Jebakan Cartesian dan Hume

Alfred Tuname


“Revolution was fought with words before it was fought with deeds”

-Loewenberg


Seperti biasa, hidup seolah merangkas dalam berbagai dilema. Dilema-dilema kemudian membelah diri menjadi multilema. Multilema ini mereduksi sekaligus merekonstruki pikiran-pikiran manusia  drifting dalam kondisi tersebut. Kompresi multilema itu adalah realitas insani. Siapa pun pernah dan akan selalu dierami kondisi multilema. Multilema yang mereduksi pikiran akan membentuk pribadi yang fraktal.

Pribadi yang fraktal cenderung mengamini pragmatisme. Pragmatisme di sini diartikan sebagai situsional oportunis. Dan tubrukan dilema yang rekonstruksionis akan bergelut dalam peliharaan idelitas-idealitas yang terpupuk dalam optimisme untuk realitas yang lebih baik. Bentuk respon realitas ini merupakan  merupakan kerja rasio atas perintah self mechanism terhadap ketakutan-ketakutan eksistensial. Dan inilah hidup. Volatilitas denyutnya selalu pada kisaran punah dan punah.

Spasial dalam rentang kepunahan itu kehidupan (life in general) yang diisi dengan arsiran hidup (life). Hidup adalah mengarsir rentang yang kosong. Arsiran adalah katalog jejak pengalaman hidup  yang dibatasi durasi sejauh mana pengarsiran itu berhenti.

Jabaran matematis ruang di atas mengintroduksi simplisitas kompleksitas-kehidupan. Dengan mencangkok sebait kalimat filsuf Jerman, Wilhelm  Dilthey, “life is a part of life in general. But this is what is given in experience [Erleben] and understanding [Verstehen]. Life in this sense covers the whole extent of  the objective spirit, in as far as it can be reached [zugänglich]throuh experience [Erleben]”. Rentetan agregasi poligonal Erleben dan Verstehen mendetak sirkulasi hidup. Sirkular hidup berarti, dalam aforisma Henri Bergson, an openess to time. Erleben terekstraksi dalam bilik-bilik rasional dan metafisika. Tendang-tuburukkannya mengunjung pada Verstehen. Pijar-pijarnya dibungkus dalam semacan aksioma kuno, experentia est rerum magistra. Logos psikologis menambah bahwa riak-riak trace hidup subjek membentuk watak.

Trace hidup membekaskan garis-garis zig-zag dalam landscape kehidupan. Garis-garis tersebut memanifestasi usaha-usaha manusia untuk bergulat dengan kehidupan. Usaha-usaha tersebut membentuk dalam kesatuan idea. Idea pun lahir dari kandungan Erleben (human experience) yang dimulai dari usah-usaha mengatasi keterbatasan manusia. Menurut filsuf David Hume, “all ideas derive from a corresponding impression and, consequetly, every given impression is reproduced in an idea which perfectly represents ‘it’”.

Setiap Erleben menjungkir balik pikiran manusia hingga menimbun kesan dalam subjek. Resultante pemahaman atas kesan di balik sebaran idea membentuk human knowledge. Sebaran idea ini dihubungkan dengan imagination. Di sini, Gilles Deleuze menulis imagination sebagai “things are as they appear-a collection without an album, a play without a stage, a flux of perception. Seolah imagination mempunyai kenyataannya sendiri. Ia ada dalam adanya persepsinya sendiri. Atau dalam rumusan Berkeley, esse est percipi.

Deleuze menambahkan “percepts aren’t perceptions, they are packets of sensations and relations that live on independently whoever experiences them” (Inna Semetsky, 2003:3). Dan empirisme Hume human reason sebagai impression, affection and feeling. Artinya human reason terekstrasi dari pikiran yang reflexive. Reason pun perlu dibedakan dengan mind. Mind bukanlah reason. Delueze dalam Empirism and Subjetivity melihat reason sebagai an affection of the mind. Dalam hal ini, reason dapat disulut dalam instinct,  habit atau nature. Dan slogan empirisme Hume pun mengembang dalam premis no impression, no idea.


Meski berbeda, Rene Descartes dan David Hume sama-sama menilik pikiran sebagai subjek materi pembahasan. Rasonalitas Cartesian beradorasi pada thinking. Descartes doubt everything except that  he is thinking (Hsing-hao Chao, 2003:81). Dikatakan bahwa untuk menvalidasi human knowledge dan mengatasi semua keraguan (multilema) dan ketidakpastian dalam hidup, manusia harus memulainya dengan proposisi cogito ergo sum.

Thinking menjadi  infantri dalam garis general in life. I think therefore I am. Segala sesuatu menjadi nihil tanpa cogito. Hidup pun menjadi, dalam istilah Sartre, une passion inutile (suatu gairah yang sia-sia).  Dan cogito, yang menjadi titik tolak filsafat, merupakan kesadaran akan dirinya sendiri.

Dan dalam pada itu, sebagai ens cogitan, manusia masuk dalam jebakan ini, rasionalitas Cartesian dan empirisme Hume. Jebakan-jebakan ini adalah opsional dan fakultatif. Meski bukan keyakinan setiap orang boleh memilih alur-alur jebakan ini atas dasar rasionalitasnya. Ens cogitan tak mungkin lepas dari jebakan ini, meski bukan sebuah  ens necessarium. Dan seperti Deleuze, manusia boleh bilang, “i have always felt that i am an empiricist, that is”. Atau boleh jadi, cogito ergo sum.

Dan dari semuanya itu, dapat dilihat bahwa proses berpikir sangatlah penting. Tanpa kesadaran berpikir hidup mungkin tidak layak dijalani. “Thinking as the use of knowledge and reasoning to solve problems and plan and produce favorable outcomes, the answer is, apprently, yes” (Michael R. LeGault, 2006:5). Berpikir membantu manusia untuk lepas dari perangkap ke-naive-annya. Pesannya adalah sapere aude!!!


Jogja, 07 September 2010

Alfred Tuname

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.