Kena Tangkap Sang Peramal

Dian Nugraheni


Setiap hari, berangkat dan pulang kerja, aku selalu lewat jalan yang sama.

Pagi jam 7 aku berangkat kerja, jalanan hanya ramai lalu lalang orang bergegas dan terkesan terburu-buru menuju stasiun bus atau stasiun kereta bawah tanah, masing-masing punya jadwal bus atau kereta tersendiri…

Pulang kerja, jam 4.30 an, juga banyak orang lalu lalang di sekitar terminal bus atau stasiun kereta, tapi dengan roman muka dan sikap yang jauh lebih santai, karena mereka akan pulang ke rumah, nggak perlu buru-buru amat, dong…

Nah, suasana sore begini, ketika aku lewat sepulang kerja, di kaki lima masih ada beberapa orang yang menjajakan dagangannya. Diantaranya pedagang tas, pedagang pernik-pernik seperti gelang dan kalung dari batu-batuan, penjual nasi Kebab, dan satu lagi, seorang peramal wanita yang biasanya duduk di kursi, di bawah pohon rindang….

Sekarang ini sudah masuk musim gugur, Fall, banyak hujan, dan angin keras menderu-deru…dingin menusuk sampai ke tulang…, otomatis, tidak banyak juga orang yang kongkow-kongkow di sekitar jalanan dan taman-taman…, alias lalu lalang cukup sepi…

Aku jalan pelan bersedekap menahan tempaan angin keras, sambil sedikit melamun-lamun.., tapi jangan tanya apa yang aku lamunkan, aku sendiri sudah nggak ingat…, he..he.., soalnya, berjalan sambil melamun sudah merupakan kebiasaanku…

Tiba-tiba aku dihentikan oleh wanita bertubuh tinggi dan agak tambun, “darling, my dear,…berhentilah sejenak…”

Refleks aku berhenti, menatapnya sambil tersenyum, “Yes, Mam.., what’s up..?”

“Duduklah sebentar, jangan khawatir, aku nggak minta bayaran darimu…” kata si wanita itu yang aku kenali sebagai peramal pinggir jalan.

Aku berhenti dan duduk di hadapannya, “Darling.., my dear…, your face smile, but your heart very sad…very sad…”

“Bolehkah aku lihat telapak tanganmu, aku akan membaca garis kehidupanmu, dan aku bisa menolongmu…, biar kamu bisa benar-benar tersenyum di wajah dan hatimu…” kata Sang Wanita Peramal.

Aku masih tersenyum, dan menggeleng, “No, Mam.., thanks a lot…, I know, maybe you can read my face, and you can feel my heart, also…, tapi, sungguh aku tidak ingin anda membaca garis tanganku…, karena aku sudah cukup mempelajari apa dan bagaimanakah diriku ini…, aku sangat menghargai tawaran anda, tapi.., maafkan aku.., aku tidak ingin…”

Sang Wanita Peramal menatapku dengan pandangan lembut, “Okay, Darling.., my dear.., ini kartu namaku, kalau kapan pun kamu butuh aku, dan aku nggak ada di sini, kamu bisa telpon, yaa.., I just want to help you…” kata Sang Wanita Peramal lagi…

“Okay, Mam…, thanks again, I’ll keep your name card…” kataku sambil menerima kartu namanya, Stephany namanya…, dan di kartu namanya tersusun “menu” yang bisa disediakan oleh Madame Stephany ini, yaitu Palm, Psychic, Astrology, Tarod Card, Anxiety/Depression, Reunite with Loved Ones, Relationship Issues, Chakra Balancing, dan Crystal Healing…hmmm…, lengkap juga yaa…

Hmm.., lha wong Madame Peramal ni gimana toh, wajah manusia kan macem-macem, ada yang wajahnya beringas tapi sorot matanya lembuuut…, ada yang berwajah lembut tapi ternyata tukang usil, ada yang berwajah garang tapi ternyata lembek kayak bubur…, he2..

Lha kalau aku tuh dari dulu memang wajahnya “memel” alias memelas.., apalagi kalau lagi nggak sengaja ngelamun, walah, tambah mesakno nemen (kasihan amat)…

Tapi…, wajahku yang “memel” ini adalah wajah yang memberi keberuntungan bagiku, lha wong jadinya banyak orang yang sayang padaku…, dan kata beberapa orang teman “wajahmu kuwi memelas, makanya orang-orang mau njahatin kamu jadi nggak tega, urung…lha wong belum dijahatin aja wes tampak memelas, apalagi beneran dijahatin..” …begitu…hixixixi…

Dan…, aduh, ngapain juga ngeliat jalan hidup dari garis tangan, entar kalau hasilnya jelek semua, malah menyurutkan semangat hidup…ya, nggak…

Banyak badai sudah datang padaku,

berkali-kali pelangi menghiburku,

bintang berkelip dan rembulan sering berbagi keindahannya denganku,

Matahari pun selalu bersedekah hangat untukku…

Jalani saja hidup apa adanya,

bekalilah dengan semangat menuju sesuatu yang lebih baik,

ikhlas, dan berbagi senyum tulus…


Maka, hidup akan terasa lebih indah…

Tak perlu baca garis tangan, Mam…

It’s my life…, my own life…


Salam Sang Peramal

Virginia,

Dian Nugraheni

Jumat, 01 Oktober 2010, jam 7.49

(Angin sungguh dingin di luar sana, menderu-deru ingin meruntuhkan dedaunan…)

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *