[Mengunjungi Tanah Leluhur] Bagian 3: Perjalanan ke Wu Jing

Handoko Widagdo – Solo


Kami meninggalkan terminal Kota Shangri La tepat jam 10 pagi. Li Hwa adalah pengantar kami. Li Hwa adalah seorang Tibet yang berasal dari kampung Katholik. Li Hwa menjelaskan bahwa ada dua kecamatan Katholik di Tibet. Seluruh penduduknya Katholik, namun adat istiadatnya tetap Tibet. Dia juga menjelaskan bahwa di Lhasa ada juga komunitas Muslim yang sudah sangat tua.

Mereka tidak berbeda dengan orang Tibet lainnya kecuali tidak makan babi. Li Hwa juga menjelaskan bahwa sesungguhnya budaya orang Naxi adalah sama dengan orang Tibet. Hanya saja mereka tidak berpindah menjadi Buddha. Mereka masih mempertahankan agama Tibet pra Buddha. Memang prinsip utama orang Tibet adalah HARMONI. Itulah sebabnya mereka bisa hidup berdampingan dan saling menghargai.

Perjalanan kami awali dengan menuruni bukit-bukit yang dibalut kabut. Di beberapa tempat kabut bahkan meluber sampai ke jalan, sehingga jarak pandang PRADO yang kami tumpangi hanya beberapa meter saja. Di antara bukit-bukit tersebut ada juga pemukiman. Desa-desa tersebut dihuni oleh beberapa rumah sangat besar. Li Hwa menjelaskan bahwa satu rumah besar bisa dihuni oleh 4 generasi, dari kakek-nenek sampai cicit. Mereka adalah penanam barley dan turnip, serta peternak YAK.

Setelah satu setengah jam menyusuri bukit, perjalanan kami selanjutnya adalah mengikuti aliran Sungai Chang Jiang (jiang = sungai) sejauh tiga puluh menit dan selanjutnya bertemu Sungai Jing Sha, yang merupakan hulu dari Sungai Yangtze. Pemandangan sepanjang Sungai Jing Sha sungguh luar biasa. Latar jauh berupa bukit-bukit yang dihiasi kabut, sisi sungai yang penuh dengan tanaman jagung dan diselingi bunga matahari.

Kami berhenti di Jing Jiang, sebuah kota kecamatan untuk makan siang. Kami ke restoran Muslim. Setidaknya ada dua restoran Muslim di kota ini. Mereka adalah Suku Hui yang berasal dari Dali.

Meskipun ini restoran Muslim dan pasti free babi, namun alkohol adalah halal. Buktinya mereka menjual alkohol di sini. (Sama dengan di Simalungun dan Tanah Karo, Sumatra Utara, disana restoran muslim selalu diberi tanda dan dinyatakan 100% halal, tetapi menyediakan bir bintang. Jadi bir adalah halal di dalam restoran tersebut.)

Jenis makanan yang mereka sajikan tidak berbeda dari makanan yang kami dapati di semua restoran di wilayah ini.

Dari kota Jing Jiang kami melanjutkan perjalanan mendaki mengikuti Sungai Jing Sha. Aliran Sungai Jing Sha yang awalnya lambat dan landai, sekarang kelihatan garang. Alirannya sangat deras dan di beberapa lokasi tampak curam. Setelah tiga jam perjalanan sampailah kami di Kota Wu Jing. Kami menginap di penginapan milik Pemda. Penginapannya bersih dengan fasilitas minimal.

Kehidupan di Wu Jing juga berada di sekitar sungai. Mereka menanam jagung dan buah walnut, memanen jamur liar, selain beternak.

Perjalanan balik dari Wu Jing dalam cuaca cerah. Kabut yang menyelimuti bukit-bukit di seberang sungai tak ada lagi. Kini aku bisa menyaksikan bahwa masih banyak gunung di balik gunung. Bahkan di suatu tempat, kami bisa melihat puncak gunung yang berselimut salju.



About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.