Kasteel van Laken

Nunuk Pulandari


Teman-teman, kebetulan waktu saya sedang mengedit foto-foto yang ada di komputer, saya menemukan beberapa foto tentang Istana Laken.  Saya teringat waktu pergi melihat-lihat indahnya “De Wintertuin” taman musim dingin, yang ada di sekitar Istana Laken bersama dengan Jeng Dewi (Ekonoom yang berasal dari Undip), anak perempuan saya, Lei dan mbak Tina.

Istana Laken adalah salah satu tempat tinggal keluarga kerajaan Belgia. Luas kompleksnya secara menyeluruh meliputi 160 ha dan didirikan sejak tahun 1831. Istana Laken terletak di sebelah Barat Laut, tidak terlalu jauh dari jantung kota Brussel. Istana ini merupakan bagian dari sejumlah pemberian hadiah bagi Raja Belgia. Saat ini Istana Laken menjadi tempat tinggal Pangeran Filip dan Puteri Mathilda sekeluarga.

Teman-teman  setelah membeli karcis (kaartjes) dan masuk ke dalam kompleks, kita segera dapat melihat pemandangan indah di sekeliling Istana Laken.  Dengan  taman yang sangat menawan hati yang berada di lingkungan alami nan berbukit dan luasnya meliputi 14.000 m2,  sama besarnya dengan luasnya kerajaan Monaco, tentunya kita tidak akan pernah bosan untuk berjalan-jalan sambil menikmati keindahan yang mempesona.

Suatu taman yang juga dijadikan percontohan dengan pemandangan yang sangat alami. Di dalam taman ini terdapat  antara lain:  sebuah pagoda China, sebuah tempel, satu kompleks oranjerie, gua-gua, pulau yang romantic dan “serres”. Sebuah “Serre“ adalah suatu kompleks rumah-rumah kaca yang terdiri dari bangunan-bangunan berbentuk “koepel” kubah yang disangga oleh tiang-tiang besi baja (lihat bangunan koepel di bawah) . Untuk menghubungkan antar bangunan  yang ada diciptakan serambi-serambi yang berdinding dan beratap kaca.

De Koninklijke Serres van Laken ( kamar-kamar kaca Istana Laken), adalah sebuah kompleks  yang sangat besar..  Serre  yang terletak di dalam kompleks istana Laken ini, kamar-kamar kacanya dibangun dengan gaya Art Nouveau. Gaya bangunan Art Nouveau adalah suatu gaya bangunan yang sangat penting  pengaruhnya dalam seni arsitektur yang struktur tiangnya banyak menggunakan besi baja.

Arsitektur bergaya besi baja ini sangat singkat (keberadaannya) tetapi pengaruhnya sangat besar dan hebat di seluruh Eropa pada abad ke 19.  “Serre” ini didirikan oleh  arsitek Alphonse Balat atas perintah Raja Leopold II. Rumah-rumah kaca ini pada awalnya dibangun sebagai suatu symbool yang mengingatkan kekuasaan raja Belgia pada masa Kolonial di Kongo. Daaann salah satu bangunan yang tepenting dari “serre” yang ada dinamakan: De Wintertuin. Taman musim dingin.

De Wintertuin adalah sebuah Taman Musim Dingin yang merupakan sebuah kompleks besar yang dipenuhi dengan kamar-kamar kaca.

Kamar-kamar kaca ini memiliki berbagai konstruksi yang terdiri dari besi baja dan kaca. Konstruksi besi baja dan kaca ini satu dengan yang lainnya dipasang dengan kecerdikan yang luar biasa sehingga terbentuk sebuah koepel (kubah) yang tinggi. Kamar-kamar kaca ini saling berhubungan melalui serambi-serambi yang uniek. Uniek karena seluruh serambi di isi (ditumbuhi) dengan berbagai tanaman musim panas. De Wintertuin adalah kamar kaca terbesar yang diameternya meliputi 60m dan memiliki ketinggian 30m. Karena besarnya yang luar biasa di dalam kamar kaca ini dapat ditanami pohon palm dari Kongo yang sangat tinggi. (lihat pohon palm tinggi di bawah)

Kamar-kamar dan serambi kaca ini selain dibangun dengan maksud sebagai lambang-lambang kekuasaan Belgia atas negeri jajahannya Kongo di masa lalu,  juga jenis tanaman yang ada didalamnya  memberikan ilustrasi kekuasaan Belgia.

(Koepel di Taman musim Dingin, Wintertuin)


Pada masa kini De Wintertuin yang ada di Istana Laken  berfungsi sebagai suatu dekor yang luarbiasa indahnya untuk menerima tamu-tamu kerajaan. Di samping itu di setiap musim semi, De Wintertuin dibuka untuk umum selama 3 minggu. Biasanya dibuka pada pertengahan bulan April sampai minggu pertama bulan Mei. Dan tahun 2010 ini dibuka dari tanggal 15 April sampai 9 Mei yang lalu.

Bunga Burung Nirwana

Di antara jenis tanaman yang ada di dalam kamar-kamar kaca De Wintertuin,  juga terdapat tanaman yang sudah ditanam sejak masa kekuasaan Leopold II. Koleksi jenis tanaman musim panas (karena kamar-kamar kaca ini dipanasi di musim dingin) sangat beraneka ragam.


Pot-pot antiek dari beberapa abad yang lalu.

Berbagai jenis, bentuk  dan warna tanaman dapat dilihat di sana. Seperti misalnya tanaman: bunga azalia, pohon pisang, pohon bambu, bunga Camelia Jepang, bunga sepatu, bunga fuchsia, bunga hortensia, bunga melati dari kepulauan Kapstad, pohon-pohon palm,  simbar menjangan, bunga rhododendrons, bunga mawar, bunga burung nirwana, bunga angrrek dan sebagainya.

Yang sangat menarik untuk saya dari De Wintertuin adalah beragamnya corak warna tanaman bunga yang ada di sana. Kadang dari satu jenis tanaman bunga bisa ditampilkan lebih dari 6 warna dengan sentuhan species yang khas.

Di dalam De Wintertuin ini juga terdapat beberapa jenis tanaman yang banyak bisa kita temukan di Indonesia.

Misalnya: Pohon Pisang, Pohon Bamboes, Bunga Melati, Bunga Sepatu, Tanaman Simbar Menjangan. Pohon Palm yang tumbuh berdampingan dengan tanaman bunga.

Sayangnya karena keasyikan menjepretkan camera, saya tidak sempat dan lupa mencatatkan nama negara dan data lainnya dari tanaman-tanaman tersebut di atas. Tetapi ada yang membisikan di telinga saya bahwa tanaman itu merupakan hadiah Pemerintah Indonesia di jaman Pak Karno.

Kalau saya tidak salah melihat pada saat itu, pohon palm di atas adalah pohon Pinang seperti yang kita kenal di Indonesia.

Di salah satu lorong yang panjang bisa kita lihat koleksi berat  bunga Rhododendrons dengan berbagai besaran bentuk dan warnanya.

Kita bisa melihat misalnya bunga Rhododendrons dalam koleksi warna merah, oranje, kuning, putih, ungu, ros. Dalam foto tampak Lei yang tertawa terpingkel-pingkel karena mendengar joke dari ahli ekonoom Semarang tentang bunga ini.

Berjalan di antara tanaman dan pepohonan yang rimbun kadang menimbulkan pertanyaan seperti: ”Kapan kita bisa mengelola kekayaan alam kita menjadi komoditi wisata yang dapat menghasilkan devisa untuk memajukan bangsa Indonesia”. Tanaman pohon palm, pohon kelapa dan pohon pisang juga terwakili di dalam “koepel” yang tinggi.

Berbicara tentang pohon pisang saya ingat salah satu pepatah yang mengatakan bahwa: Pohon Pisang tidak akan mati sebelum meninggalkan anaknya. Suatu ungkapan dengan makna yang sangat mendalam mengingat berbagai kegunaan dan fungsi pohon pisang yang ada dalam masyarakat kita. Tidak ada salahnya untuk menerapkan filsafat Pohon Pisang dalam kehidupan kita. Juga tidak ada salahnya untuk menuliskan sebanyak mungkin artikel sebelum Sing Nduwé Donyo memanggil kita kepangkuanNya. Dengan lambaian tangan jeng Dewi dan senyuman Lei terucap kata:

“Tot weer schrijven en doei”

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.