Langkah Harun

Mutaminah


Di kamar kontarakannya yang sempit dan gelap, Harun gelisah tak menentu. Kadang dia berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, kadang duduk, dan kadang berbaring sembari menatap langit-langit kamarnya yang telah usang. Wajahnya tegang seperti digelayuti beban ratusan kilogram. Setiap tingkah polahnya terlihat gugup. Udara panas yang tengah melingkupinya tak terasa sedikit pun oleh Harun.

“Aku tidak boleh diam saja di sini!” gumam Harun pada dirinya sendiri, tangannya mengepal menggenggam udara. Akhirnya Harun bergegas keluar dari rumahnya itu. Teriakan istrinya yang bertanya kemana Harun akan pergi, tak diindahkannya sama sekali.

Harun berjalan tergesa menyusuri jalanan-jalanan kampung yang gersang. Meski begitu, ia sama sekali tak tahu kemana tujuan langkahnya itu. Sementara, otaknya terus berpikir keras mencari jalan keluar akan masalah pelik yang tengah dihadapinya.

Tak ada rasa lelah sama sekali yang dirasakan Harun meski dirinya telah berjalan beberapa kilometer jauhnya. Begitu pun sinar mentari yang menyengat memanggang kulitnya yang kering dan mulai keriput, semuanya hanya seperti satu penghalang sepele yang tak berarti bagi Harun.

Kakinya yang beralaskan sandal karet terus menapak aspal. Baju kumalnya mulai basah menyerap keringat yang mengucur deras dari tubuhnya. Tapi tak juga ada titik terang yang ditemukan Harun.

Di suatu mesjid akhirnya Harun beristirahat. Pikirannya mengawang jauh meninggalkan dirinya yang malang itu. Di hatinya dialog dengan Tuhan tengah digelar.

“Ya Tuhannn…. Lihatlah hambamu ini, kalau benar Kau ada, tolong bantu aku Tuhan. Katanya Kau Maha Melihat, masa Kau tidak melihat aku kesusahan seperti ini? Katanya Kau Maha Pengasih, tapi Kau tega sekali membiarkan aku dirundung masalah nyawa seperti ni? Apakah Kau menghendaki aku menjadi pembunuh duhai Tuhanku? Ohhh Tuhan, apakah orang miskin seperti aku ini tak layak memasuki satu saja pintu syurgaMu dan menetap di dalamnya? Ya Tuhan… aku kan juga ingin menjadi seperti Muhammad yang memuliakan Khadijah. Tapi apalah dayaku ini, aku hanya pengangguran yang bernasib sangat sial.”

Begitulah terus dialognya dengan Sang Pencipta bergulir, hingga bosan dia menggerutu sendiri dalam hatinya sedang Tuhan tak jua menjawab dan menegurnya, setidaknya menghibur sedikit dengan mengingatkan bahwa roda akan berputar. Lalu, dia kembali berdiri. Menghela nafas panjang tanda dia siap kembali menyusuri jejak kasih saying Tuhan itu.

Kini, dia kembali mengayunkan langkah mencari sepotong harapan. Matanya lebih tajam mencari secuil kesempatan, “siapa tahu tersembunyi hingga aku tak melihatnya” yakinnya pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba dia melihat sebuah kerumunan yang sangat padat dipelataran parker sebuah gedung yang elok dipandang. Manusia-manusia berjejalan tak lagi menyisakan ruang untuk sekedar menyelusup ke sela-selanya. Mereka semua seperti kesetanan di siang bolong begini. Dengan perasaan yang bertanya-tanya akhirnya Harun mendekati kerumunan itu juga, tapi dia tak tahu, kerumunan apa itu sebenarnya.

“Pak, ini ada apa ya?” Tanyanya pada seorang satpam yang tampak sangat kerepotan mengamankan kerumunan itu.

“Pembagian beras gratis.” Jawab Pak Satpam dengan muka garang.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Dua jam berlalu. Senyum puas tersungging di bibir Harun. Dijinjingnya sebuah keresek hitam. Jalanan itu kini kembali dilaluinya, tapi dengan hati yang lapang, bukan dengan hati yang resah tak menentu. Kerumunan orang itu semakin menjauh, hingga akhirnya teriakan-teriakan histeris yang menyelimutinya, tak lagi di dengar Harun.

Langkahnya semakin cepat dan pasti. Senyum puas itu berganti menjadi senyum penuh kebanggaan, apalagi ketika matanya menangkap bayangan rumah kontrakannya di ujung jalan.

“Astagfirullahal ‘adzim… kenapa pak? Kenapa muka Bapak bonyok begini? Lihat sekujur badan Bapak memar begini! Bapak dipukuli orang? Kenapa Pak?” ceracau istri Harun ketika melihat suaminya pulang dengan luka memar di tubuhnya.  Dengan khawatir dia memeriksa keadaan Harun.

Harun, dengan nada bangganya menjawab “Lihat Bu, betapa gagah suamimu ini karena telah menyelamatkanmu dan anak kita dari kematian karena kelaparan. Masaklah beras 1 kg ini, ku lihat masih ada garam di dapur agar nasinya tak terasa hambar. Aku hebat kan, Bu?”


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.