Because There’re More Fool Men Than Blind Men In The World

Pritha


Baru-baru ini, seorang Kakak Tutor di bimbel gue, Exist, melontarkan sesuatu yang membuat gue tertawa.

“Saya heran dengan kalian para wanita, oke, saya perjelas, maksud saya para wanita di luar sana (dia melemparkan arahan tangannya keluar dan ke atas, bicara dengan muka panik yang kocak, seolah memperjelas bahwa dia tidak ingin membuat kami tersinggung), buang-buang waktu untuk tiga jam ke salon, dua jam shopping, pakai sepatu berhak lima belas senti…kalau ingin di anggap hebat dan cantik, kenapa nggak pakai egrang aja sekalian? Ampun, jangan lempar sayaa!!”

Setelah terjadi perdebatan yang seru antara si Kakak dan murid-muridnya yang kebanyakan perempuan, si Kakak akhirnya bilang,

“Kemarin saya baru dapat jawaban yang singkat dan filosofis untuk hal itu: Karena lebih banyak lelaki bodoh daripada yang buta.”

Mendengar ini gue tertawa lebih keras.

Baiklah, gue wanita, tapi entah kenapa gue tidak merasa tersinggung mendengarnya. Ini memang nggak ada hubungannya dengan siapa yang lebih suka memanfaatkan waktu buat diri sendiri, pria atau wanita, karena pada dasarnya semua orang suka memanfaatkan waktu buat dirinya sendiri. Bedanya mungkin pria berlama-lama bukan buat berdandan. Hehehe.

Tapi gue mengerti apa yang Kakak itu maksudkan: begitu banyak effort dan waktu yang seorang wanita lakukan hanya untuk merasa tampil cantik, yang akhirnya digunakan untuk menarik perhatian pria–heey that’s right, kan? C’mon honey, sedikit banyak, keinginan untuk itu memang ada kan? Gue sendiri juga begitu–padahal, bagi kebanyakan pria, terutama pria-pria yang ‘bener’, justru wanita akan terlihat cantik kalau kepribadiannya cantik.

Sebenarnya gue sendiri juga heran; sejujurnya gue suka berdandan, gue suka memilih baju-baju bagus, gue sesekali ke salon kalau ada acara-acara resmi, tapi karena gue memang seseorang yang banyak perhitungan a.k.a pelit, jadi untuk kategori cewek ‘gaul’, gue ini belum apa-apa. Gue tidak pernah punya lebih dari 3 pasang sepatu layak pakai, tidak pernah pakai lebih dari lipgloss kalau jalan-jalan, tidak pernah kalap belanja bahkan saat diskon, dan gue benci spa! Mending juga luluran di rumah, pakai lulur wangi kiriman Nenek, hehehe.

Gue juga tidak pernah mengikuti trend mode. Biarpun siklus mode berganti dari warna neon ke warna bumi, warna hitam ke warna silver lalu ke warna cokelat dan entah apalagi, walaupun desainer sedunia menghadirkan prints leopard di musim panas dan prints tribal di musim semi, biar kata majalah-majalah fashion bilang must have items masa kini adalah oversized bag, boots, dan jeans belel, gue akan tetap memakai apa yang gue suka: gradasi warna-warna pastel, baju-baju, sepatu, tas berbahan ringan, bercutting bersih without much chain, shocking colors, glitter, 12-cm heels, and weird prints, dan skinny jeans. Even if I become a real woman one day (well, I wish I still could wear any skinny pants ever, : p). Oh, and also anything white. I do love white : )

Kenapa?

Because that’s just how I really am! Dan bukankah memang seharusnya begitu? Mode diciptakan agar wanita punya pilihan, bisa menemukan mana yang paling pas dengan dirinya, sehingga apapun yang dia pakai bisa merefleksikan kepribadiannya sendiri. Bukannya membebek pada semua hal yang dianggap keren oleh orang lain. Karena dengan cara itulah orang akan bisa melihat siapa kita sebenarnya, dan karena fakta bahwa panggung mode diisi oleh wanita-wanita bertubuh tinggi-langsing agar pakaian apapun yang dikenakannya terlihat menjual. Padahal kebanyakan tubuh wanita di dunia, secara alami, tidak demikian.

So, para wanita, jangan takut dianggap nggak menarik! Percayalah, cowok-cowok itu akan mencintai seperti apa adanya kita, tanpa perlu riasan tebal, tanpa perlu barang-barang canggih. Nggak mau kan dapat yang bodoh atau yang buta? Hehe : D


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.