Heboh Mie Instan Buatan Indonesia

Josh Chen – Global Citizen


Beberapa hari belakangan dalam 2 minggu terakhir, di mana pun terdapat kehebohan yang luar biasa. Di milis-milis, FB, semua media, baik cetak, elektronik, online, websites, e-mail, Twitter dsb, terjadi kehebohan ditariknya mie instan Indonesia di pasaran Taiwan karena alasan penggunaan food additives yang berbahaya.

Terjadi reaksi yang beragam. Buat pecinta mie instan jelas reaksinya cukup keras dan cuek, yang penting kesenangan makan mie instan jalan terus. Sementara buat pembenci mie instan, bersorak sorailah mereka mengamini bahwa mie instan jelek dan buruk untuk kesehatan.

Tak kurang kegundahan pemerintah dan para produser mie instan menangani masalah ini. Kementerian terkait dan industri terkait berlomba memberikan pernyataan pembelaan diri begini dan begitu. Tapi bisa dilihat di media manapun, tidak ada atau mungkin belum ada yang mengupas tuntas pokok permasalahan menjelaskan kepada masyarakat dan terutama bagaimana mengomunikasikannya kepada dunia untuk mengantisipasi kegoncangan industri yang cukup penting di Tanah Air ini.

Yang diributkan adalah food additives yang bernama NIPAGIN atau methyl paraben atau methyl parahydroxybenzoate. Hah? Mahluk apa itu namanya kok ribet dan ruwet serta kedengaran canggih atau mungkin menyeramkan. Nama asli dari food additives yang diributkan memang itu tadi, sering disingkat paraben atau kebanyakan sebagian orang awam mengenalnya sebagai benzoate saja. Benzoate sendiri adalah nama “pasaran” yang cukup dikenal, bukan hanya methyl parahydroxy benzoate, tapi yang lebih umum adalah pengawet makanan dengan nama “resmi” natrium benzoate.

Methyl paraben dengan rumus kimia CH3(C6H4(OH)COO) adalah senyawa kimia yang banyak dijumpai di alam. Banyak terdapat di keluarga buah-buahan berries, terutama dalam blueberries, bersama dengan “saudara dekatnya” paraben. Methyl paraben dan paraben tidak beracun, cepat diserap dalam metabolisme tubuh manusia, tidak membahayakan, dan biodegradable jika substansi ini dibuang ke tanah.

Senyawa ini dianggap termasuk dalam kategori bahan kimia GRAS (Generally Regarded As Safe). Methyl paraben banyak digunakan dalam industri makanan sebagai anti jamur, tepatnya menghambat pertumbuhan jamur. Senyawa ini memiliki E-number E218.

E-number adalah kode yang digunakan untuk klasifikasi food additives yang digunakan oleh European Union. Huruf E merujuk kepada Europe. Dalam perkembangannya klasifikasi E-number ini banyak digunakan secara luas dan diadopsi beberapa negara di luar Eropa. Jika anda melihat kemasan makanan dengan kode-kode E-sekian dan E-sekian, itu adalah peng-kode-an menurut standard dan sistem Eropa.

Penggolongan food additives ini diatur oleh lembaga yang bernama Codex Alimentarius Committe. Codex Alimentarius berarti “food code” atau “food book” yang berasal dari bahasa Latin. Codex Alimentarius adalah kumpulan dari berbagai standard internasional yang mengatur segala seluk beluk yang berhubungan dengan makanan. Bisa berbentuk “code of practice”, “guidelines”, “recommendations”, “food production” dan juga “food safety” serta segala hal yang berkaitan dengan makanan yang terus berkembang seiring berjalannya waktu. Codex Alimentarius adalah “bible”nya segala hal yang berkaitan dengan food.

Codex Alimentarius Commission dibentuk oleh WHO dan FAO di tahun 1963 dengan tujuan utama untuk melindungi konsumen dan menerapkan aturan internasional yang fair dalam perdagangan food, karena dengan berkembangnya international trade, export import makanan dalam segala bentuknya juga akan berkembang. Termasuk di dalamnya adalah segala aturan dan tata cara food labeling, food hygiene, food additives, residues (pestisida, herbisida, antibiotik, dsb).

Dalam perjalanannya ternyata tidak semulus yang dibayangkan pertama kali, karena tiap negara merasa memiliki hak untuk menentukan standard masing-masing yang mereka anggap berhubungan dengan kesehatan rakyatnya. Dalam prakteknya sering sekali Codex ini jadi non-tariff barrier yang dikemas dengan manis oleh negara-negara yang berkepentingan.

Issue seperti GMO (Genetically Modified Organism) yang sekarang lebih diperhalus dengan “biotech” dan hormonal dalam produk peternakan adalah salah satu contoh dispute berkepanjangan antara Eropa dan Amerika. Masih banyak lagi contoh-contoh dispute seperti ini antara 2 negara, 3 negara atau lebih yang berselisih dan akhirnya sampai ke penyelesaian internasional oleh para institusi dan lembaga yang berwenang.

Semua dispute yang terjadi di seputar food issues semuanya berujung kepada masalah ekonomi, nothing more nothing less. Protectionism atau non-tariff barriers yang dilarang oleh WTO dikemas sedemikian sehingga terlihat seperti penerapan food safety atau environmental issues di negara-negara yang berkepentingan. Salah satu contoh nyata yang menimpa Indonesia adalah issue sustainability minyak kelapa sawit, yang sudah pernah dibahas panjang lebar di:

A Tale That Wasn’t Right

Liquid Gold

Liquid Gold 2

What left from a world-class hypocrisy conference?


Kembali lagi ke penggunaan methyl paraben dalam industri makanan. Penggunaan secara luas sebenarnya sudah diatur jelas sekali oleh Codex Alimentarius yang tertera di bawah ini:


Dan beberapa negara juga mengaturnya dalam Codex masing-masing seperti di bawah ini:

(koran tempo epaper)

Terlihat jelas bahwa standard Indonesia masih jauh di bawah ambang batas yaitu 250 miligram/kilogram berat badan. Sementara ambang batas konsumsi untuk tubuh adalah 10 miligram/kilogram berat badan per hari. Jadi bila seorang dengan berat katakanlah 50 kg, berarti kadar maksimum yang boleh dikonsumsi adalah 500 miligram per hari. Sementara kandungan nipagin dalam saus mie instan produksi Indonesia hanyalah sekian miligram saja. Anggap satu bungkus mie instan mengandung 1 mg, seseorang dengan berat badan 50 kg, “harus” makan mie instan 500 bungkus sehari untuk mencapai ambang batas yang mulai berbahaya untuk tubuhnya.

Dibandingkan Amerika yang membolehkan ambang batas mencapai titik tertinggi yaitu 1000 miligram/kilogram berat badan. Yang juga sesuai dengan paparan WHO – FAO di bawah ini:


Sekarang bagaimana perkembangan industri mie instan di dunia? Mengutip dari http://instantnoodles.org/noodles/expanding-market.html :


Unit: 100 Million Packets (Bags/Cups)
* Gulf Cooperation Council Countries
Estimated by World Instant Noodles Association (WINA)


Terlihat bahwa China menempati urutan teratas. Tidak mengherankan dengan jumlah penduduk 1.4 miliar lebih, dan traditionally penduduk China adalah pemakan mie, trend perkembangan mie instan di sana tertinggi di dunia, walaupun menunjukkan penurunan dari 2008 ke 2009, tapi diperkirakan untuk 2010 mengalami kenaikan, dilaporkan mencapai sekitar 20% di Q1 2010.

Dan jelas sekali bahwa Indonesia mengalami kenaikan dari 2008 ke 2009 dan naik lebih tinggi lagi di tahun 2010 ini, diperkirakan kenaikan sekitar 15-20%. Mie instan di Indonesia sudah akrab di masyarakat selama sekitar empat dasawarsa. Mie instan pertama diperkenalkan ke masyarakat pada pertengahan 1960’an, tapi gagal total karena masyarakat belum terbiasa untuk hal-hal “canggih” semacam mie instan ketika itu. Tahun 1971 Supermie memasuki pasar. Pelahan popularitas Supermie naik sampai pada puncaknya di tahun 80’an di mana semua orang bilang “supermie” untuk mie instan pada waktu itu, sama halnya dengan sekarang orang bilang “indomie” untuk menyebut mie instan.

Kemudian merek-merek lain bermunculan menyusul Supermie. Ada Indomie dan Sarimi, berdampingan dengan Supermie menjadi 3 merek utama waktu itu. Dan memang pada akhirnya 3 merek tsb menjadi satu perusahaan karena satu per satu dibeli oleh Grup Indofood. Beberapa tahun belakangan susul menyusul para pemain baru yang cukup menggebrak seperti Mie Sedaaap, kemudian ada Mie ABC, Mie Gaga, Alhami, Michiyo, dsb.

Dari tabel di atas, terlihat bahwa perkembangan mie instan di Taiwan tidak terlalu menggembirakan, dari tahun ke tahun menurun. Yang jelas serbuan mie instan import ke Taiwan makin menjadi dan tidak bisa dicegah lagi. Mie instan import yang menyerbu pasaran Taiwan di antaranya adalah dari China dan Indonesia. Mie instan Indonesia rata-rata memang lebih disukai oleh lidah konsumen di mana pun berada, tidak saja oleh orang Indonesia yang berada di luar negeri, tapi juga lidah setempat.

Sebut saja di Belanda, di tempat di mana yang disebut TOKO, produk mie instan Indonesia merajai pasaran. Di Belanda sebutan toko mengacu kepada “asian stores” atau “asian groceries”. Di Amerika sendiri setahu saya produk mie instan Indonesia cukup dikenal masyarakat luas. Banyak kenalan saya yang dari Eropa atau Amerika, para expatriat yang bekerja di Indonesia atau yang pernah bekerja di Indonesia dan kemudian balik ke negara masing-masing atau berpindah negara, mereka kebanyakan ketagihan dengan mie instan Indonesia. Kebanyakan dari mereka bilang mie instan Indonesia kaya rasa dibandingkan mie instan produksi negara lain.

Banyak sekali para expatriat yang sudah meninggalkan Indonesia masih sering berbelanja membeli mie instan Indonesia baik di tempat tinggalnya sekarang ataupun minta teman yang di Indonesia mengirimkannya secara rutin. Bahkan yang saya tahu, ada saja yang menggunakan ‘jalur diplomatik’ untuk membeli mie instan ini. Bahkan di Afrika mie instan Indonesia sudah menjadi makanan pokok mengalahkan makanan pokok asli mereka di sana. Silakan ketikkan keywords “instant noodles in Africa”, anda akan terkejut!

Persyaratan yang digariskan oleh otoritas Taiwan hampir mustahil dipenuhi, dengan batas ZERO, rasanya hampir tidak mungkin mie instan produksi mana saja dapat memenuhinya.

Sementara temuan-temuan mengejutkan saat riset kecil-kecilan mempersiapkan tulisan ini. Salah satunya adalah http://www.mhlw.go.jp/topics/yunyu/dl/tp0130-1aa_0001.pdf di mana Taiwan banyak tidak lolos standar yang ditentukan oleh pemerintah Jepang. Kita tahu bahwa Jepang adalah salah satu negara yang menerapkan food safety issue cukup ketat. Selain Jepang, Amerika juga menerapkan standar yang ketat melalui FDA’nya. Itupun, berdasarkan primbon “Handbook of Preservatives” jelas kelihatan bahwa Amerika dan Jepang masih mengijinkan methyl paraben dalam processed food sebagai food additive yang aman.


Semoga tulisan ini dapat sedikit menjawab rasa penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan hiruk pikuk dan kehebohan issue mie instan buatan Indonesia. Tulisan ini dipicu oleh beberapa pertanyaan ke saya, ada yang japri e-mail, ada yang di milis, ada yang message via BlackBerry, dsb.

So? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah murni food safety issue? Atau kah yang lain? Silakan pembaca menyimpulkan sendiri. Kalau bicara mengenai standard food safety, kenapa tidak dari dulu?

Buat saya, ah, lha wong enak kok, mie instan ya jalan terus, asal masih dalam batas wajar saja. Di keluarga kami seminggu belum tentu sekali makan mie instan. Apalagi setelah mempersiapkan tulisan ini, saya cuma mikir “siapa yang mau makan 250 bungkus sehari, weleh, weleh….”

Terima kasih sudah membaca…


Tulisan terkait:

Mie Instan & Minyak Goreng (Part 1)

Mie Instan & Minyak Goreng (Part 2)


Reference:

http://www.fda.gov/

http://www.fsc.go.jp/english/index.html

http://www.mhlw.go.jp/english/topics/foodsafety/foodadditives/index.html

http://www.who.int/en/

http://www.fao.org/

http://instantnoodles.org/

http://www.who.int/ipcs/food/jecfa/summaries/summary67.pdf

http://www.thegoodscentscompany.com/data/rw1032731.html

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/entrez?cmd=search&db=pubmed&cmd_current=Limits&term=Methylparaben+OR+99-76-3+[rn]

http://www.codexalimentarius.net/gsfaonline/groups/details.html?id=156

http://en.wikipedia.org/wiki/Methylparaben

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

3 Comments to "Heboh Mie Instan Buatan Indonesia"

  1. Lani  25 December, 2016 at 10:56

    Mahalo atas pencerahannya………..

    Karena aku jg kdg masih melahap mie instant walau bukan produk dr Indonesia bukannya tdk mau akan ttp mmg tdk ada di supermarket di Hawaii klu ada sdh pasti aku akan mengkonsumsi mie instant buatan Indonesia krn mmg lebih pas dilidah Jawaku hehehe………..

    Kemarin ktk mudik sempat mencoba produk mie instant dgn berbagai rasa yg belum pernah aku coba sebelumnya dan rasanya ok………….

  2. Lani  25 December, 2016 at 10:53

    Ki Lurah: Menurutku klu bahan pengawet msh dlm ambang normal, mengapa tidak makan mie instant atau makanan2 lainnya yg ditambahi bahan additives?

    Yang penting jgn over dosis dan semua yg over dosis jelas tdk sehat, malah menjadikan racun

  3. Fahrizal  25 December, 2016 at 03:59

    siip… bang …

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *