[Family Corner] Si Perekam Yang Hebat

Dian Nugraheni


Kemarin dulu, aku sempat membaca satu kalimat seperti ini, “Tahukah anda, seringkali anak-anak akan melupakan apa yang anda katakan, tapi, anak-anak tidak akan pernah melupakan apa yang DIA RASAKAN ketika kita melakukan suatu perbuatan terhadap mereka…”

Jantungku terasa berdegup sangat berat untuk sesaat.., dan menengok banyak ke belakang.., kira-kira, yang aku PERBUAT terhadap anak-anak, lebih banyak baiknya atau bagaimana? Kira-kira, yang DIRASAKAN anak-anak atas perbuatanku terhadap mereka, lebih banyak baiknya, atau macam mana?

Dari kilas balik yang sangat-sangat banyak itu, ada satu hal yang sangat membuatku menangis, bahkan sampai hari ini..

Begini ceritanya, ketika anakku kedua lahir, aku memutuskan untuk jadi ibu pengurus anak sepenuhnya, hal pertama yang aku lakukan adalah berhenti bekerja di luar rumah, karena inilah faktor utama, yang menyebabkan aku jadi tidak punya banyak waktu bertemu anak-anak. Bagaimana tidak, kalau berangkat kerja jam 6 pagi, pulang sudah jam 7 malam, belum lagi macet, bla-bla-bla…

Dalam perkembangannya, secara umum, anak-anakku normal, tapi, satu hal yang keduanya cukup mengesalkan, adalah, masih harus disuapi ketika makan nasi. Mending gak makan dari pada harus makan sendiri.Jadilah aku harus sering mengalah untuk satu hal ini, daripada mereka terus-teruan ngemil ketika lapar. Ini terjadi sampai anakku yang kecil usia sekitar 5 tahun.

Susahnya, jam lapar mereka tidak sama, ketika kakaknya lapar, adiknya masih full, dan seterusnya. Jadi sering kali, aku suapi kakaknya duluan. Dan sering makan si kakak tidak habis, biasanya yang tersisa adalah nasinya.

Karena sayang, sesering itu pula makanan sisa ini aku simpan, dan nanti ketika adiknya lapar, biasanya aku berikan pada adiknya, kadang aku tambahkan sayur atau lauknya.

Bagi aku, hal ini masih masuk akal, karena nasi yang sisa yang aku simpan adalah nasi ‘kering’, bukan yang sudah terendam kuah sayur dan lain-lain.

(from: http://thecreativemama.com/stacey-woods-stacey-woods-photography/)

Tapi sadarkah anda, “si Perekam Hebat” ini, anak-anak ini, menyimpan hal itu dalam memorinya, dengan sangat kuat?

Ketika kira-kira satu jam setelah si Kakak selesai makan, kemudian aku tawarkan makan pada sang Adik, “Dek, makan ya…”

Jawabnya, “gak, ah, belum lapar..”

“Tapi Adek belum makan dari tadi, ayo Mamah suapin…”

“Gak mau lah, ntar aja,” jawabnya agak ngeyel. “Aku ntar bilang kalau sudah lapar.”

Ketika itu si Adik sedang duduk di kursi nonton Tom and Jerry, aku sedikit memaksa, “Ayolah, Mamah suapin, oke?”

Si Adik memandangku sambil bilang begini, datar-datar saja ngomongnya,tapi rasanya bagaikan terhunus pedang di ulu hati, “Memang ada nasi sisa Kakak…?” (Aku terpaku menatapnya tak berkedip…)

Ya Tuhanku, tolong ampuni aku.., aku langsung simpuh dan menjatuhkan kepalaku di pangkuan Si Adik, aku tidak ingin menangis. Adik tidak senang melihat Ibunya menangis. Aku cuma memeluknya, beberapa detik kemudian kulepaskan ketika si Adik bilang, “Sumpek lah Mah, aku lagi nonton TV ni…”

Aku ke kamar mandi , “Tuhan, betapa tidak adilnya aku pada anak-anakku. Aku sudah melukai PERASAAN si Adik…”

Aku menangis sampai puas.., lalu, cuci muka dan lain sebagainya, kemudian aku samperin lagi si Adik, aku simpuh sambil bilang, “Adek tidak harus nunggu sisa Kakak ketika mau makan.., semua makanan boleh dimakan Kakak dan Adek.

Maafin Mamah ya, Mamah gak punya maksud kasih Adek makanan sisa Kakak…Sekarang, Adek sudah lapar belum? Pengen makan apa?”

Si Adik memandangku, memegang mukaku, dan menciumiku (itu memang kebiasaannya), “Aku gak pengen makan nasi, aku mau makan bakso.”

“Oke, kam on girls.., kita beli bakso..,” seruku.

Dan dua gadis kecilku berebutan mencarikan Kethu Lettoku, kacamata, dompet, dan kunci mobil. Empat hal itu harus selalu ada ketika aku akan mengendarai si Ngatini, Katana merahku, Kethu Letto berfungsi untuk melindungi rambutku agar yang sudah keriting ini tidak semakin gimbal ketika tersapu angin (buka kaca, ga pake AC, ngirit bensin, kek..kek..kek..), dompet, ada STNK dan SIM, dan duit, boo.., kacamata, ya memang sudah sangat minus dari jaman kapan tau,dan kunci mobil tentu saja. 4 hal utama, dan keempat-empatnya, amat sangat sering aku lupa, di mana naruhnya.., he-he, sedikit tua, pikun, dan yang jelas (ssstt…malu sama anak-anak), kurang disiplin meletakkan barang-barang.

Aku nyetir pelan sambil bernyanyi bersama anak-anak, lagu-lagu ‘ngawur’ yang kadang membuat anak-anakku terganggu dan protes. Si Kakak, biasanya tidak akan terlalu berkomentar, karena dia kurang memperhatikan hal-hal detil, tapi si Adik akan bilang begini, “Mamah ni kalau nyanyi, nadanya bener tapi kata-katanya salah semua..” begitu komentarnya ketika aku nyanyi, “aku tertipu, aku tergoda, aku terjebak, dalam perangkapmu, bla-bla-bla, membuatku tergila-gila…(Mbuh lah angel syairnya, tapi nadanya enak didengar dan ditirukan…)

Aku menatap dua gadis kecilku dari kaca spion, damai melihat mereka begitu riang.., sambil aku berkata dalam hati, “Maafin Mamah ya, Kakak, Adik, Mamah pasti sangat banyak kekurangan, mungkin juga sering gak sengaja melukai perasaan kalian. Mamah tau, seorang anak, sangat wajar jika salah, tapi kalau mamah-mamah, sebaiknya berpikir ulang untuk melakukan banyak hal, ya kalau bisa jangan sampai salah terhadap anak-anak. Mamah akan berusaha untuk lebih baik untuk kalian. Tuhan tolong bantu kuatkan aku, Amin…”

“Hue.., jangan ucek-ucek kepala Mamah, sayang, lagi nyetir nihhh…,” teriakku bercanda ketika si Adik ucek-ucek kepalaku, dia berdiri dan bilang, “I love you, Mamahku yang baiiikkk..”

Nah, lo, malu kagak sama anak sekecil itu, yang setiap saat dia bisa menghargai dan menyentuh perasaan kita dengan hal-hal kecil yang mengejutkan macam ini?

“Aku juga sayang Mamah,” itu suara si Kakak, yang gak mau kalah sama adiknya…

“I love Youuuu, all…!”


Virginia,

NH. Dian

(Angin dingin mulai menderu-deru di luar sana, memaksa dedaunan luruh dari rantingnya…Fall is coming…)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *