Saya Bukan Asli Dari Manapun

Anwari Doel Arnowo


Senin, 17 Maret 2008

Sebaiknya sejak sekarang kita, semua manusia Indonesia, kalau saja tidak dikatakan terlambat, saya usulkan agar mengurangi dan lebih baik lagi sesedikit mungkin menggunakan kata asli dan tidak asli, pribumi dan asing dalam membicarakan masalah ras manusia. Biarkanlah saya mencoba menguraikannya di bawah ini, dengan menggunakan cara saya.

Seperti biasa, apapun juga,  kalau saja kita tidak mengingatnya dan juga tidak menggunakannya maka akan dengan sendirinya hilang dan mungkin sekali akan bisa lenyap.

Pertama-tama saya ingin mengingatkan bahwa Republik Indonesia ini dimaklumatkan dalam Proklamasi Kemedekaan yang dibacakan pada 17 Agustus 1945, pada saat itu semua orang sudah paham dan  tahu bahwa kita, manusia yang berdiam di Nusantara, berjumlah sekitar tujuh puluh juta orang, yang berdiam menjadi penduduk dan otomatis menjadi warga dari Negara Indonesia, Republik Indonesia. Siapa bisa membantah bahwasanya  Pemimpin Bangsa Indonesia saja, telah disebut sebagai Sang Dwi Tunggal terdiri dari: Soekarno yang orang Jawa campuran Bali dan Mohammad Hatta yang orang asal dari Sumatera Barat. Ada tokoh-tokoh terkemuka seperti Mr. Muhammad Natsir, Sjafrudin Prawiranegara dan Muhammad Yamin serta Mr. Wongsonegoro dan Djuanda serta J. Leimena dan Siwabessy serta Tjilik Riwoet dan ribuan yang lainnya. Ribuan Tokoh asal dari daerah-daerah berlainan!!

Dengan perbedaan berupa ratusan bahasa daerah dan suku bangsa, semua telah bertekad menyebut dirinya sebagai orang Indonesia, manusia Indonesia dan tidak lagi menonjolkan suku bangsa asalnya, kecuali dalam masalah budaya dan kebiasaan.

Yang mempunyai, segera memasang di bagian dadanya logo kecil, menggunakan peniti kuno/tradisional, bendera kecil: merah putih !! Bertemu satu sama lain menggunakan kata seru, berupa pekik Salam Nasional kita: MERDEKA. Saya juga menggunakannya pada setiap hari dalam hampir pada setiap kesempatan bertemu dengan teman-teman saya. Biarpun orang lain beranggapan bahwa saya kelihatan sok  nasionalis, biar saja saya sok nasionalis. Sikap seperti ini tidak melanggar peraturan atau undang-undang yang manapun. Toh itu adalah salam nasional kita!!

Saya juga sering sekali memasang emblem merah putih dibuat dari logam dan peniti modern yang ditancapkan saja, di baju di arah dada saya, bahkan di topi saya. Itu saya pakai ketika saya berada di mana-mana saja, di negeri sendiri dan di luar negeri. Kadang-kadang saya tancapkan juga di jas saya pada acara resmi. Saya juga memakai cincin, meskipun tidak setiap hari, sebuah cincin yang ada batuannya berwarna merah dan putih. Karena teman-teman dan kenalan saya juga bersifat bhinneka, campur aduk adat dan agamanya, kalau ada yang memberi salam dengan shalom, asalammu alaikum, atau seruan salam agama dan adat lain dalam bahasa lain, saya sering menjawab dengan: MERDEKA.

Sekali lagi, hal ini tidak melanggar peraturan dan undang-undang apapun. Meskipun di luar negeri, di manapun tidak pernah ada polisi mengingatkan saya, tidak ada ulama yang marah, dan yang penting teman-teman saya juga belum ada yang marah. Jadi saya ambil kesimpulan sendiri: bahwa saya sesungguhnya bukan sok atau tidak pongah apalagi mempunyai sifat sombong.

Beres deh, pokoknya beres, urusan beres, saya senang-senang saja.

Mengapa saya berpayah-payah menuliskan hal-hal ini?

Iya, mengapa?

Saya ingin para pembaca dan para generasi selanjutnya mau mengerti bahwa hal-hal yang disebut nasional, penggolongan, pengelompokan dan pembentukan gerombolan manusia itu selalu dilatar-belakangi oleh kepentingan sesuatu dan tertentu pula. Dalam  urusan seperti ini, kan kita harus pandai dan harus selalu bersikap bijak.

Hampir semua soal, semua masalah dan segala akibat negatif yang timbul itu, hanya karena terlalu amat kentalnya mengambil sikap nasionalis, sikap menggolong-golongkan, sikap berkelompok-kelompok, sikap bergerombol-gerombol.

Apapun di dunia ini kalau terlalu begini atau terlalu begitu, akan berakibat negatif. Termasuk terlalu berhati-hati dalam bertindak sehingga kehilangan kesempatan yang melintas di depan mata. Terlalu kental yang negatif dan terlalu kental memandang kepentingan sendiri saja, menyebabkan akibat yang amat tidak diharapkan sama sekali. Saya melihat bahwa sifat ingin menggolong dan menggerombol itu tidak dapat dihindari, akan tetapi bisa dikurangi kekentalannya, keterlaluannya. Bersikap moderat adalah salah satu jalan untuk bisa berjalannya kehidupan dengan aman. Tidak ekstrim dalam berpikir dan bertindak, bisa menghemat tenaga dan pikiran serta bisa membantu perdamaian dalam menempuh kehidupan sosial.

Apa yang saya alami selama ini tergambar dalam kehidupan bersama di banyak negara. Di Amerika Serikat, masyarakat di sana disamakan dengan istilah The Great Melting Pot-Belanga Masak Yang Besar Isinya Campur Baur.

Adapun maksudnya adalah begitu banyaknya jenis dan ras manusia bermukim dan hidup bersama di sana, mereka itu seperti campuran semua isi masakan yang sama-sama dicampur di dalam sebuah belanga masak. Saya melihat yang seperti ini ada di Toronto, Ontario, di Singapura dan jangan lupa ada di Indonesia. Kalau anda tinggal di negara-negara itu, apabila anda hidup bertetangga serta sering berjumpa dengan orang India, orang Mexico dan Cuba di samping warga kulit putih maka hal itu adalah biasa.

Sama apabila anda berjumpa dengan orang asal Mongolia dan Jepang atau Taipei dan Sri Lanka. Di Indonesia anda berjumpa dengan orang Ambon, orang Madura dan orang Batak serta orang Dayak, tak terhitung jumlahnya. Orang Jawa saya duga jumlahnya sudah mencapai setengah orang Indonesia sekarang,  sedang bangsa “belanda asli” itu mungkin tinggal kurang dari lima puluh persen dari jumlah seluruh penduduk negaranya.

Penduduk Toronto yang telah menjadi warga negara selama enampuluh tahun lamanya, sekarang tinggal sekitar 45%. Hanya  empat puluh lima persen dari seluruh penduduk yang ada karena telah didominasi oleh para pendatang, termasuk diri saya sendiri. Singapura sebenanya adalah sebuah pulau yang kosong, dan para pendatang yang sekarang penduduk aslinya didominasi oleh mereka yang disebut berasal dari ras Mongolia.

Mereka ini sekarang menyebut dirinya sendiri dengan bangga sebagai Singaporean dan kurang menyukai apabila disebut sebagai Chinese. Singaporean saja titik. Sama seperti saya, lebih suka disebut orang Indonesia, demi perwujudan dari sikap Persatuan Indonesia. Kesukaan saya seperti itu tidak boleh berlebihan, karena sesungguhnya saya adalah orang yang berasal dari suku bangsa Jawa, itupun dari Jawa Timur dan lahir di kota Malang. Kalau ada kepentingannya, saya tentu tak akan keberatan kalau disebut sebagai orang asal kota Malang.  Malah saya tambah dengan asli lahir di Temenggungan Gang II di daerah Djodipan. Itu semua bukan saya sembunyikan, akan tetapi sekali lagi demi rasa persatuan, saya lebih nyaman untuk disebut sebagai orang Indonesia.

Asli?

Nanti dulu!! Sabarlah sampai anda membaca yang di bawah ini.

Mari kita tinjau asal muasal makhluk hidup yang disebut manusia. Sampai dengan hari ini pengetahuan kita terhadap asal muasal makhluk hidup berkaki dua, berjalan tegak lurus adalah seperti berikut. Pada sekitar 800.000 tahunan yang lalu di sebuah tempat di Afrika Selatan, dikenal makhluk hidup pertama (awal) berkaki empat dan berjalan setengah merangkak dan bermetamophosis menjadi berkaki dua buah dan bertangan dua buah pula. Mereka ini berjalan dengan meloncat-loncat dan akhirnya bisa berjalan seperti gorilla yang tinggi dan besar badannya. Makhluk seperti ini akhirnya setelah agak berbentuk seperti manusia sekarang, mereka mulai beremigrasi sampai di Timur Tengah dan terpecah menjadi tiga rombongan, dua ke arah Timur dan satu ke arah Barat.

Yang ke arah Timur “mengalir” ke arah Utara pegunungan Himalaya dan satu lagi ke arah Selatan pegunungan Himalaya. Yang melalui jalur Utara telah merupakan cikal bakal bangsa Mongolia: China, Ainu di Jepang dan Korea. Yang ke arah Timur dengan jalur Selatan menjadi asal muasal bangsa Sri Lanka, India, Pakistan. Indonesia telah didarati oleh mereka yang berasal dari jalur Utara (Mongolia China) maupun dari jalur Selatan (India dan lain-lain). Indonesia atau Nusantara itu dahulu adalah daratan yang bersatu dengan semenanjung Malaya, yang terjadi sebagai akibat dari terpisahnya bagian daratan Selatan Timur (Tenggara) benua Asia.

Karena pegeseran tanah di bagian inilah telah terbentuk bagian-bagian yang kita kenal sekarang sebagai Malaysia, Singapura dan Indonesia serta Australia. Melihat susunan peta geologi yang bergunung-gunung yang merupakan deretan mulai dari sekitar  negeri Iran terus ke Timur sampai di Himalaya dan sepanjang Malaysia serta pulau Jawa sampai ke Nusa Tenggara, maka sukar dibantah bahwa deretan ini berasal sebagai satu daratan. Barisan pegunungan yang ada di bagian Timur dari Nusantara ini mulai dari Papua ke Utara melalui  Filipina sampai ke arah Jepang juga merupakan satu deretan pegunungan.

Sedangkan alam Nusantara bagian Timur memiliki fauna dan flora yang mirip bahkan sama dengan Australia. Kalau anda bisa memainkan bagian Australia ini dengan mendorong ke arah Barat dan Utara (Barat Laut) anda akan melihat bagaimana Nusantara ini pantai-pantainya akan sesuai untuk didorong menjadi satu dan merupakan isi dari sebuah sandwich. Asia dan Autralia merupakan rotinya sandwich dan Malaysia serta Nusantara sebagai isi dari sandwich. Jangan lupa bahwa amat dipercayai bahwa semua benua: Asia, Australia Afika dan Amerika (Eropa bukan sebuah benua karena hanya bagian saja dari benua Asia) adalah gumpalan Tanah yang tidak tetap (“mengapung”). Semua benua ini dalam keadaan bergerak. “Pengamatan” sejarah petualangan benua ini juga telah dideteksi sejak miliaran tahun. Salah satu yang mutakhir adalah: Lautan Atlantik sekarang menyempit jaraknya (dari Afika dan Asia) yang menurut data terakhir menjadi dua ratus mil lebih pendek!!

Melihat pembelajaran geologi dan sejarah biologi seperti ini, saya berpikir tidak sepatutnya lagi saya ngotot (bersikeras) menyebut diri saya asli Indonesia. Orang Indonesia berasal dari keturunan India (dan daerah sekitar) serta dari China (dan daerah sekitar). Kalau saja anda sempat mengamati dengan teliti, banyak sekali adat istiadat Dayak Kalimantan dan Betawi yang mirip adat istiadat China, demikian pula halnya kata-kata yang mereka gunakan di dalam bahasa Dayak dan Betawi.

Di Kalimantan Tengah bagian Barat ada daerah yang di sebut Parit China. Daerah Parit China itu terletak di Kabupaten Pangkalan Bun, yang adat istiadat penambangan emasnya, dengan cara mendulang emasnya, sama persis dengan yang telah dilakukan oleh nenek moyang bangsa China dahulu kala.

Itulah pendapat saya dan khususnya mengenai asal usul nenek moyang, saya tidak berani dengan seratus persen mengatakan bahwa yang menjadi nenek moyang saya adalah asli Indonesia. Ingat mengenai Putri Champa di daerah Blora, Jawa Tengah dan berapa banyak para anggota Wali Songo yang telah diduga dengan kuat sekali sebagai keturunan China. So what? Bagaimana dengan Hang Tuah di daerah Melayu? Apa pula pasalnya?

Apa sih gunanya mendalami asal keturunan?

Saya menginginkan, betapa tidak mungkin sekalipun, agar semua manusia ini hidup berdampingan dan damai, mengingat bahwa kita ini dari satu asal. Di dalam agama yang manapun, yang umurnya baru sekitar dua ribu tahunan (tidak lebih), didengung-dengungkan  bahwa kita semua turunan dari seorang nabi bernama Adam. Lepas dari kontroversialnya masalah nabi Adam, kita mengerti bahwa pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa manusia berasal dari asal yang sama. Bukan hanya keturunan Nabi Ibrahim saja dalam mempercayai asal keturunannya yang sekarang menjadi bangsa Arab dan Yahudi. Jauh sebelum waktu itu sudah ada manusia karena metamorphosisnya telah memakan waktu yang ratusan ribu tahun. Itu semua masih jauh lebih muda daripada riwayat geologi yang membuktikan bahwa alam semesta termasuk  Planet Bumi ini telah terbentuk sejak enam miliaran tahun yang lalu.

Kita harus memanfaatkan beradanya makhluk manusia dan makhluk-makhluk penunjang hidup yang lain berupa fauna dan flora dalam memelihara tempat tinggal kita, Planet Bumi. Kalau kita tidak pernah mau damai, saya bisa memastikan bahwa apa yang disebut oleh agama-agama sebagai periode kiamat, adalah sesuatu yang akan datang lebih cepat. Perusakan lingkungan hidup di Planet Bumi sebagian besar adalah karena ulah manusia sendiri. Ulahnya ini dipicu oleh keserakahan dan bisa sekali karena adanya isu (issue) asli dan tidak asli, pribumi dan asing. Juga adanya sikap: aku lebih berhak tinggal dan berkuasa di sini, karena aku adalah pribumi dan aku adalah asli. Sikap seperti ini adalah sikap salah yang keblinger dan  dan sempit luas horisonnya. Asli dan kurang asli atau malah tidak asli, terbukti telah banyak memicu peperangan dan pembunuhan serta permusuhan antara manusia satu sama lain sepanjang sejarah.

Masihkah kita perlu membeda-bedakan diri satu dengan yang lainnya sebagai manusia?? Hitam, putih, coklat, kuning dan merah? Atau ada masih ada yang lain??


Anwari Doel Arnowo

Senin, 17 Maret 2008


Ilustrasi: skyscrapercity.com


20 Comments to "Saya Bukan Asli Dari Manapun"

  1. saras jelita  14 October, 2010 at 11:30

    Dalam hal apapun, campur sari itu nikmat toh ma’kasih buat pencerahannya ya ADA

  2. Djoko Paisan  13 October, 2010 at 01:04

    Nami Kulo Daniel Bagus Trisnoadi, tiang Jawi Jerman ( JaJer )

  3. Djoko Paisan  13 October, 2010 at 00:58

    Cak Doel ….
    Terimakasih ya…..
    Dj. ambil kesimpulan dari tulisan diatas, adalah gado-gado…
    Walau bermacam-macam sayuran tapi satu rasa…!!!
    Salam MERDEKA….!!!

  4. Silvia  12 October, 2010 at 21:27

    Apik.

  5. Kornelya  12 October, 2010 at 20:43

    Pa Anwari segregasi berdasarkan kewarganegaraan, etnis atau keluarga, baik bila digunakan secara positif, tanpa merugikan orang lain. Namun mengklaim “Asli” dan merasa superioritas itu yang harus ditinggalkan. Di Indonesia banyak konflik antar etnis terjadi karena kecemburuan sosial antara penduduk yang mengkalim “Asli” dengan “pendatang” (transimigran , imigran). System KTP Indonesia yang hanya berlaku lokal (kabupaten) yang membatasi dimana orang boleh tinggal mempunyai andil dalam kerusuhan. Salam!!

  6. Handoko Widagdo  12 October, 2010 at 20:31

    Koreksi Om, nama kabupatennya adalah Kotawaringin Barat, ibukota Pangkalan Bun. Pangkalan Bun sendiri mungkin (konon) diambil dari nama seorang bandar China bernama Bun.

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  12 October, 2010 at 19:39

    Salah Mea..orang kulit putih itu etnocentris. Merasa budayanya lebih unggul. Kalau tak punya perasaan itu, mana bisa menjajah. Buktinya orang Jawa nggak bisa menjajah, meski dipaksa-paksa…

  8. Mea  12 October, 2010 at 18:06

    bener Om Swan Liong, semua budaya ga tau dari suku apa saja, dari negara mana saja, kedudukannya sama. Tidak ada yg bisa mengklaim kalau budayanya lbh baik dari budaya yg lain… begitu kata dosen saya di kampus….

  9. Swan Liong Be  12 October, 2010 at 17:30

    Menurut pendapat saya, sah² aja kalo orang merasa berasal dari salah satu suku di Indonesia seperti suku batak, suku Ambon , suku bugis,suku dayak dsb. dengan kebudayaan chasnya yang beraneka ragam. Memang kenyataanya begitu.
    Yang paling penting yaitu kita semua mempunyai rasa respek terhadap kebudayaan masing² dan tidak menganggap sukunya superior terhadap suku lain, tidak saling mencurigai. Yang harus dijadikan prioritas pertama yalah sesama manusianya,bukan suku asalnya karena dalam suku mana kita dilahirkan itu diluar pengaruh kita, tapi bagaimana kita bisa hidup rukun itu berada dalam pengaruh kita.

  10. Jhony Lubis  12 October, 2010 at 15:32

    Konotasi negatif dari suku-isme, genk-isme, kelompok-isme krn sejarah prilaku buruk saat ini… padahal dulu sebagai gerakan positif seperti jong sumatra, jong java dll (tanya bung ISK ahli sejarah Baltyra) lagipula secara alamiah, manusia akan mencari kelompoknya dengan kesamaan tertentu…. seperti suku, bangsa dll…. tidak masalah selama tidak menganggu individu lainnya…

Terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)