Pemakaman Untuk Semua Agama dan Kepercayaan

Iwan Satyanegara Kamah


“TEMAN bisa kita pilih sesuai yang kita suka, tetapi tetangga sudah dari “sononya”. Kita tak bisa memilih tetangga yang kita sukai atau tidak senangi”, kata seorang teman saya.

Coba tengok samping rumah kita, yang kiri atau kanan, atau di depan rumah maupun belakang tempat kita tinggal. Berapa lama Anda telah tinggal dan hidup berdampingan dengan mereka? Mereka bisa belainan suku, tingkat sosial dan pendapatan atau agama maupun kepercayaan. Ada yang hidup bersampingan selama setahun, 5 tahun, 10 tahun atau … 30 tahun. Bahkan ada yang seperti saudara sedarah.

“Kalau ada apa-apa dengan kita,  tetangga dulu yang menolong. Bukannya famili kita yang jauh”, begitu kata banyak orang tentang pentingnya tetangga.

Kita bisa hidup berdampingan dengan mesra selama di dunia dan cocok dengan tetangga kita. Terserah dia agamanya apa.

John Lennon yang berulang tahun ke 70 minggu lalu, tinggalnya berjarak dua halte bis dari kediaman Paul McCartney, yang kemudian menjadi sahabat sejatinya. Ini sebagai conrtoh sebuah persahabatan berawal dari tetanggaan.

Bagaimana ketika kita mati? Apakah kita bisa berdam;pingan dengan orang-orang yang kita cintai? Sahabat yang paling dikasihi? Ternyata tidak! Apalagi kalau mereka itu lain agama dan kepercayaan. Tidak boleh! Kasihan juga sepasang suami istri berlainan agama, tetapi cinta sehidup semati. Atau orang tua dan anaknya yang berlainan keyakinan. Mereka tidak bisa berdampingan lagi ketika mati.

(dari artikel: http://baltyra.com/2009/07/13/ereveld-ancol-kuburan-belanda-ancol/)

Semua pemakaman di manapun dibuat untuk semua orang dari semua kepercayaan. Namun mereka dibaringkan terpisah berkelompok-kelompok hanya berdasarkan agama dan kepercayaan. Bukan berdasarkan suku atau ras ataupun etnis. Mungkin ada kuburan berdasarkan etnis, seperti istilah “kuburan Cina” di telinga orang Indonesia.

Semasa hidup orang bisa berdampingan dan berdekatan. Mengapa ketika sudah mati tidak boleh lagi? Padahal mereka tak mungkin berkelahi. Jangankan berselisih, ngobrol saja tidak mungkin. Lalu apa masalahnya mereka dipisah-pisah berdasarkan agama atau kepercayaannya?

Makam Saddam Hussein bila berdampingan dengan makam George Bush, pasti aman-aman saja dan tidak suara-suara bising kalau mereka adu mulut.

Agak sulit di Indonesia (mungkin juga di luar negara lain) membuat sebuah pemakaman umum untuk semua agama dan kepercayaan yang bercampur. Kalau berkelompok memang sudah ada. Makanya muncul istilah pemakaman Islam, pemakaman Kristen atau pemakaman Yahudi misalnya.

Namun sulit sekali menemukan pemukiman Islam atau pemukiman khusus beragama Kristen. Mungkin saja ada, tetapi jumlahnya sedikit dan sangat khusus dibangun. Kita bisa bercampur baur tinggal dengan orang agama apa saja, kepercayaan manapun bahkan dengan orang tidak beragama sekalipun.

“Nggak bisa dicampur antara kuburan Islam dan non–islam”, komentar seorang penceramah rohani. Masalahnya, makam pemeluk Islam harus dan wajib menghadap kibat ke Makkah atau ke arah ke Kabah. Kalau pemeluk lain mau, mungkin tak jadi akan masalah.

Masalah perbedaan agama saja bisa diselesaikan waktu masih hidup. Mengapa ketika kita sudah mati tidak bisa dilakukan? Padahal kita tak mungkin lagi bergerak atau berkelahi. Apalagi perang mulut. (*)

124 Comments to "Pemakaman Untuk Semua Agama dan Kepercayaan"

  1. arif  2 December, 2011 at 21:43

    KEPERCAYAAN ADALAH HAK YANG KHUSUS DAN SANGGAT IDIOLOGIS, SETIAP AGAMA MENGAJARKAN KEPADA PEMELUKNYA DARI LAHIR hingga MATI Berbeda trgantung agamanya…JADI marilah KITA TENGGANG RASA…SALING MENGHARGAI/MENGHORMATI…HIDUP yang damai di dunia INDONESIA……

  2. Irindonesia  21 March, 2011 at 01:25

    Akhirnya berkunjung kembali ke blog pak Iwan ini.
    Artikel yang tetap menarik untuk dibaca dan kembali menjadi bahan renungan bersama.

    Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.