sangat diperhitungkan di dunia ilmu pengetahuan internasional.

“Kami ingin setiap propinsi dapat mengirim 100 siswa untuk jadi doktor di perguruan tinggi prestisius di luar negeri”, tekadnya. Dengan lembaga yang dijalankannya sekarang, upaya tersebut sedang dilakukan dengan baik. Bila saja setiap propinsi mengirimkan seratus warganya, sangat mungkin memacu Indonesia cepat melesat di bidang iptek.

Inilah yang membuat Yohanes Surya, lulusan jurusan fisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI tahun 1986 ini, gregetan ingin mengejar ketinggalan itu.


KELAS SUPER

Langkah konkrit lain yang dilakukannya adalah mendirikan kelas-kelas super untuk anak-anak ber-IQ di atas 140 ke atas. Untuk mengejar itu, pihaknya melakukan kerja sama dengan berbagai instansi, seperti pemda untuk menyiapkan calon siswa dan lembaga lain untuk mendukung bidang lainnya.

“Mereka diberi pelajaran universitas meski mereka masih SMA”, katanya dengan penuh semangat. Hasilnya memang menakjubkan. Beberapa sekolah di Indonesia telah diajaknya untuk memacu cita-citanya itu, seperti BPK Penabur di Gading Serpong, SMA Muhammad Husni Thamrin Jakarta, SMA Chaerul Tanjung Medan dan SMAN 2 Kudus (sedang dalam proses).


SEMUA ORANG ITU JENIUS

Meskipun Yohanes Surya mencari bibit unggul doktor dari kalangan anak jenius, bukan berarti dia tak melirik anak yang intelektualnya biasa-biasa saja atau di bawah standard. Sebuah eksperimen yang diciptakannya telah membuktikan, bahwa untuk menjadi pandai tidak harus ber-IQ cemerlang.

Nah, untuk mengejar jangkauan iptek, diperlukan tangga yang namanya matematika. Kata matematika menjadi sebuah kata yang menakutkan bagi banyak orang tua yang mempunyai anak yang sedang sekolah. Njelimet dan susah dicerna, kata banyak orang yang berusaha menjauhi ilmu yang sangat penting itu untuk memajukan ilmu pengetahuan.

“Saya menciptakan metode yang membuat orang sangat mudah mempelajari matematika”, katanya bangga dengan metode GASING (Gampang Asyik Menyenangkan) yang ia ciptakan sendiri, yang tujuan awalnya adalah untuk mengajar anak sendiri cara mudah belajar matematika. Metode yang sedang dipatenkan itu, terbukti secara uji coba bisa membuat siswa terbodoh menjadi pandai menguasai matematika dengan cara mudah sekali. Seorang bocah 9 tahun dari Belitung yang sebelumnya pandir, secara demonstratif memamerkan kebolehannya menguasai pelajaran matematika tingkat SMA di depan pejabat pemda Belitung.

“Mereka terkejut”, ujar Pak Yo bangga karena metodenya yang ternyata berhasil. Anak paling bodoh saja bisa jadi pandai, bagaimana anak biasa-biasa saja atau yang sudah pandai? Orang hanya perlu kesempatan saja untuk menjadi sukses, tak perlu jenius untuk menjadi orang hebat seperti kata Thomas Alva Edison. Tak sampai di situ, Yohanes Surya memoles juga ibu-ibu agar gemar matematika. Sebab, kebanyakan dari mereka alergi dengan pelajaran yang satu ini, terutama bila anak mereka bertanya soal PR anaknya.

“Kita latih mereka melalui Gerakan Ibu-Ibu Pandai Matematika”, katanya berpromosi. Tujuannya agar ibu-ibu bisa mengajarkan anak-anaknya memahami matematika. Gerakan ini kita akan diresmikan bertepatan dengan Hari Ibu tanggal 22 Desember mendatang.


ILMU PENGETAHUAN UNTUK INDONESIA

Sulit meragukan bahwa seorang Yohanes Surya hanya setengah hati memajukan iptek Indonesia. Panggilan jiwanya sudah membuktikan sebuah keinginan masyarakat agar negeri ini tak terseok-seok dalam bidang iptek, setelah sekian lama sejak merdeka Indonesia tidak memperdulikan sama sekali ilmu pengetahuan.

Hampir setiap saat, Yohanes Surya tanpa henti mencari cara terbaik untuk menempatkan iptek sebagai garda terdepan untuk generasi mendatang. Dalam dunia iptek, Indonesia adalah negeri yang masih gelap terkena cahaya iptek. Ditambah lagi hampir sebagian masyarakatnya sangat tidak menghandalkan riset dan iptek dalam setiap sendi-sendi kehidupannya untuk masa datang.

Sekarang ini telah didirikan sebuah sekolah tinggi ilmu pengetahuan yang berpijak dengan kebutuhan Indonesia. Sekolah tersebut menitikberatkan pada tiga kajian yang membumi, seperti education, energy dan life sciences.

Untuk bidang education, tahun ini ada 150 mahasiswa baru dan tahun depan dia berharap bisa tercapai 5000 mahasiswa, untuk mencetak guru yang menguasai fisika dan matematika. Ketika bidang kajian itu berpotensi menggali banyak kekayaan untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.

Alternative energy di Indonesia sangat berlimpah, sebut saja tenaga surya, panas bumi – itu yang klasik, belum lagi biomass, biofuel, semua itu sangat berlimpah di Indonesia”, ujarnya menggebu.

“Bagaimana sawah sehektar dari 4 ton bisa menghasilkan 20 ton beras”, katanya memberi contoh. Di Cina satu hektar sawah sudah menghasilkan 12 ton padi, sebagai contoh yang ingin dia tiru.

“Tahun depan diharapkan sekolah tinggi ini menjadi universitas, namanya Surya University”, tekadnya. Sekarang baru 37 doktor dihasilkan sekolah tersebut dari 1000 doktor yang ditargetkan. Kelak universitas ini bisa menampung kreatifitas dan inovasi dari ilmuwan Indonesia, yang tak bisa ditampung di perguruan tinggi yang sudah ada sekarang.

Kemajuan iptek memang tak tergantung hanya dari upaya-upaya jalur formal saja. Dunia maya turut meramaikan semaraknya gempita penyampaian ide-ide brilyian dari masyarakat luas. Bagi pria yang pernah bertatap muka dengan Presiden AS George Bush di Istana Bogor November 2006 silam ini, situs semacam jurnalisme publik seperti Baltyra dan lainnya, sangat membantu.

Baginya, situs jurnalisme warga menjadi tempat orang mengungkapkan isi hati dan bisa menuliskannya, sehingga orang lain belajar apa yang dia alami. Orang tak terpaku lagi mencari medium klasik seperti media massa yang banyak batasan untuk menyampaikan ide. Lalu bagaimana dengan Baltyra di mata seorang Yohanes Surya?

“Bagus, saya sudah lihat”, kesannya. (*)


Websites terkait:

http://www.suryainstitute.org/en/index.php

http://www.yohanessurya.com/index.php

http://www.tobi.or.id/

http://www.tofi.or.id/

http://www.suryainstitute.org/en/component/option,com_weblinks/catid,13/Itemid,32/

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.