Kunci Taman Hati

Galuh Chrysanti


Di kaki sebuah gunung, terdapat sebuah taman yang sangat indah. Bunga-bunga bermekaran silih berganti, rumput hijau menghampar berselimut embun, kupu-kupu menari, bercanda dengan burung kecil yang mencari rizki mereka.

Pagar kayu tersusun rapat tampak sengaja dibuat sang pemilik taman untuk melindungi tamannya, sebuah gembok terpasang rapi di pintunya. Tampak sewajah garang menghampiri taman tersebut, di pundaknya bertumpu sebuah kapak.

“Boleh aku masuk? Aku ingin menebang pohon-pohon yang indah di tamanmu itu?” katanya pada sang pemilik taman.

“Silakan masuk, silakan masuk, tebanglah pohon-pohon di sini sepuas hatimu.” Sebuah jawaban yang di luar dugaan. Maka masuklah manusia berwajah garang itu, memporak-porandakan pohon-pohon teduh yang kini menangis tersakiti.

Kemudian menyusul seorang anak mendekat ke arah taman, menyeret sebuah karung yang penuh dengan sampah. Ia meminta ijin pada pemilik taman,

“Bolehkah aku membuang sampah yang kotor dan bau ini ke taman indahmu?” Betapa ajaibnya jawab sang pemilik taman,

“Silakan-silakan, buanglah di mana pun kau suka.” Lalu dibukanya kembali gembok pagar kayunya.

Tak lama berselang, segerombolan anak-anak nakal membawa jaring menghampiri taman. Mereka permisi pada pemilik taman untuk menangkap kupu-kupu cantik. Kembali sang pemilik taman mengijinkan mereka, kedamaian di taman itu pun porak poranda.

Akhirnya, tibalah seorang pemburu menenteng senapan, memasuki gerbang yang dibuka lebar-lebar oleh pemiliknya. Burung kecil terbang berhamburan, melarikan diri penuh ketakutan.

Ada apa dengan sang pemilik taman? Taman yang dipelihara dengan susah payah, dipagar, digembok, dengan mudahnya mempersilahkan semua pengganggu dan perusak masuk ke dalamnya?

Sahabat, taman indah tadi adalah taman hati kita. Sang pemilik taman tadi adalah diri kita sendiri. Seorang menyakiti kita, membuat kita sedih, membuat kita marah, membuat kita kecewa, sesungguhnya semata-mata adalah karena kita MENGIJINKAN hati kita untuk merasakan itu semua.

Sahabat, Kitalah sebetulnya yang memegang anak kunci dari gembok yang memagari hati kita.Bila ada orang yang berusaha menyakiti hati kita, sebetulnya kita selalu dapat memutuskan, untuk tidak rela bersedih karena dia, dan tetap tersenyum.

Manakala ada orang yang memancing kemarahan kita, sesungguhnya kita selalu dapat memutuskan, untuk tidak terbawa emosi, berpikir tenang, dan tetap tersenyum.Tatkala ada orang yang mengecewakan kita, sejatinya kita selalu merdeka untuk memutuskan, bahwa hal itu tidak layak untuk menurunkan semangat kita, dan lagi-lagi tersenyum.

Karena kita adalah pemegang kunci hati kita, maka kitalah yang punya kuasa membuka dan mengijinkan rasa apapun yang berhak mewarnai hati kita. Kitalah orang yang paling bertanggung jawab, atas suasana hati kita, sekarang dan selama-lamanya.

terimakasih kepada Bpk. Achmad Siddiq Toha yang telah mengedit tulisan ini.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.