Si Pembuat Taman Hati

Arca Angina


Setiap pagi lelaki itu berdiri di dekat jendela. Memandang hamparan bunga pagi sore yang tengah merekah. Ia sedang menanti seekor kupu yang akan pulang sambil membawa hati.

Terbanglah pulang kupu, hinggaplah dalam kuncup-kuncup bungaku yang mengembang. Sentuh putiknya, hisap sarinya. Lelaki itu bergumam sendiri, seperti mengucapkan mantra, memanggil kupu pulang.

Dan saat itu juga sosok yang ditunggunya melintas. Ia terbang perlahan. Menurunkan kepak, hinggap pada sebuah kuncup bunga pagi sore yang tengah merekah. Dari balik jendela, lelaki tersenyum, membuka pintu, dan menghampiri kupu.

“Selamat datang. Mari masuk,” sambut lelaki yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.

Kupu menatapnya. Pada sebentuk wajah yang membuatnya terpana. Pada lelaki yang berdiri di depan pintu rumahnya. Rumah bunga, di Selatan kota.

“Ayo, kau tampak lelah. Sudah terlalu lama kau terbang. Berbagi keindahan dengan yang lain. Hinggaplah sejenak. Aku buatkan kau secangkir puisi hangat,” lelaki itu berjalan ke hamparan bunga pagi sorenya, menggandeng tangan kupu, menuju beranda rumah.

Lelaki itu meninggalkan kupu duduk sendirian di ruang tamu. Ketika kembali, di tangannya sudah ada secangkir puisi hangat. “Kau perlu berteduh, membersihkan peluh,” ucap lelaki

“Terima kasih,” ucap kupu sambil tersenyum malu.

Kemudian lelaki itu membantu kupu melepaskan kepaknya yang kecil. Kepak yang membuat tubuhnya terbang melayang, hinggap dan membuat jejak dari satu kuntum ke kuntum bunga lainnya.

“Kepakmu terasa lembab seperti terkena hujan” kata lelaki.

“Kemarin hujan menangkapku hingga aku kepayah. Ia sengaja buat sayapku basah. Cemburu, karena aku inginkan bunga pagi soremu,” jawab kupu, muram.

“Oh ya?”

“Ya, dan ia mengurungku hingga hampir subuh menjelang.”

“Haruskah kuhalau hujan? Aku ingin kau selalu pulang ke rumah ini dengan membawa hati tanpa hujan merasa tercederai.”

Kupu tersenyum manis. Semanis bunga-bunga. Hanya sesuatu yang manis yang bisa melahirkan senyum semanis itu. Dan hati si lelaki berjatuhan dibuatnya. “Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” kata kupu.

Kupu dan lelaki bertukar cerita, diselingi gelak dan tawa. Angin bertiup pelan menerpa bunga pagi sore di halaman, hingga sore menjelang.

“Hari sudah sore. Aku harus pergi sekarang. Terima kasih untuk secangkir puisi hangat dan obrolannya,” kata kupu, seraya bangkit dari duduknya, dan memasang kembali kepak kecil yang tak lagi lembab karena sudah tersapu oleh angin.

Lelaki ikut berdiri. Menjejeri langkah kupu.

“Hem,” lelaki menggantung kalimatnya.

“Ada apa?” tanya kupu.

“Hem, apakah kau akan pulang lagi?” tanyanya, sedikit berbisik.

Kupu tersenyum. “Tentu,” jawabnya cepat.

“Kapan?”

“Akan kucuri lagi waktu.”

“Sepertinya kamu sibuk sekali”

“Aku harus membawa banyak sekali benih cinta. Lihatlah di seberang sana, ada hati lapang yang masih kosong dan gersang. Aku harus merubahnya menjadi hati yang dipenuhi dengan bunga-bunga cinta,” jawab kupu.

“Sulitkah?”

“Apa?”

“Pekerjaanmu?”

“Tidak. Ini pekerjaan yang menyenangkan. Membawa benih-benih cinta dan menebarkannya seraya aku terbang. Selanjutnya kau pasti tahu apa yang akan terjadi.”

“Ya. Kamu akan melahirkan bunga cinta tumbuh di banyak tempat. Kamu si pembuat taman hati.”

“Menyenangkan bukan?” kupu balik bertanya.

Lelaki mengangguk. “Menahan rindu membuatku sendu. Terbanglah selalu pulang. Bunga pagi sore telah bicara. Memintamu untuk terbang pulang ke rumah bunga,” pintanya.

Dan saat itu juga sosok yang selalu ditunggunya pulang, melayang pergi. Ia terbang perlahan. Mengembangkan kepak, meninggalkan kuncup bunga pagi sore yang tengah merekah. Dari balik jendela, lelaki itu tersenyum, menutup pintu, dan melambaikan tangannya pada kupu.

Setiap sore lelaki itu berdiri di dekat jendela. Memandang hamparan bunga pagi sore yang tengah merekah. Ia sedang menanti pagi dan berharap seekor kupu akan pulang sambil membawa hati.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.