Beskap Senyuman

P. Chusnato Sukiman


Ini bukan dongeng, jika Drs Suyadi butuh waktu dua jam untuk merubah dirinya menjadi seorang Pak Raden.

Setelah mandi, merias wajahnya, lalu ia mengenakan beskap. Semua siap tepat waktu, jika di malam sebelumnya ia sudah menyiapkan story board, membuat bubuk alis mata dari guntingan rambut palsu, meruncingkan pinsil alis, dan merekatkan double-tip untuk alis serta kumisnya yang aduhay itu…

Semuanya ia kerjakan sendiri. Katanya sambil tertawa lepas “karakter Pak Raden itu saya yang menciptakan, jadi tidak ada perias manapun yang bisa membuatnya hidup dalam tubuh saya…”

Yang paling menyulitkan adalah saat mengenakan beskap. Nah! Yang ini kiranya ia membutuhkan bantuan seseorang.

“Jadi setiap pakai beskap selalu begini,pak?” tanya saya polos…

“Nak! Ini hanya karena beskap saya sudah rapuh, kain puring (pelapis) sudah koyak, dua tahun terakhir ya begini ini…”

“Kenapa tidak bikin yang baru lagi, pak? Kan ini wardrobe, buat modal kerja juga …” tanya saya makin ceplas-ceplos…

“Biar saja, masih bisa terpakai, untuk apa buat yang baru…”

Begitulah. Beskapnya yang rapuh itu kini sudah ada penggantinya yang baru. Tapi toh, ia masih juga mengenakan beskapnya yang lama. Suatu hari, ketika saya membantunya mengenakan beskap, mata kami bersirobok. Mungkin dia tahu apa yang saya pikirkan saat itu.

Katanya, “Beskap ini cuma rapuh bagian puringnya saja, toh, saat di panggung mereka lihat bagian luarnya. Yang penting tersenyum, nak, senyum kita ini jangan pernah dikurangi lagi…

….nikmati semua tahapannya, biar tersenyumnya dari dalam. Tidak ada pekerjaan yang bisa kita pilih tanpa menikmati semua prosesnya… ya capeknya, ya pegelnya, ya ngantuknya, ya hasilnya, ya tepuk tangannya. Semua pasti berat, rasanya semua pekerjaan itu berat. Tapi seulas senyum bisa meringankan separuh beban kita, nak!…”

Sial. Ketahuan! Jerit saya dalam hati. Rasanya ingin sekali saya mematikan tape perekam yang selalu menempel di saku saya jika saya sedang berdekatan dengannya. Mengapa dia tahu, kalau saya sedang begitu ingin mengatakan, “Pak, dunia panggung berat juga ya?” Saya telan bulat-bulat kalimat itu, dan saya gulingkan ke jurang hati saya.

Ini bukan dongeng, jika cermin di dinding memang bisa memperlihatkan siapa kita sebenarnya. Apakah saya terlalu pelit untuk tersenyum? Atau, saat kelelahan membuntutinya, saya mulai bekerja dengan menyeret-nyeret kaki? Oh, mungkin saja saat itu saya malah sudah menyeret-nyeret hati?

Ini bukan dongeng. Saya tak butuh cermin untuk melihat apakah saya sudah bisa tersenyum untuk menikmati setiap detik dalam hidup saya…

Teks: [email protected] Holistic Writer
Foto-foto: Harun Hasyim

Supaya kain puring (pelapis) beskap tua ini tidak melorot, dia memasukan tangan kanannya terlebih dahulu.

Katanya, “mana tangan kiri kamu, nak, tangan kita musti bertemu. Kamu pegang tangan saya tarik pelan-pelan…”

Tangan kananya sudah saya genggam dengan tangan kiri saya. “Tarik perlahan, ya, nak…”

Ketika berhasil menarik tangan kanannya sampai ke luar, eh, nongol juga dia. Hati saya gembira.

Beskap bagian tangan kiri sudah masuk, pekerjaan kita separuh jalan lagi. dan lihat! Dia sudah mengenakan beskapnya separuh, hati saya bertambah ringan…

Dia mulai terlihat mengenakan beskap. Bagian pelapis dalam (puring) yang koyak tak menyebabkan segalanya berhenti…


Note Dewi Aichi & Redaksi:

“Memperkenalkan penulis baru yaitu mas P. Chusnato Sukiman, berasal dari Cilacap – Jawa Tengah, yang saat ini bermukim di Jakarta. Cerita tentang mas Chusnato pernah ditulis oleh sahabatnya yaitu Bamby Cahyadi di Baltyra, berjudul: http://baltyra.com/2010/07/14/sebuah-catatan-kecil-untuk-prasodjo-chusnato-sukiman/. Selamat datang mas Chusnato..!

Selamat bergabung mas Chusnato! Make yourself at home. Terima kasih Dewi Aichi, satu lagi memperkenalkan penulis baru ke Baltyra.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.