[Mengunjungi Tanah Leluhur] Bagian 4: Suku Lisu dan Orang Tibet

Handoko Widagdo – Solo


Lembah Shangri La dihuni oleh berbagai suku. Suku terbesar adalah Orang Tibet. Selain suku Tibet, suku Naxi, suku Bai, suku Hui dan suku Lisu menghuni lembah dan gunung-gunung di wilayah Shangri La. Lembah yang di kakinya dibelah Sungai Jing Sha (hulu Sungai Yangtze) ini di sebelah kanan sungai dihuni oleh Suku Naxi dan di sebelah kiri (kearah Linjiang) dihuni oleh suku Bai dan suku Hui. Namun pada umumnya Orang Tibet berada di mana-mana.

Aku tak sempat berinteraksi secara mendalam dengan suku Hui dan suku Bai. Yang aku tahu, restoran Muslim diusahakan oleh suku Hui yang memang memeluk agama Islam. Demikian pula aku tak sempat berinteraksi mendalam dengan suku Naxi. Hanya orang Tibet dan suku Lisu (yang menjadi sasaran proyek) yang bisa aku ceritakan di sini.

Tulisan ini jelas tidak dimaksudkan sebagai bagian dari 56 suku minoritas China yang ditulis oleh Sophie dan JC. Sebab aku memang bukan ahlinya. Namun, biarlah tulisan ini menjadi pelengkap artikel mereka.

Jika suku-suku lain di wilayah ini lebih suka menghuni wilayah lembah datar, ada satu suku yang lebih suka menghuni puncak gunung. Yaitu Suku Lisu. Suku Lisu memang dikenal sebagai suku yang menghuni puncak gunung. Entah mengapa mereka berada di sana. Konon, salah satu informasi yang aku pernah dengar, perpindahan mereka ke puncak gunung berhubungan dengan masalah penyakit. Di puncak gunung jelas lebih jarang penyakit. Malariapun tidak ada (terlalu tinggi untuk nyamuk). Bandingkan dengan suku-suku yang tinggal di pohon di Papua untuk menghindari malaria.


Suku Lisu

Di Wu Jing kami mengunjungi salah satu dusun di atas gunung. Dusun tersebut bernama Zi Mu Xiong, masuk dalam Desa Chang Jue. Dusun ini terletak 2.800 mdpl, sementara Kota Wu Jing adalah 2.000 mdpl. Artinya kami harus mendaki setinggi 800 m ke atas gunung. Pintu masuk ke desa adalah sebuah jalan tanah. Saya tidak yakin mobil bisa naik ke atas. Betul saja di beberapa tempat kami harus menahan nafas karena tidak yakin mobil akan bisa melewatinya. Di beberapa tempat saya memilih untuk turun dari mobil karena takut. Jurang di samping jalan lebih dari 300 m. Namun akhirnya kami selamat sampai di kampung. Jalan mendaki hanya kira-kira 7 km saja. Bayangkan 800 m naik hanya melalui 7 km, 45 menit dengan mobil!

Dusun Zi Mu Xiong dihuni oleh suku Lisu. Suku Lisu adalah suku yang hidup di atas gunung. Mereka tersebar di China, Mianmar, Thailand dan Laos. Mereka memang tinggal hanya di atas (puncak) gunung.

Mereka ini adalah pengumpul tanaman herbal dan jamur-jamur untuk bahan jamu. Salah satunya adalah tanaman bahan Yunan Bai Yao. Mereka memanen buah walnut dan Shicuan pepper untuk dijual, sementara apel dan peer tumbuh liar dan hanya untuk dimakan sendiri. Mereka juga menanam wheat, jagung, kara putih dan kedelai. Mereka beternak babi, sapi dan ayam.

Tanaman herbal seperti bahan Yunan Bai Yao di bawah ini dikumpulkan dari hutan. Sebab memerlukan watu minimal 4 tahun untuk memanen umbinya yang hanya sebesar kencur.

Mereka menanam jamur morel untuk bahan herbal. Sayangnya saat ini mereka baru membuat bedengan dan belum ada jamur yang tumbuh. Jamur Matsutake (Tricoloma matsutake) mereka kumpulkan dari hutan. Bulan Agustus adalah saat puncak panen mastake. Namun saya beruntung karena masih bisa mendapatkannya.

Sebagai penduduk yang tinggal terpencil di puncak gunung, kemampuan mengukir kayu mereka sungguh sangat mengagumkan. Semua rumah selalu terdapat ukiran.

Sebagai suku yang tinggal di atas gunung, mereka takut akan api. Untuk mengusir dewa api, mereka menggunakan kantung kemih babi yang ditiup dan diletakkan di bawah atap rumah.

Perempuan Lisu berdada rata. Saya yakin ini berhubungan dengan kondisi tempat hidup mereka yang terjal. Dengan dada rata, keseimbangan mereka lebih terjaga. Dolly Parton, Jupe dan Ashari bersaudara pasti menyesal jika mereka dilahirkan sebagai orang Lisu. Sebab dadanya yang bongsor pasti menyulitkan mereka untuk berjalan di tebing-tebing.

Berbeda dengan orang Tibet yang meletakkan mayat di atas para untuk dimakan burung, mayat orang Lisu dikubur di tanah.

Perjalanan pulang kami memilih untuk jalan kaki. Sebab kami ngeri melewati tebing-tebing. Namun sialnya kami tersesat di hutan pinus gara-gara ingin mencari jalan singkat.

Namun setelah dua jam akhirnya kami menemukan kembali jalan pulang. Dan kami dihadiahi oleh alam suatu pemandangan yang luar biasa indah berupa puncak emas yang Nampak dari celah dua gunung yang mengapit kami. Dan saya pun mengucap Halleluyah.


Orang Tibet

Di atas sudah banyak aku ceritakan tentang orang Tibet. Namun aku ingin tambahkan beberapa informasi yang aku dapatkan di Wu Jing dan dari Desa Chang Jue. Setelah hari sebelumnya kami mengunjungi suku Lisu, kini kami berkunjung ke desa Chang Jue. Desa ini dihuni oleh orang Tibet.

Desa Chang Juei terletak di tepi Sungai Jing Sha. Orang Tibet memang lebih suka tinggal di plateu daripada di atas gunung.  Sebelah timur kampung adalah Sungai Jing Sha, sedangkan di sebelah barat adalah perbukitan batu yang di beberapa tempat berupa tebing 90 derajad dengan ketinggiannya mencapai lebih dari 200 m.

Mereka adalah peternak babi. Bahkan pertaniannya pun banyak digunakan untuk memproduksi pakan babi. Mereka menanam jagung dan sejenis chicory (sayur pahit) untuk pakan babi. Bahkan lahan yang disediakan untuk pakan babi lebih luas dari lahan yang disediakan untuk tanam padi. Mereka menanam padi di lahan seluas 2,5 mu (1 ha = 15 mu) dan menanam jagung di lahan seluas 8 mu. Mereka juga pengumpul buah walnut.

Mereka adalah penganut Budha Tibet. Saya menjumpai banyak pagoda di tepi jalan, di sekolah dan di kantor-kantor pemerintah. Mereka juga mempunyai pendeta yang tinggal di pura atas bukit. Simbol yang saya dapati di hampir semua bangunan adalah bulan sabit dan matahari. Di ujung pagoda mereka meletakkan matahari di atas bulan sabit.

Mereka juga takut akan api. Berbeda dengan orang Lisu yang mengusir dewa api dengan menggunakan kantong kemih babi yang ditiup, orang Tibet memasang boneka dua ikan yang berada di bawah matahari dan bulan sabit yang digantung di ujung atap rumah. Mereka bilang dewa api takut datang karena ada ikan yang hidup di dalam air. Jadi rumah tersebut akan bebas dari kebakaran.

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *