Melihat Pancasila Sepanjang Jalan, Melihat Indonesia

Bagong Julianto, Sekayu-Sumsel


Pancasila adalah pandangan hidup kebangsaan Indonesia. Kandungan nilai yang termuat di dalamnya, jika diamallaksanakan sungguh menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang berwibawa bermartabat berkemuliaan dan berkejayaan.

Tapi apa yang terjadi adalah jauh panggang dari api. Jauh sate dari lidah. Adapun banyak sate, jauh lebih banyak penjarah yang mengerubunginya. Pancasila telah dilupakan. Memang kita membangun (jalan, gedung dan sarana publik lainnya) namun pada saat yang bersamaan kita sering lupa bagaimana cara merawat dan memeliharanya. Pancasila hanyalah sederet kata-kata.

Tugas kita sebagai bangsa adalah menjalankannya. Pada saat dipolitisir, deretan kata itu seolah menjadi ajimat sakti. Dengan menuliskannya di gapura kota, seolah kita telah berpancasila. Pada saat rezim pemolitisir Pancasila runtuh, maka runtuhnya gerbang kota berpancasilapun gak ada lagi yang hirau.

Selamat jalan. Anda telah meninggalkan kota berpancasila, seolah menjadi peringatan anda telah meninggalkan Pancasila. Juga melupakan 10 Pokok Program PKK. Apakah itu? Jargon kosong? Atau jargon yang dikosongkan? Generasi jadul, pasti ada mendapat mata ajaran 10 Pokok Program PKK. Namun toh pada saat yang bersamaan (ada) banyak kemunafikan yang berujung pada anggapan dan pernyataan bahwa para pemimpin kita adalah deretan kaum piawai berjargon bersemboyan.

Semuanya berjargon dan saling berlomba pula menafsirkannya demi kepentingan kuasa politiknya. Pada hari pertama berjargon, pada hari berikutnya: lupakan saja jargon itu! Lain hari, ingat dan ucapkan jargon itu! Sebatas berucap saja.  Istilah kerennya: berwacana.

Demi kepentingan (sesaat dan kelompok) maka pembangunanpun terus berlanjut. Mbangun gapura, membangun simbol , menandai batas area kekuasaan daerah maupun perusahaan. Merawat dan koordinasinya?! Lupakan saja! Anggaran yang ada (dan besar serta kuantitatif untuk dikorupsi) adalah anggaran pengadaan dan pembangunan. Anggaran pemeliharaan kecil atau bahkan tidak ada.

Tidak sekali kita menjumpai fakta: kita adalah bangsa pembangun dan bukan bangsa pemelihara. Apapun kita bangun. Apapun kita jargonkan. Apapun kita semboyankan. Dilombakan pula! Kota Beriman. Kota Berseri. Kota Bertuah. Kota Smart dan seterusnya. Gak ada yang berani bersemboyan: Kota Bersih, Aman dan Unik. Kota BAU! Pemeliharaan dan perawatannya? Jika gak bisa dikorupsi, lupakan saja! Selamat datang selamat berjalan-jalan di bumi korupsi: Indonesia!

Semboyan kita bersama adalah: Lanjutkan!

(Bukan Lanjutkan Pemberantasan Korupsinya ternyata, tetapi Lanjutkan Korupsinya! Ampuni koruptornya!)

Sampunnnnnnnn. Suwunnnnnnnn. (BgJ, 092010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.