Segelas Kopi Untuk Manggarai

Alfred Tuname


Obrolan Bersama Ibu Maribert Erb: Segelas Kopi Untuk Manggarai

(Tulisan ini merupakan hasil guratan-guratan pendek penulis dari diskusi bersama beberapa mahasiswa/i dan orang tua Manggarai di cafe Kampung, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 07 Oktober 2010. Diskusi ini menghadirkan seorang antropolog dari University of Singapore, Maribert Erb. Ia melakukan penelitian di Manggarai, Flores Barat, NTT sejak tahun 1980-an. Hasil penelitiannya dipublikasikan dalam berbagai jurnal dan buku).


First Touch

Maribert Erb lahir 55 tahun yang lalu. Ia hidup di saat generasi baby boomer merebak di Amerika Serikat. Saat itu, generasi muda tidak puas dengan kondisi yang terjadi setelah perang dunia ke II. Situasi perang masih ada (perang Vietnam) dan bom atom serta kerusakan lingkungan sehingga menganggu stabilitas kehidupan manusia. Maribert muda pun masuk dalam situasi revolusi pada tahun 1970-an.

Maribert Erb menamakannya revolusi orang muda. Revolusi orang muda  mendambakan kehidupan dunia yang lebih baik dan menentang nilai-nilai lama yang kaku. Generasi muda saat itu memiliki kerinduan untuk melihat lagi corak-corak kehidupan lain di dunia “luar” yang dianggap masih asli dan unik. Dan terdorong dari keinginan ini, Maribert muda pun melihat studi antropologi adalah jalan yang cocok untuk mengantarkan dirinya mengenal dunia luar tersebut. Baginya, antropologi adalah studi tentang dunia lain dengan corak kehidupan manusia berkumpul di dunianya sendiri. Antroplogi adalah studi tentang perbandingan dimana dengan melihat dunia luar, orang dapat melihat corak kehidupannya sendiri.

Sebab minatnya terhadap antropologi, Maribert pun mulai tertarik terhadap hasil seni pahat (art) dari berbagai negara khususnya negara-negara di benua Afrika yang dipamerkan di beberapa museum yang di kunjunginya. Dari pengamatannya itu, ia pun masuk dalam pertanyaan yang sangat antopologis, apa arti cara hidup seperti ini? Apa makna semua itu? Pertanyaan ini mendorong dirinya untuk terlibat langsung dengan proses budaya seperti itu. Mulanya, Maribert Erb ingin mengunjungi benua Afrika tetapi kemudian pilihannya jatuh ke Indonesia.

Korespondensinya dengan seorang  temannya di propinsi Timor-Timur (sekarang negara Timor Leste) membuatnya ingin memahami sistem kawin-mengawin. Dari temannya itu, ia mendapat penjelasan bahwa sistem kawin-mengawin di Timor Timur memiliki kaitan kosmologis. Salah satu sistem kawin-mengawin yang mirip dengan sistem kawin-mengawin yang ada di Timor Timur adalah Manggarai, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur.


Berkat korenspodensinnya juga dengan A. J. Verheijen,  seorang pastor di Manggarai,  pada bulan April 1983  Maribert Erb datang ke Indonesia. Sejak Mei 1983, ia menetap selama 2,5 tahun di Lempang Paji, Manggarai Timur. Ia memulai participatory researh dengan studi bahasa Rembong. Lalu ia melakukan penelitian terhadap sistem adat dan sistem kawin-mengawin di daerah tersebut.

Setelah penelitian ia kembali ke New York untuk menyelesaikan kuliahnya.

Tetapi minat dan ketertarikan terhadap budaya Manggarai tidak berhenti di sana. Ia pernah membantu pater Stanis Wiparlo membangun kembali rumah adat niang rowang di Todo yang telah rusak. Ia membantu mencari gambar niang rowang yang asli yang pernah dibangun sekitar abad 17 atau 18. Potret niang rowang tersebut pernah diabadikan oleh seorang manca negara yang datang ke daerah itu. Dan gambar tersebut diperolehnya di Singapura setelah pencariannya ke berbagai negara.

Dengan gambar ini, niang rowang dapat dibangun kembali sesuai dengan bentuk aslinya. Lalu selain beberapa tulisan tentang budaya Manggarai diterbitkan di berbagai jurnal internasional, ia juga mengenalkan budaya Manggarai ke dunia internasional dengan bukunya The Manggaraians yang terbit pada tahun 1999 di Malaysia. Hingga saat ini ia terus melakukan penelitiannya di nuca lale (Manggarai).


Cerita dari Rembong dan Rajong

Dari penelitiannya, Maribert Erb mendapati cerita (dongeng) kepercayaan permulaan kehidupan dunia di Rajong. Orang Rajong percaya bahwa kehidupan manusia pertama terdapat di Rajong. Di sana terdapat seperti taman Firdaus berikut terdapat buah terlarang, ular dan jejak kaki nenek moyang. Cerita ini seolah visualisasi kisah manusia pertama dalam kitab genesis.

Berdekatan dengan Rajong, terdapat sebuah perkampungan Rembong. Dalam kaitannya dengan magis kosmologis, Orang Rembong menyebut dirinya sebagai ata mame dan orang orang Rajong sebagai ata ta’a. Orang Rembong dan Rajong memiliki kualifikasi tertentu dalam pengerjakan mata pencahariannya. Orang Rembong sebagai ata mame mempunyai mata pencaharian sebagai penenun.

Orang Rajong sebagai ata ta’a mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Hukumnya adalah orang Rembong tidak boleh ikut panen atau bertani sebab jika demikian maka orang Rembong dengan sendirinya akan mendapat tulah atau sanksi alam. Bagitu juga halnya dengan orang Rajong bahwa orang Rajong tidak boleh ikut dalam menenun sebab jika demikian maka orang Rajong akan mendapat tulah terhadap hasil mata pencahariannya. Relasi kausalitas ini menciptakan dasar ekonomi terhadap dua kampung tersebut.  Relasi ekonomi terjadi dengan aktivitas perdagangan antara orang Rembong dan orang Rajong. Orang Rembong memperdagangkan hasil tenunan dan orang Rajong memperdagangkan hasil pertanian. Harga terjadi tergantung pada kesepakatan dalam proses jual dan beli.


Orang Manggarai dan Budayanya

Pertanyaan mencuat dilayangkan kepada seorang antropolog adalah tentang keaslian. Dari mana asal-usul orang Manggarai? Pertanyaan ini berkaitan dengan sejarah awal orang Manggarai. Pernah muncul cerita bahwa kemungkinan asal-usul orang Manggarai adalah orang Mangkabau. Cerita ini muncul dikarenakan kemiripan ritual budaya dengan Minangkabau. Tetapi menurut Maribert Erb, asal-usul orang Manggarai bukan berasal dari Minangkabau.

Belum ada bukti sejarah bisa memastikan bahwa orang Minangkabau pernah datang dan menetap di daerah Flores barat tersebut. Menurutnya, berdasarkan penelusurannya, orang Minangkabau biasanya mendatangi suatu daerah dan menetap di suatu daerah karena mereka mendapatkan keuntungan ekonomis. Pertanyaannya, untuk apa mereka  datang ke Manggarai yang saat itu belum menunjukan keuntungan ekonomis bagi mereka? Dalam beberapa wawacaranya dengan orang Manggarai tentang asal-usul orang Manggarai, sering didapati jawaban dengan dongeng dan bahasa kiasan.

Satu di antaranya adalah cerita orang Manggarai berasal dari bambu. Jawaban ini hanya melambangkan bahwa mereka sudah lama menetap di daerah tersebut sehingga mereka pun tidak tahu dari mana mereka berasal. Dan keaslian orang Manggarai adalah mitos. Semakin kita bertanya tentang keaslian maka kita tidak akan pernah menenukan jawabannya. Suatu keaslian selalu  disertakan dengan pertanyaan tentang keasilannya.

Sejarah kerajaan di wilayah nusantara juga mempengaruhi Manggarai. Kerajaan Goa dan Bima turut andil dalam perkembangan kehidupan sosialitas Manggarai. Aktivitas perdagangan antarpulau (kerajaan) mempengaruhi sistem “pemerintahan” dan budaya Manggarai. Akibatnya, kehidupan masyakarat Todo dan Kempo dipengaruhi oleh kerajaan Bima. Masyarakat Labuan Bajo dipengaruhi oleh kerajaan Goa (Makasar). Dan distribusi budak pun terjadi akibat relasi perdagangan tersebut.  Penamaan wilayah di Flores barat ini pun sangat terkait dengan relasi kuasa dalam sejarah kerajaan ini. Versi penamaan Manggarai pun dianggap berasal dari bahasa Bima. Kerajaan Bima saat itu menyebut  orang-orang di wilayah Flores barat sebagai pencuri cangkar atau manggarai. Sejak saat itu nama manggarai menjadi populer. “Tetapi cerita ini merupakan salah satu strategi penguasaan atas suatu wilayah dalam relasi kuasa”, jelas pater Frans Mansen, SVD.

Dalam beberapa penelitiannya, Maribert Erb sudah melihat bagaimana orang Manggarai berpikir tentang budayanya sendiri. Atas kesadaraan ini, orang Manggarai mulai menyusuri potensi budayanya sendiri selain supaya generasi berikutnya tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri tetapi juga supaya hasil cipta, rasa dan karsa orang Manggarai dapat diketahui dan dinikmati oleh orang lain (potensi pariwisata). Dokementasi dan penulisan budaya Manggarai pun mulai ditingkatkan. Kesenian-kesenian khas (caci, sanda, mbata, dll) orang Manggarai pun diberdayakan. Kearifan dan kekayaan budaya lokal sangat penting untuk menyelamatkan kehidupan bersama yang lebih baik dan damai. Maribert Erb mengutip seorang penulis yang mengatakan bahwa kehidupan paling baik di bumi ini adalah hidup berkomunitas yang kecil dimana semua saling kenal dan membantu. Kemudian ia menambahkan bahwa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan bumi ini selain kembali ke lokal.

Hidup di zaman sekarang, like or dislike, kehidupan lokal tentu dipengaruhi oleh pentas global. Orang Manggarai pun masuk dalam agenda globalisasi. Budaya Manggarai mendapati tantangannya sendiri. Karena pengaruh ini, budaya Manggarai sendiri tidak mengalami perubahan. Yang berubah adalah cara pandangan (mind set)  orang Manggarai terhadap budayanya sendirilah yang berubah. Inilah pergeserannya. Pergeseran cara pandang ini juga dipengaruhi cakar pemerintah dan gereja yang sangat hegemonik. Regulasi pemerintah dan tafsir hegemonik gereja atas budaya Manggarai mengakibatkan terbentuknya fungsi pembatasaan atau pelarangan terhadap beberapa kebiasaan adat dalam budaya Manggarai.

Adat belis tetap dipertahankan sebagai “ritual” sebelum sebuah sebuah pasangan melangsungkan pernikahan. Sebelum pemerintahan orde baru sangat otoriter, orang Manggarai biasa menggunankan hasil-hasil alam untuk membayar pajak kepada pemerintah. Begitu juga dengan adat belis. Untuk belis, orang Manggarai biasanya menggunakan kebau, sapi, babi dan ayam. Tetapi kemudian orde baru memasukan uang sebagai ke wilayah Manggarai. Alasannya pemerintah butuh bajak dalam bentuk uang untuk pembangunan. Sejak itulah uang digunakan untuk belis. Menurut Maribert Erb, uang inilah yang merusak nilai. Apa budaya kalau bukan nilai? Nilai budaya dalam belis pun kabur di mata uang.

Sementara itu, dalam panji tourism, pemerintah dalam hal ini dinas pariwasata menjadikan budaya kesenian Manggarai sebagai seni pertunjukan. Parade kesenian budaya digelar untuk mendapat simpati wisatawan domestik maupun manca negara. Kritiknya adalah dengan pertunjukan-pertunjukan seperti budaya kesenian Manggarai telah dijadikan sebagai barang komoditas yang terpampang baris dalam etalase. Dan dengan sendirinya, nilai dalam kesenian itu musnah dan tidak berbeda jauh dengan jenis pertunjukan lainnya. Kesenian seharusnya embodied dalam jiwa orang Manggarai. Dengan itu, orang Manggarai dapat membawa budayanya dalam kehidupannya sehari-hari (daily life) bukan semata-semata untuk pertunjukan.

Pada hal jika pemerintah ingin manaikkan posisi tawar pariwisata lokal, pemerintah seharusnya membantu mengaktifkan perangkat-perangkat adat yang telah mati suri atau pernah dimatikan fungsinya. Dengan demikian, kearifan lokal dan kekayaan kesenian lokal semakin diberdayakan sebab semua itu bagian dari cara hidup orang Manggarai. Slogannya, kembali pada kehidupan di lokal yang kecil. Suatu situasi yang paradoks pemerintah daerah adalah melakukan studi banding ke Bali dan ingin membangun pariwisata Manggarai seperti Bali. Sementara itu, banyak wisatawan yang keluar dari Bali mencari wilayah-wilayah lokal lainnya yang masih “asli” sebab sudah jenuh dengan Bali.

Budaya Manggarai merupakan warisan tanpa surat wasiat kepada orang Manggarai itu sendiri. Orang Manggarai sendirilah yang mempunyai kuasa untuk mempertahan keaslian budayanya. Di tengah arus  globalisasi dan modernisasi, budaya lokal Manggarai mendapat tantangan yang tidak ringan. Penulis mengutip Goenawan Mohamad bahwa seorang sosiolog, Anthony Gidens menyebutnya dengan sebuah kata kunci: risiko-yang baginya mendasari perikehidupan budaya saat ini.

Dan dengan kesadaran akan risiko, kekuasan manusia Manggarai adalah kekuasaan menghadapi dirinya yang melihat budayanya berhadapan dengan budaya-budaya lain. Maribert Erb sudah datang ke Manggarai dari negeri seberang. Manggarai sudah menyentuh hatinya dan ia juga berkarya menyelamatkan warisan budaya lokal Manggarai. Orang Manggarai sangat mengapresiasi usahanya dan berterima kasih. Tetapi Maribert datang bukan untuk membuat sejarah Manggarai, melainkan sejarah bagi dirinya sendiri di tengah orang Manggarai. Lalu bagaimana orang Manggarai dalam sejarahnya melihat dan berpikir tentang budayanya sendiri? Bagaimana pun juga kelangsungan budaya Manggarai berada di tangan orang Manggarai itu sendiri.


Alfred Tuname

Jogja, 10 Oktober 2010

69 Comments to "Segelas Kopi Untuk Manggarai"

  1. love peace  13 November, 2012 at 06:51

    terimakasih buat yg nulis diatas. ini sebuah refleksi buat saya sebagai orang manggarai. yah kesadaranku tumbuh kembali tuk selalu menjaga dan mempertahankan budaya, adat istiadat kita. i love manggarai…

  2. Saldy  1 April, 2012 at 11:19

    Aq bangga krn punya manggarai,,krn brgitu banyak budaya dan kebudayaan yg di temukan di manggarai,,yg walaupun manggarai berasal dari banyak suku tapi aq bangga rasa persekutuan org manggarai begitu kuat yang walaupun dimana mereka berada,,jadi kita harus bangga menjadi warga
    atau penghuni manggarai,,,,,love u so much manggarai

  3. RAMA  22 February, 2011 at 13:29

    Tulisan yang berwawasan.

  4. adhye belantara  12 February, 2011 at 20:58

    segelas kopi dipagi hari mengawali aktivitas ….menambah semangat menghilang rasa nggantuk…dan fokos dalam aktivitas sehari-hari
    masarakat manggrai pada umumnya mengkonsumsi sebagai alat pengsemangat dan berkonsentrasi dalam segala hal
    dimanapun itu keadaan apapa selalu diawali segelas kopi manggarai yang aduhai…..
    i love kopi manggarai

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.