25 Days (4 negara, 11 kota) – Part 2

Lani – Kona, Hawaii


14 Agustus 2010: Madrid Hari Kedua

Pagi hari selesai sarapan, kami balik ke centrum untuk ikut bus tour seharga Euro 17.20 bisa digunakan dari jam 9:30am-midnight, bus bertingkat dilengkapi dgn audio dengan berbagai bahasa, peta gratis. Di tiap tempat yang dilewati bisa stop dan melihat lebih dekat, kemudian naik bus tour lagi di tiap bus stop/halte bus.

Mengikuti tour adalah cara terbaik, untuk kunjungan singkat, karena bisa melihat sebanyak mungkin. Kesan dari tour sehari, banyak bangunan tua, indah dari segi arsitekturnya, banyak museum, taman kota, luas, indah, bersih, terawat. Kami sempat turun lihat festival, seperti pasar malam ramai, music berdentum, kebanyakan yang dijual makanan/jajanan ala Spanyol, aku tidak mencicipi karena kebanyakan rasanya manis, aku tidak suka manis lewatin aja.

Foto one day tour:

Hari ini kami sempat mengunjungi salah satu istana raja Spanyol tidak ditinggali dengan alasan keamanan, hanya boleh dilihat dari luar tidak ada tour untuk melihat di dalam istana. Istana ini tidak terlihat mewah sama sekali, biasa-biasa saja hanya sangat besar bangunannya, luas halaman luarnya, aku ingin berfoto dengan penjaganya 2 polisi Spanyol ternyata mereka tidak diperbolehkan berfoto dengan pengunjung, kupikir seperti penjaga istana di Inggris yang boleh diajak berfoto. Kecewa karena 2 polisi penjaganya cakep, di mana saja, kapan saja, asal lihat orang kece jangan dilewatkan….dasaaaar!

Kami makan siang di restoran local, temanku pesan PAELLA (dibaca paeya), nasi seafood ala Spanyol, saya memesan PATATAS (kentang goreng ala Spanyol/French fries) dicocol dengan ketchup, rasanya beda dengan French fries yang dijual di restoran franchise seperti Mac Donald, Burger King dkk, tidak tahu bagaimana cara mengolahnya, menurut penglihatanku sama hanya kentang goreng biasa. Sempat ngicip PAELLA pesanan temanku tidak enak, hambar, apakah memang begitu rasa makanan di Spanyol atau karena di restoran ini tukang masaknya gak becus hahaha.

Paella, tidak enak, mahal lagi Euro 9.00 harga Patatas Cuma Euro 3.50 malah lebih enak menurut lidahku tentu saja.

Selama di Spanyol aku harus hati-hati kalau memesan makanan, karena hampir di semua menu mereka menggunakan daging babi, malah sempat melihat banyak sekali daging babi itu digantung di restoran, setelah diawetkan dengan diasap.

Selesai tour hampir jam 8 malam, kami mencari restoran untuk makan malam, teman-teman sebelum aku berangkat sudah berpesan jangan makan di restoran Asia di negara manapun di Eropa selain di Belanda, karena rasanya sudah dimodifikasi jelasnya jangan ngomong soal rasa, ngalor-ngidul=tidak enak, mahal pula.

Temanku “S” mengajak makan di restoran Cina, dengan alasan harganya lebih murah, walaupun aku ingin menolak tapi kali ini aku menurut aja, memilih selamat aku pesan bakmi goreng. Haiyaaaaaaa…..benar dari penampilannya saja sudah memedenikan kinyis-kinyis berminyak haduh, kepiye iki? Dengan terpaksa aku makan tutup mata aja, rasanya ngalor-ngidul, boleh tanding bakmi goreng masakanku 100X lebih enak wakakakaka.

Kecewa, masih harus bayar Euro 6.75, amit-amitlah.

Selesai makan malam, critanya aku akan dibawa menikmati night life in Madrid, sekedar mendengarkan life music, dancing, kami muter sana-sini, sempat nyasar akhirnya temanku tanya orang di jalanan lokasi pub/club yang dia maksudkan. Sampai juga ke lokasi yang dimaksud, tapi sangat mengecewakan tempat itu sepi, temanku juga heran malam minggu sepi begini, mereka pada ke mana?

Batal menikmati music dan dancing, kami balik ke hotel hampir jam 2 pagi, gila benar karena kami start sejak pagi sampai hotel sudah pagi lagi esok hari.

Secapai apapun pagi itu sebelum naik ke tempat tidur, aku harus mandi, temanku langsung ngorok, dia mengatakan kalau sudah kemalaman mandi, malah tidak bisa tidur mata jadi segar kembali.


15 Agustus: Madrid – Burgos

Bangun terlambat, hampir jam 11 pagi, mandi, check-out kemudian ke café sarapan, dari sana langsung naik metro ke bus station dengan tujuan tempat tinggal temanku, BURGOS. Kira-kira menempuh perjalanan selama 3 jam naik bus antar kota, bus nya gede-gede seperti bus malam, bagus kempling, bersih, ber AC, nyaman sekali, menurutku ada satu kekurangannya tidak ada toilet di dalam bus.

Perjalanan sangat mulus, dihibur dengan music dari radio station, dengan mata terkantuk-kantuk kupaksa untuk menikmati pemandangan di sisi kiri, kanan jalan, sejauh mata memandang gersang, seperti padang pasir, batu cadas, dipenuhi dengan perkebunan olive. Tidak ada pepohonan rindang, tinggi, besar, semuanya serba pendek. Terlihat beberapa rumah para petani terbuat dari batu, sangat membosankan pemandangannya, akhirnya tak kuat menahan rasa kantuk, mata yang berat hingga tak terasa tertidur sejenak, tahu-tahu sudah tiba di BURGOS.


Keluar dari bus brrrrrr…….disambut udara dan angin dingin kota kecil BURGOS, dari bus station kami jalan kaki ke rumah temanku karena tidak begitu jauh, selama berjalan kaki sambil menikmati pemandangan di perjalanan, semua toko tutup karena hari Minggu.

Akhirnya sampai juga ke flat temanku, “S” tinggal di lantai 3, tidak ada lift jadi harus naik tangga, bawa koper lagi betul-betul butuh perjuangan berat, aku merasa butuh extra tenaga, karena tidak sempat beristirahat kurang tidur. Flat temanku kecil mungil, sempit, banyak barang lagi, dengan 2 kamar tidur, ruang tamu yang digunakan untuk memberi les (temanku guru bahasa Inggris, mengajar di dua sekolahan, juga memberi kursus di rumah), dapur digabung untuk tempat cuci baju, kamar mandi.

Tempat untuk menjemur baju digantung di luar jendela, baju dijepit pakai jepitan agar jangan kabur tertiup angin, atau kalau apes=sial jatuh ke atap flat di bawahnya. Aku sempat tanya bagaimana kalau musim dingin, mengingat kamu tidak punya dryer? Dijawab, baju digantung saja di dalam rumah, aku dikasih lihat beberapa rak penjemuran lokasinya di belakang ruang tamu. Menurutnya baju akan kering karena pemanas ruang/heater yang digunakan selama musim dingin.

Tenaga sudah tidak tersisa lagi aku langsung tidur selama 3 jam, bangun mandi, siap makan malam.

Kali ini kami naik mobil menuju ke kota, mobil temanku Citroen bikinan Perancis, seperti umumnya mobil-mobil di Eropa kecil mungil menghemat bensin, tidak seperti mobil di America balapan gede-gede-an, dasar negara pemboros dalam segala hal.

Mobil diparkir di jalanan, kami berjalan mencari restoran sambil menikmati pemandangan kota BURGOS, kesanku sangat sepi, kota buat orang pensiunan, bangunan serba kuno, indah, cathedralnya sangat indah walau baru lihat dari kejauhan dengan menaranya menjulang.

Udara dinginnya amit-amit, anginnya menusuk tulang sumsum, kebalikan dengan MADRID yang selalu panas. Kami berjalan di lapangan kota berbentuk square dikelilingi dengan gedung tua, dengan ukirannya yang sangat menakjubkan. Gedung-gedung tua itu selain pertokoan juga perkantoran, akan tetapi semua tutup karena kami sampai di sana jam 8.

Temanku memilih restoran local, ampun ramainya ½ modiaaaaaar kami harus menunggu lama, untung temanku ketemu temannya yang juga sedang makan di situ, mereka bilang tak lama lagi selesai,  jadi kami bisa menggantikan tempat duduk mereka.

Baru tahu ternyata, orang tidak harus antri siapa yang lebih dulu datang, akan tetapi siapa cepat itu yang dapat, bedanya dengan di Indonesia tidak perlu sampai rebutan, dorong-dorong-an, kalau perlu banting-banting-an hahahah

Malam itu aku pesan salad+burger dan telor ceplok kuningnya masih mentah waduh! Liat meleler aku serasa mau muntah, sebagai camilan kami pesan PATATAS dengan saus mayonaise+bawang putih enaaaaaaaak, temanku memesan tempura sayuran, seafood.

Kami menikmati makan malam tanpa bisa ngobrol sama sekali karena orang bicara, tertawa, sangat keras. Orang keluar masuk tiada hentinya, restoran ini sangat laris, sibuk sekali pembeli mengalir tiada hentinya. Membuat kepalaku pusing.

Selesai makan langsung kembali ke flat, berjalan kaki seperti dikejar anjing gila ke tempat parkir mobil karena saking dinginnya, kalau jalannya seperti putri Solo bisa kaku kedinginan hahaha…..

Sesampai di flat, buru-buru sikat gigi, langsung tidur sudah habis tenaga ini.


16 Agustus 2010: Burgos

Bangun pagi mandi, “S” sudah menyediakan sarapan, kopi, roti. Setelah sarapan aku santai saja sambil menunggu “S” selesai memberi kursus. Jam 1 siang, kami keluar kali ini ke supermarket, karena aku ingin memasak dan bikin lumpia untuk “S” yang bisa disimpan di freezer.

Supermarketnya besar, luas, komplit hanya saja bagian bumbu, makanan Asia sangat terbatas, batal tidak jadi bikin lumpia karena tidak menemukan kulit lumpia, akhirnya hanya bikin Bihun goreng dan Cap cai. “S” jarang memasak, menurutnya masakan Indonesia sulit dicari bumbunya dan ribet, tidak punya waktu, apalagi “S” tinggal sendirian, anaknya sedang ikut bapaknya berlibur ke Brazil.

Seharian kami mengitari kota BURGOS, kotanya bersih, sepi, tenang.

Kemudian ke travel agent, membeli ticket bus, pesawat dengan tujuan Madrid-Hanover. Hanover-Brussels. Brussels-Madrid.

Sampai di rumah sudah jam 9 malam, ngebut masak 2 macam, selesai tengah malam, mandi karena bau masakan semua badanku, langsung tidur.


17 Agustus 2010: Burgos – Madrid

Pagi ini aku diantar oleh teman dari temanku, jalan kaki melihat taman kota yang sangat indah, rindang, dan melihat cathedral, hari ini udara hangat.

Taman kota ini sangat rindang dengan pepohonan hingga sinar matahari sulit menembusnya, banyak bangku-bangku ditaman, terlihat pasangan manula duduk santai.

Sial, cameraku rusak jadi tidak bisa ambil foto, sedang camera milik temanku dicopet di Madrid, komplit kesialanku. Padahal “S” dengan cerewetnya begitu gencar memberi peringatan hati-hati dengan para pencopet di Madrid.

Sampai diflat “S” sudah selesai memberi kursus, kami keluar lagi, kali ini “S” ingin beli rice cooker, sampai keluar masuk 3 supermarket, tidak ada yang menjual ukuran kecil semuanya besar, lagi pula mahal harganya batal tidak jadi beli, nunggu sale.

Selesai putar-putar dari satu kelain supermarket kami pulang, aku segera ngepak koper, kemudian mandi, tidur, karena dini hari harus ke bus station dalam perjalanan ke Madrid. Jam 1:00 dini hari kami sudah bangun, jam 2:30 pagi diantar teman ke bus station, aku sendirian naik bus, sopir bus sudah dipesan oleh temanku aku turun di airport.

Sesampainya di airport, sempat kebingungan mencari shuttle bus untuk menuju ke terminal 2, tanya ke beberapa orang mereka tidak mengerti bahasa Inggris, akhirnya baca tanda shuttle bus di lantai bawah, aku naik lift sesampainya di bawah masih bingung lagi di mana pangkalan shuttlenya? Tanya lagi untung kali ini entah satpam/polisi mengerti bahasa Inggris, dikatakan naik bus berwarna hijau. Begitu naik aku asal nanya ke penumpang lainnya, terminal dos? Dia kasih tahu dengan bahasa tarzan yang penting aku ngerti heheheh

Penumpang shuttle cukup penuh, akan tetapi mereka dengan tujuan berbeda, karena BARAJAS ada 4 terminal. Ketika serombongan orang turun diterminal 1, entah karena terburu-buru sampai tidak perhatian, koperku ikut diturunkan, aku  berteriak, mereka sampai kaget karena salah ambil koper orang, jadinya ngakak bareng hahahaha.

Sampailah aku diturunkan di terminal 2, ada dua gedung, aku bingung lagi yang mana ini untuk check-in? Sempat lari-lari tanya kesana kemari, masuk kegedung pertama salah, maboklah kemudian lari ke gedung kedua, baru benar tapi harus tanya lagi mana nih check-in untuk KLM, airportnya luas jadi harus gerak cepat takut ketinggalan pesawat.

Boleh dikatakan olahragaku selama perjalanan ini kebanyakan di airport lari kesana kemari, karena takut ketinggalan pesawat, atau jalan-jalan menikmati panorama.

Sampai ketemu dalam cerita bagian 2:  MADRID-HANOVER (JERMAN)

notes : kelupaan ambil foto-foto makanan di restoran; foto kamar hotel di tempat kami menginap; foto baliho iklan film “Salt” yg dibintangi oleh sibibir tebal Angelina Jolie


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.