Mencoba Road Trip di Australia

Ijah – Adelaide


Minggu lalu saya dan tiga orang teman lainnya mencoba road trip di Ostrali. Ketika di Indo, saya senang sekali road trip. Kalau tidak dengan keluarga bisa jadi dengan teman-teman. Road trip kali ini memakan waktu 4 hari 3 malam dengan rute sejauh 2343 km, kira-kira setara dengan jarak Aceh ke Surabaya. Rencana road trip sendiri berawal dari obrolan ketika kami sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah di perpustakaan. Rencana yang awalnya iseng akhirnya bisa juga dilakukan. Tambahan ini bertepatan dengan mid semester break. Hmm… tidak ada salahnya sedikit merecharge batrei yang sepertinya sudah drop.

Langkah pertama adalah menyusun itenerary perjalanan kami.  Termasuk di dalamnya berapa jumlah peserta, jenis mobil apa yang disewa, di mana kami bermalam, rute yang dilalui apa saja dan juga menyusun menu makan. Dengan begitu kami bisa memprediksikan biayanya. Estimasinya adalah $1200. Katakanlah dengan peserta 4 orang maka masing-masing $300. Hmm lebih mahal sedikit jika kita menggunakan pesawat misalnya. Tapi tidak terlalu mahal dan layak untuk segera diwujudkan. Biaya tersebut sama dengan 20 jam kerja, dengan rata-rata gaji student mengerjakan pekerjaan-pekerjaan casual seperti cuci piring, cleaning atau pelayan restoran yang upahnya $15/jam nya.

Jumlah peserta, prediksi awal adalah 4 orang, kemudian menjadi 5 dan kemudian kembali menjadi 4 karena seorang teman mendadak harus mengikuti workshop di kampus. Jadilah saya, Riadi, Fabya dan Kristin. Hmm..kombinasinya tidak jelek, meski cuma dengan satu orang laki-laki kami yakin kami bisa secara kami biasa melakukan kegiatan outdoor sebelumnya. Tambahan ada tiga nationality, pasti seru jika mengobrol nanti dengan perbandingan keadaan di masing-masing negara. Sebelum berangkat, kami juga melakukan diferensiasi tugas. Riadi yang berpengalaman dalam road trip bertugas untuk mencari rute dan survey akomodasi. Saya bertugas menyusun menu makan dan belanja perlengkapan. Fabya bertugas packing perlengkapan, sedangkan Kristin bertugas memasak. Untuk driver, Riadi dan saya bergantian. Jika tidak menyetir, otomatis menjadi co driver yang tugasnya adalah membaca peta, memasang GPS, mendokumentasikan perjalanan dan melakukan booking akomodasi.

Untuk transportasi, kami menyewa mobil hybrid dengan pertimbangan irit bahan bakar, stabil dan nyaman dikendarai. Mudah karena matic, irit karena menggunakan teknologi hybrid, stabil dan nyaman karena tergolong mobil mewah. Semua kaca juga menggunakan fiber, jadi akan aman ketika jalan malam.

Pasalnya di Ostrali jalan malam sama dengan bertemu kangguru dan kemungkinan tertabrak kangguru adalah besar. Bisa dibayangkan kalau kaca mobil tidak menggunakan fiber, bisa hancur berantakan ketika tertabrak kangguru yang melintas. Kenyataannya dalam satu malam, kami bertemu dengan 8 bangkai kangguru di jalan untuk perjalanan dari Ballarat ke Adelaide saja.

Untuk lebih amannya kami juga memilih asuransi full coverage. Harganya hampir sama dengan sewa mobilnya sendiri yaitu $35/hari, sedang sewa mobil adalah $48/hari. Memang sedikit mahal tapi itu penting mengingat jarak yang kami tempuh lumayan jauh. Tambahan, ongkos memperbaiki mobil adalah mahal. Pendeknya apabila tidak diasuransikan sama saja dengan bunuh diri di sini.

Ada pilihan separuh asuransi, biayanya $25/hari tapi ada maksimal coverage yaitu $500 sedangkan sisanya akan kami bayar sendiri jika terjadi kecelakaan. Berhubung kami adalah pendatang dan ini pengalaman pertama, kami tidak mau ambil resiko. Karena tidak mau rugi, di awal Fabya dan Kristin sempat melontarkan ide untuk menabrakkan mobil sedikit ke pohon atau pagar pembatas jalan. Tapi urung kami lakukan karena dalam perjalanan kami mengalami sedikit ketidakberuntungan. Riadi menabrak batu ketika jalan mundur di Mt Hotham dan saya menabrak mobil orang ketika mundur di lampu merah di Ballarat. Kalau dipikir ini lebih karena kurang konsentrasi mengingat mobil kami dilengkapi dengan kamera yang bisa melihat situasi di belakang. Maklum kami berasal dari negara dunia ketiga jadi agak sedikit gamang dengan tehnologi dan kemewahan, alhasil lebih banyak mengandalkan ketrampilan mengemudi yang kadang-kadang kurang presisi hahahaha….

Persiapan ketiga adalah masalah akomodasi. Untuk akomodasi diputuskan menginap di caravan park. Di caravan park kami bisa memasak dan harganya lebih murah jika dibanding dengan motel misalnya. Tambahan di Ostrali untuk sekelas town atau kota-kota kecil, akomodasi yang paling umum adalah di caravan park, dan masing-masing caravan park diranking menurut bintang mulai 1 sampai 5.

Sebuah caravan park menyediakan akomodasi tiga jenis yaitu caravan yang umumnya tidak bisa disewa perhari, kabin yang bisa disewa per hari dan site untuk tempat parkir traveler yang mempunyai caravan sendiri. Kami memilih untuk tidur di dalam kabin. Kabin ini sudah dilengkapi dengan kamar mandi, ruang tamu, heater, meja makan, perlengkapan bbq dan dapur beserta kelengkapannya. Kamar tidur ada dua. Pertama, kamar tidur dengan double bed. Kedua, kamar tidur dengan bunk bed atau tempat tidur susun. Caravan park juga dilengkapi dengan fasilitas lain seperti penyewaan sepeda, penyewaan dvd, dapur umum, ruang laundry dan tempat bermain anak.

Di caravan park pertama, Swanhill Holiday Park di Swan Hill, tidak disediakan tempat bermain anak dan tidak diperbolehkan membawa hewan peliharaan. Di caravan park kedua, Porepunkah Bridge di Brigth ada tempat bermain anak dan diperbolehkan membawa hewan peliharaan. Selain itu juga ada persewaan dvd dan lokasinya indah karena terletak di pinggir sungai di kaki gunung. Beberapa pengunjung memancing di sungai tersebut. Ini adalah kabin terbaik kami.

Kami bahkan berpikir apakah petugas tidak salah memberi kunci kabin karena bagus dan mewah tapi dengan harga yg hampir sama dengan kabin pertama dan ketiga. Caravan park terakhir adalah yang paling parah. Tempat ini sudah kuno dan listriknya sering mati. Terpaksa kami tidak bisa memasak secara kompornya menggunakan kompor listrik. Untuk dinner kami terpaksa makan di luar, sedangkan untuk breakfast kami menggunakan dapur umum yang biasanya digunakan oleh para campers. Meskipun darurat, kami harus memasak mengingat kami masih memiliki bahan-bahan makanan dan itu adalah hari terakhir road trip kami.

Persiapan yang tak kalah penting adalah menyusun rute. Rutenya adalah hampir mengelilingi Victoria. Tujuan utama adalah bermain salju di Great Alpine yang ada di wilayah timur Victoria. Kami berputar mulai dari Adelaide, Murray Bridge, Swan Hill, Shepparton, Wangaratta, Bright, Omeo, Braindatte, Sale, Traralgon, Warragul, Melbourne, Ballarat, Horsham dan kembali ke Adelaide.

Wilayah Great Alpine nya sendiri dimulai dari Wangaratta sampai dengan Warragul. Di wilayah-wilayah tersebut berjejer gunung-gunung alpine alias gunung bersalju mulai Mt Buffalo, Mt Buller, Mt Beauty, Mt Stirling, Mt Hotham, Mt Baw Baw. Kami memilih Mt Hotham berdasarkan informasi bahwa untuk musim semi seperti sekarang ini, gunung tersebut yang paling banyak masih memiliki salju asli. Tambahan informasi, karena wilayah resort, selain salju asli juga ditambahkan salju-salju buatan.

Tujuan lain-lain adalah banyak seperti misalnya melihat tulip festival di Silvan, membeli pendant serpihan emas di Ballarat, foto di Melbourne CBD dan melihat wind farm yang ada di antara Ballarat dan Ararat. Tujuan lain-lain ini optional yang memang kami lewati dalam perjalanan. Untuk sopir seperti saya adalah diuntungkan. Saya bisa sedikit membelokkan arah ke tulip festival dan wind farm. Resikonya ditanggung sopir alias akan mengemudi sampai dini hari. Untunglah saya berkendara dengan teman-teman yang pengertian dan penyuka hal-hal baru sehingga semua ikut senang dan menikmati.

Agaknya memang perjalanan yang menyenangkan dengan orang-orang yang menyenangkan dan juga GPS yang menyenangkan bersama mbak era yang ramah. Era ini adalah nama pemandu GPS kami, dia menggunakan bahasa melayu. Saya dan Riadi memilihnya bukan karena kami orang Melayu, melainkan dalam bahasa Melayu perintah-perintah GPS lebih singkat dibanding dengan bahasa inggris Ostrali. Kami menyobanya dengan suara Catherine, ternyata perintahnya terlalu panjang, perintah belum selesai diucapkan kami sudah melewati belokan atau bundaran. Pusing juga jadinya hahahahaha….

Singkat kata, pengalaman road trip pertama ini tidak buruklah. Semua berjalan mulus, kami mencapai tujuan dan hampir tidak ada konflik besar di antara anggota road trip. Hmmm…sepertinya saya sudah siap tancap gas untuk tugas-tugas kuliah saya. Memang benar, sedikit kabur dari rutinitas membuat pikiran bisa lebih jernih dan obyektif. Satu hal pastinya, mengingat menulis note adalah juga bagian dari kegiatan ‘ngabur’ saya selama mengerjakan tugas-tugas kuliah, sepertinya ini bukan satu-satunya note saya tentang perjalanan ini hihihihi…


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.