Orang Indonesia doyan sambel atau suka Chili?

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


SAMBEL atau cabe (kadang ditulis cabai) dalam bahasa Inggris disebut chili dan orang Spanyol menyebutnya chile. Lalu mengapa ada negara yang disebut Chile? Apakah negeri jajahan Spanyol itu menang penghasil cabe terbesar di jagat? Oh, tidak! Justru Cili (ejaan yang benar dalam penulisan bahasa Indonesia) adalah negara penghasil tambang.

Minggu lalu negeri ini menjadi berita dunia karena upaya penyelamatan warganya yang terkurung di bawah kedalaman sekitar 1 km, dilakukan secara heroik dan mendapat pujian umat manusia. Bukan karena prestasi makan sambel seperti konsumsi orang Indonesia.

Lalu apa hubungannya antara sambel dan Chili dan Indonesia? Letak geografis negeri yang merdeka 10 September 1810 itu, membujur kurus dari utara ke selatan yang dalam peta bentuk kurus, mirip cabe merah. Ada apa juga negara beribukota di Santiago itu dihubung-hubungkan dengan Indonesia?


SERUPA TAPI TAK BEDA

Siapa yang tak kenal nama Augusto Pinochet? Dia adalah penguasa negara Cili selama 17 tahun dengan tangan besi. Menyebut nama Pinochet, pasti orang akan menyebut nama Pol Pot si monster Kamboja, lalu nama Saddam Hussein penguasa ditakuti rakyat Irak, Nicolae Ceausescu yang menganggap negeri Rumania seperti miliknya, diktator Ferdinand Marcos dari Filipina atau Soeharto, penguasa seperempat abad lebih Indonesia dengan represif.

Pinochet naik kekuasaan melalui sebuah kudeta berdarah-darah pada September 1973 dengan menggulingkan serta membunuh presiden sebelumnya yang dipilih secara demokratis dari kubu marxis yang berbau komunis, yaitu Presiden Salvador Allende. Operasi penggulingan itu diberi nama sandi “Operation Djakarta”, yang disokong oleh badan intelijen Amerika Serikat, CIA. Tujuannya, agar operasi penggulingan itu bisa sukses seperti dilakukan di Jakarta tahun 1965 terhadap Presiden Soekarno.

Nah, sejak kudeta 11 September 1973 itu (sengaja dilakukan tanggal itu agar bertepatan dengan hari kemerdekaan Cili tanggal 10 September), Presiden Pinochet sering disamakan Presiden Soeharto. Mereka berdua adalah “binaan CIA” yang berhasil membendung radiasi komunis. Cuma bedanya, Pinochet “main kasar” dengan lawan-lawannya, sedang Soeharto sangat halus dan kalau mau jujur, sulit menyebut Soeharto sebagai diktator seperti Saddam, Marcos, Shah Iran atau Idi Amin yang gemar mencicipi daging lawan politiknya yang dibunuh.

“Saya heran mengapa saya didukung barat tetapi dibenci oleh dunia barat”, kata Presiden Cili Pinochet ketika berkuasa. Dia membandingkan dirinya dengan Soeharto, yang naik kekuasaan didukung penuh dunia barat dan selama berkuasa di sayang dan diterima oleh dunia barat. Pinochet tidak seperti itu. Dia diisolasi dan susah kemana-mana. Pernah tahun 1980 dia sudah di luar Cili dan siap datang ke Filipina (sama-sama jajahan Spanyol), tapi ditolak oleh Filipina secara halus dalam sebuah insiden diplomatik.

Bahkan pernah Pinochet tetap nekad ke Inggris meski akan ditangkap atas permintaan Spanyol, ketika dia sudah tak menjabat presiden lagi tahun 1998. Namun dia tak bisa diciduk karena memiliki kekebalan diplomatik. Aneh! Padahal dia bukan presiden lagi dan tangannya berlumuran darah. Bandingkan dengan presiden kita yang takut ke Belanda, padahal reputasinya sangat bagus dan harum di mata dunia, eeh… malah takut ditangkap atas pengaduan sekelompok orang separatis yang tak lagi diperhitungakan.

Pinochet sebenarnya ingin sekali bertemu Soeharto atau datang ke Jakarta. Namun kesempatan itu tak pernah datang. Dia ingin sekali belajar dari Soeharto agar tetap disayang barat. Ketika Pinochet turun tahta tahun 1990, dia masih punya power sama seperti Soeharto. Ketika Soeharto turun tahta, Presiden Abdurrahman Wahid mendapat masalah baru tentang cara memperlakukan Soeharto, yang dituntut rakyat agar diadili. Nah, Wahid akhirnya terbang separuh bola dunia untuk berkunjung ke Cili beberapa jam. Tujuannya agar Presiden Wahid bisa belajar dari Cili bagaimana cara memperlakukan mantan presidennya, yang kebetulan senasib dan sama kasusnya dengan Indonesia.

Bahkan anehnya, kesamaan itu makin nyata ketika tahun 2006 rakyat Cili memilih Michelle Bachelet sebagai presiden wanita pertama di negeri yang dikuasai para jenderal itu. Pemilihan Bachelet sama dengan terpilihnya Megawati Soekarnoputri tahun 2001. Baik Bachelet dan Megawati pernah keduanya mengalami menjadi korban penganiyaan politik, sosial, bahkan fisik oleh Pinochet dan Soeharto.


SAMBAL DAN CHILI

Kesukaan orang Indonesia terhadap sambal memang tak perlu dipertanyakan, meski belum bisa disebut sebagai bangsa pemakan sambal terbesar di dunia. Namun kesenangan meniru Cili atau chili yang berarti sambel dalam bahasa Inggris, seharusnya tak perlu ditanyakan lagi. Indonesia berusaha meniru Cili memperlakukan bekas pemimpinnya yang bermasalah. Cili juga pernah mau ikutan seperti Indonesia, agar didukung barat tetapi juga disayang  barat.

Peristiwa heroik penyelamatan warganya yang terbenam dalam perut bumi Cili, sangat mempesona dunia. Peran presidennya sangat dominan meski sering diejek lawan politiknya sebagai “cari muka”. Bandingkan dengan Indonesia yang sudah 4 tahun tak bisa menyelesaiakan semburan lumpur yang keluar dari perut buminya. Padahal Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono berkunjung pertama ke luar negeri setelah menjadi presiden adalah ke Cili, menghadiri KTT APEC 2004 bulan November. (Beberapa hari sebelumnya mendadak ke Kairo menghadiri pemakaman Presiden Yasser Arafat).

Pemimpin Indonesia lebih banyak menangis melihat penderitaan korban lumpur Lapindo. Mungkin saja air mata yang keluar bukan karena sedih, tetapi kebanyakan makan sambel. (*)

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *