Soekarno

Anwari Doel Arnowo


Note: tulisan ini saya tulis di 4 tahun lalu, 05 Juni 2006

Tanggal hari esok adalah istimewa, kita bisa menulisnya dengan: 06 – 06 – 06. Kalau bangun pagi, maka pada pukul enam lewat enam menit dan enam detik, akan menjadi tanggal 06 – 06 – 06 pukul 06:06:06.

Memang saya sengaja menulis seperti ini, hanya karena bagi saya pada hari ini kita amat perlu menenangkan diri agar mempunyai pandangan yang jernih terhadap keadaan di sekeliling kita saat ini.

Tepat 105 tahun yang lalu pada waktu fajar, lahirlah di dunia ini seorang bayi di kota Surabaya didaerah Pasar Besar, yang kemudian dinamakan Koesno. Ibunya seorang yang berasal dari pulau Bali dan ayahnya yang berasal dari suku Jawa adalah seorang guru sekolah.

Pada waktu Koesno masih seorang anak kecil, orang tuanya dipindahkan ke kota Modjokerto dan kemudian ke kota Blitar. Beberapa tahun berada di kota Blitar, Koesno diganti namanya, oleh karena dianggap sering jatuh sakit, menjadi Soekarno. Dalam perjalanan hidupnya Soekarno menjadi pemuda dan tinggal kembali di kota Soerabaia, malah tinggal mondok dirumah HOS Tjokroaminoto, seorang tokoh Kaoem Islam dan seorang orator pergerakan Islam yang piawai, di jalan Plampitan (sekarang jalan Achmad Djais).

Waktu dia tinggal di Plampitan inilah ayah saya, Doel Arnowo (nama aslinya Abdoel Adhiem) berteman dekat dan sering bermain bersama. Ayahnya (kakek saya) adalah seorang mandor gula bernama Arnowo -1879 s/d 1922, menjadi tokoh di kampungnya yang sampai sekarang disebut Gang Genteng Arnowo. Yang saya ingat ayah saya sering menceritakan bersama Soekarno, nongkrong bersama di jembatan Genteng – Pathuk dan jembatan Penéléh – Plampitan. Apa sih yang mereka kerjakan di atas jembatan-jembatan itu?

Ayah saya, amat dikenal dengan sebutan Cak Doel, bercerita bahwa apa yang mereka kerjakan selain ngobrol adalah asyik mengamati perempuan yang lalu lalang diantaranya banyak noniek-noniek (istilah untuk nona-nona Belanda asli maupun keturunannya). Salah satu noniek Belanda ini ada yang mendapat perhatian istimewa dari Soekarno. Dalam salah satu riwayat hidupnya Soekarno pernah menceritakan bertemu dengan noniek yang satu ini setelah bertahun-tahun kemudian di daerah Pasar Baru Batavia (Betawi / Jakarta).

Sang noniek telah menjelma menjadi seorang perempuan yang gemuk agak luar biasa. Apa kata Soekarno dalam bathinnya: Selameeet!! (artinya beruntunglah, dia bersyukur sebab perempuan itu sudah demikian gemuknya, sama sekali tidak menarik hati untuk dipandang mata). Ya setelah menjadi Presiden Republik Indonesia, dalam suatu kesempatan hanya berdua saja, Cak Doel pernah diajak berbicara masalah ini di Istana Merdeka dan mereka berdua tertawa terkèkèh-kèkèh sampai keluar air mata.

Anèhnya Cak Doel pernah lebih dari sekali menyatakan Soekarno bukan pemuda yang “nakal” terhadap perempuan dan malah diberi julukan anteng (yang artinya tenang).

Hal ini timbul pada waktu Cak Doel menyesali perkawinan Soekarno dengan Hartini. Cak Doel beranggapan bahwa teman baiknya bernama Soekarno ini adalah dalam keadaan sedang direkayasa untuk dijerumuskan ke masalah yang menyangkut politik dan harta oleh orang-orang sekelilingnya. Yang disebut-sebut oleh Cak Doel sebagai orang-orang yang termasuk inner circle Presiden RI adalah antara lain Kepala Rumah Tangga Istana yang dengan rekayasa telah ‘menjodohkan” Presiden dengan “nyonya terkenal” dari Solotigo, berstatus istri seorang lain bernama Soewondo. Banyak issue dan gossips yang beredar dan saya tidak ingin mengulanginya pada saat ini, karena rasa hormat saya kepada Soekarno yang amat tinggi. Saya menganggap Soekarno adalah seorang istimewa yang lahir pada abad ke XX.

Sepanjang abad itu di Indonesia tidak ada seorangpun seperti beliau, yang terlahir dengan kecerdasan dan kemauan kuat mempersatukan bangsanya menjadi sebuah bangsa yang besar.

Pengganti-penggantinya: Suharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Sukarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono tidak ada yang sekaliber dan seperingkat dengan Soekarno. Biarpun ini sangat subjective, saya merasa ini yang paling mendekati kebenaran. Sebabnya karena saya adalah seorang yang tidak pernah terilibat politik, baik sebagai anggota partai atau simpatisannya, tidak pernah mau memilih pada waktu pemilihan umum, tidak pernah mempunyai usaha yang berKKN dengan pejabat penyelenggara Negara.

Karenanya, saya merasa tidak pernah mengagungkan nama besar Soekarno hanya karena “berkeinginan untuk mau ikut naik” bersama seseorang yang bernama Soekarno. Saya tidak pernah dekat dengan beliau sejak dewasa dan dengan sengaja menjauhi beliau, karena saya tidak merasa comfortable setelah mengamati dan melihat secara teliti banyak orang-orang di sekelilingnya, baik ajudan, pengusaha dan politikus yang berada di sana.

Itulah sebabnya ketika pada salah satu kunjungannya ke Jepang, sewaktu saya sedang belajar di Jepang, sengaja menghindarkan diri pergi ke Nagoya, untuk training di Ishikawajima Shipbuilding Yard agar tidak terlacak oleh dan dari anggota rombongan beliau. Setelah beliau meninggalkan Tokyo, saya dipanggil Bapak Mayor Jenderal Bambang Soegeng, Duta Besar kita di Jepang, sambil mengatakan dengan nada jengkel telah tidak berhasil mencari saya karena diminta oleh Pak Presiden mencari anak temannya semasa remaja, bernama Anwari.

Terus terang saya tidak menyukai beberapa dari orang-orang di sekeliling beliau. Sebaliknya dengan rekan-rekan saya yang juga sedang berada dan belajar di Jepang banyak yang berusaha mendekat kepada siapapun yang anggota rombongan dan juga para pejabat di Kedutaan Besar, entah apapun alasannya.

Saya ceritakan ulang apa yang saya lihat dan saya alami kejadian-kejadian mengapa saya mempunyai pendapat-pendapat seperti diatas. Soekarno sering sekali mengundang Cak Doel dan istri, ibu saya, datang ke Istana Merdeka, hanya untuk melihat bioscoop (movie) yang ditonton oleh orang-orang terdekat Soekarno, yakni: Nyonya Fatmawati, anak-anaknya, pembantu rumah tangga dan para pegawai Istana Merdeka.

Film yang ditayangkan kebanyakan bukan sesuatu yang istimewa karena di Jakarta pada waktu itu belum banyak movie theatre yang memutarkan film cerita. Jumlah gedung bioskop, theatre atau cinemanya pun mungkin sekali masih di bawah limabelas buah. Pada peristiwa seperti itu Soekarno selalu mengenakan pakaian lengkap bersepatu tertutup karena amat menghormati tamunya. Nyonya Fatmawati biasanya duduk di kursi santai (biasa disebut dengan kursi malas) terbuat dari rotan.

Ayah saya, Cak Doel, pernah juga mengajak salah satu adik saya untuk menemani bersama ibu kami. Selesai pertunjukan, biasanya dan ini sering sekali, Soekarno ikut turun tangga Istana dan ikut menemani keluarga ayah saya ke mobil.

Soekarno membukakan pintu mobil untuk ibu saya dan menutupnya kembali layaknya seorang gentleman sejati. Nyonya Fatmawati tidak turun dari kursi malasnya.

Biarpun demikian halnya, ayah saya amat geram ketika mengetahui Soekarno akan menikah dan kemudian menikahi Hartini yang in fact adalah istri orang lain. Apalagi nyonya Fatmawati datang menghubungi ayah saya di rumah kami di Jalan Surabaya no. 13, Menteng, Jakarta.

Ayah saya menghormati first lady Republik ini, biarpun usianya jauh lebih muda, ayah saya menyebutnya zoes Fatma. Zoes Fatma ini datang mengadu mengenai hal ini dan apa kata ayah saya? “Janganlah sekali-kali zoes Fatma meninggalkan rumah, apalagi keluar dari Istana, karena akan membuat hal ini menjadi sulit. Perempuan sebaiknya tetap tinggal di rumah.”

Zoes Fatma merèngèk mau ikut hidup di rumah kami yang kecil di jalan Surabaya itu. Ayah saya dengan lembut mengatakan bahwa itu bukan pilihan yang baik dan secara tegas menolak permintaannya. Pada waktu itu saya sudah belajar di Sekolah Menengah Pertama, dan umur saya membuat saya dapat menangkap percakapan ayah dengan ibu, dan juga dengan orang lain mengenai masalah yang satu ini.

Kadang ayah saya berpendapat karena semasa mudanya Soekarno ini seorang yang “anteng” maka sekarang sedang mengalami pubertas lagi. Cak Doel mengenal Oetari yang istri pertama Soekarno dan anak kandung dari Bapak HOS Tjokroaminoto. Mengenal baik juga ibu Inggit, istri kedua Soekarno dan tentu saja juga zoes Fatma. Datangnya Hartini telah menggelisahkan teman Soekarno yang lain dan orang-orang lain yang menyayangi Soekarno. Tidak usah kita bicarakan mengapanya yang bersangkutan dengan Hartini, akan tetapi dapat kita bicarakan karena kedudukannya sebagai Presiden Republik Indonesia.

Hartini, menurut Cak Doel adalah sebagai akibat, karena inner circlenya yang ikut mendorong terjadinya fasilitasi perselingkuhan ini. Mereka tergesa-gesa menikahkan Soekarno dan terbukti kemudian pernikahan ini tidak sah, karena belum bercerai dari Soewondo. Pernikahanpun diulang lagi setelah Soewondo resmi bercerai dan menjadi salah satu pegawai di perusahaan minyak di Sumatra Selatan(?). Begitulah tanpa dapat dicegah, Hartini menjadi istri Soekarno yang kesekian.

Setelah pernikahan ini ayah saya berseteru hebat dengan Soekarno karena masalah ini. Perseteruan dimulai dengan pertemuan yang hanya sebentar antara mereka berdua saja.

Cak Doel berkeberatan mengenai akan menikahnya Soekarno dengan Hartini dengan alasan-alasannya yang tentu saja tidak dapat diterima oleh Soekarno. Dalam bahasa Suroboyoan (dialect Jawa Surabaya) mereka sampai dengan kata-kata: “Kamu jangan ikut campur dengan urusanku karena aku hanya bertanggung jawab kepada Allah subhanawata ala” dan dijawab oleh Cak Doel dengan “ …… ya saya mengerti, akan tetapi yang akan kawin itu kan juga Presidenku ……..”

Saat inipun saya tetap beranggapan pembicaraan seperti ini terlalu amat keras karena pendirian kukuh mereka masing-masing. Apa yang terjadi sesudahnya adalah: Cak Doel dan istri tidak datang lagi ke Istana lagi selama setahun lamanya. Bukan karena tidak adanya undangan, tetapi juga karena memang Cak Doel tidak “mau” bertemu dengan kawan baiknya ini. Sekali lagi inner circle Soekarno menjadi penyebab utamanya.

Kebekuan hubungan ini berakhir karena sebuah kejadian sebagai berikut.

Dalam “masa konflik” masalah Hartini ini, telah terjadi juga konflik antara para politisi, saya kurang ingat bagaimana karena saya masih belajar di Sekolah Menengah Pertama, masih bau kencur untuk masalah seperti ini, kata orang Jawa. Para Politisi sudah saling tidak bertegur sapa antara lain Mr. Ali Sastroamidjojo, Mohammad Natsir, dan juga Mr. Wongsonegoro (?), saya kurang yakin nama-nama beliau.

Pada suatu hari dalam bulan Ramadhan, ayah saya mengundang mereka untuk berbuka puasa bersama di rumah Cak Doel di Jalan Surabaya no. 13. Dalam suasana Ramadhan tentu saja mempunyai rasa magical moments (nuansa ghaib) yang menyebabkan orang menahan marah dan emosi tinggi dan lain lain. Peristiwa ini diberitakan oleh media dengan judul Cak Doel menjadi penghulu. Seakan-akan ayah saya telah mengawinkan beberapa kubu politik yang sedang kurang berhubungan baik. Berita ini amat menarik perhatian masyarakat, dan setelah sekitar satu tahun lamanya tidak saling berhubungan, ayah saya diminta datang menemui Presiden di Istana.

Ternyata tempatnya adalah Istana Bogor, di mana di paviljoennya, tinggal Hartini.

Ayah saya diminta datang setelah salat maghrib, pukul 18.30. Seperti kebiasaan ayah saya datang tepat waktu, pukul 18.30 dan siapa yang menemui Cak Doel?

Dia adalah Hartini, yang meminta Cak Doel menunggu karena Soekarno sedang meneruskan berdoa dan belum selesai. Hartini menemani Cak Doel beberapa waktu, hampir setengah jam. Bukanlah kebiasaan mereka berdua untuk menjadi terlambat memenuhi janji, Cak Doel maupun Soekarno selalu tepat waktu, selalu op tijd dan selalu on time. Tidak terlambat satu detikpun. Kali ini ada alasan untuk berdoa atau apapun. Cak Doel tentu saja “berkenalan” dan berbasa basi sebisanya dengan Hartini.

Setelah Soekarno muncul, pertama-tama dia ucapkan mengenai kepenghuluannya adalah: “Hébat bener koên, Cak. Aku aé nggak iso!!” – Hebat banget kamu, Cak. Aku saja nggak bisa!!

Itu adalah kata-kata pujiannya terhadap upaya ayah saya menjadi juru damai dari para politikus yang sedang dalam kondisi berseberangan dan kurang harmonis hubungannya.

Tetapi Pak Soekarno tidak lupa memuji istrinya yang kesekian ini dengan: “Ayu yo, koyok Ava Gardner!!” – Cantik ya, seperti Ava Gardner!! Itulah yang dapat saya gambarkan segi manusiawinya Soekarno.

Dia manusia biasa tetapi cerdas dan kharismatik, amat gandrung dengan persatuan bangsanya yang terdiri dari ratusan etnis dan bahasanya yang amat beragam, mendiami ribuan pulau bernama Nusantara, sebuah archipelago. Paling beragam di seluruh dunia.

Beragam dapat dipersatukan dan menurut pendapat saya pribadi sampai kapanpun tidak akan berhasil diseragamkan. Inilah hal terpenting dalam mengenang Soekarno, seorang yang ingin saya kenang selalu sebagai orang yang baik hati terhadap orang lain, bukan penjahat seperti digambarkan oleh para kroni penggantinya.

Saya tidak akan memintakan ampun kepada Allah SAW bagi pengganti Soekarno dan kroni-kroninya. Lebih baik saya meminta ampun kepada Allah SAW atas pendirian saya ini dan memintakan ampun atas kesalahan-kesalahan Soekarno, idola saya. Sejarah tidak dapat dipalsukan terus menerus, sehingga anak cucu dikelabui berkelanjutan. Saya melihat Soekarno yang idola saya seperti apa adanya, tanpa melebih-lebihkan apapun.

Sudah sekitar lebih dari sepuluh kali ada percobaan pembunuhan terhadap beliau. Pistol yang memuntahkan beberapa peluru dilepaskan dari jarak kurang dari lima meter tidak ada satupun mengenainya. Ketika itu beliau sedang salat berjamaah Iedul Adha di Istana Merdeka, dan penembaknya adalah salah satu dari jemaah yang ada di situ.

Ada penggranatan di SMP di jalan Cikini, di mana Megawati bersekolah. Beberapa kali granat meletus dan korban yang banyaknya puluhan di antara para pelajar yang masih belia itu.

Iring-iringan kendaraan rombongan beliau digranat di daerah sekitar Maakassar, beliau selamat karena beliau duduk bukan di mobil yang seharusnya selaku Presiden, tetapi beberapa mobil di belakangnya dalam sebuah Jeep (?)

Yang melakukan pengawalan waktu itu adalah Let. Kol. Andi M. Joesoef yang terkenal menjaadi Jenderal yang paling jujur setara Pak Hoegeng. Menurut berita kemudian yang tersiar, memang beliau sendiri yang minta berhenti dan berganti tempat ke kendaraan yang selamat itu, sedang mobil resminya terkena ledakan granat. Biarpun saya tidak mau percaya takhayul, saya mendengar hal ini sering kali dari orang yang mengetahui.

Bagaimanapun apa yang saya tulis di atas adalah yang secara sejujurnya apa yang saya ketaui seperti apa adanya.


Anwari Doel Arnowo

5 Juni 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.