Dosen Kebun Binatang

Hennie Triana


Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu di Medan, masa-masa kuliah di salah satu Universitas di sana.

Julukan ‘Dosen Kebun Binatang’ yang kami pakai untuk Dosen tersebut sebenarnya bukan bermaksud untuk kurang ajar dan tidak hormat, tapi hanya dari kebiasaan si Dosen sendiri. Beliau kalau marah pasti menyebutkan segala jenis binatang. Memang yang sering terjadi julukan terhadap diri seseorang adalah kebiasaan yang dilakukan orang itu sendiri.

Malas rasanya mengikuti satu dari mata kuliah wajib untuk jurusanku ini, bukan karena aku tidak menyukai mata kuliah ini, tapi karena dosen tersebut. Dengan sedikit keterpaksaan aku menghadirinya, tanpa pernah berusaha untuk bolos sekalipun.

Dosen ini memang luar biasa membuat para mahasiswanya takut, karena tiap semester mungkin paling banyak hanya 1% yang bisa lulus, dengan harapan maksimal nilai C. Yang membuatku bingung kenapa hal ini bisa terjadi, padahal mata kuliah ini tidak terlalu sulit. Atau mungkin beliau punya kriteria lain untuk kelulusan, atau mungkin hanya mengada-ngada dan sengaja mempersulit. Karena banyak sekali mahasiswa yang tertunda kelulusannya hanya karena satu mata kuliah ini.

Selama mengikuti kuliah kami harus siap-siap ‘sport jantung’ (hanya istilah kami), atau siap juga berdiri di depan kelas kalau tidak bisa menyelesaikan soal-soal yang diberikannya (persis seperti anak-anak sekolah zaman dulu). Pernah suatu hari satu kelas berdiri semua. Ini terjadi karena semua jenuh dengan keadaan, bosan mendengar segala jenis binatang yang terlontar.

Aku pernah dimarahi beliau karena tugasku ternyata dicopy oleh seorang teman, 100% sama. Tapi aku tidak mau mengakui itu. Sampai akhirnya si Dosen harus membuktikan sendiri siapa yang menyalin dan disalin tugasnya. Pada saat dimarahi itulah aku melihat ternyata bisa juga beliau tersenyum dan menurunkan nada suaranya.

Ujian semester telah selesai, dan hasilnya jelas tertera ‘GAGAL’, tidak seorangpun lulus. Nilaiku ‘D’ terpampang dengan manis di papan pengumuman.

Tidak ada jalan lain bagi kami kecuali mengulang mata kuliah tersebut dengan dosen yang sama di semester berikut, tentu juga dengan jumlah mahasiswa yang lebih banyak lagi. Dosen untuk mata kuliah ini hanya beliau satu-satunya dan yang terjadi setiap semester hal yang sama. Kalaupun ada keluhan para mahasiswa ke dewan Dekan, mereka cuma bilang “Ah, itu cerita lama”. Cukup mengherankan kenapa mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Menyedihkan, kami hanya bisa pasrah dan menerima apapun keputusan dari mereka yang berwenang.

Pada semester berikut aku kembali mengikuti rutinitas kuliah tersebut. Betapa membosankannya, kadang aku selingi juga dengan acara bolos. Aku ikuti saja, berusaha dan berdoa, lebih condong berdoa berharap ada keajaiban yang datang.

Ternyata memang keajaiban itu datang. Semester ini semua mahasiswa ‘LULUS’ tanpa terkecuali, dengan nilai seragam C”, tidak lebih dan tidak kurang. Kelulusan ini adalah ‘hadiah’ dari Dekan karena kesalahan si Dosen tersebut pada penyerahan batas akhir nilai. Tentu beliau tidak bahagia dengan hasil ini, dan menamakannya Cuci Gudang. Apapun istilah beliau, yang pasti aku bahagia karena bisa menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya.

catatan;

Ini hanya satu sisi buruk dari dunia pendidikan yang pernah terjadi. Betapa besar jarak antara pengajar dan mahasiswa.

Mungkin tidak terlalu berlebihan kalau kami memakai itilah Hirarki untuk menggambarkan situasi tersebut.

Terima kasih buat redaksi dan sahabat Baltyra yang telah sudi membaca.

Salam hangat.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *