Kampung Naga

Edy Harjito – Qatar


Kampung Naga terletak di antara kota Tasikmalaya dan Garut, sebuah tatanan masyarakat /komunitas yang lepas dari hiruk pikuk dunia modern, seperti  suku Badui di Banten, tapi di  kampong naga sudah tidak animism lagi. Mengendarai mobil dari Jakarta melalui tol Cikampek , Cipularang dan keluar di pintu tol Cileunyi kita harus keluar kocek Rp. 45.500 (batinku mbayar tol sekaligus paling mahal nih).

Pemandangan selama di dalam tol Cipularang sangat indah, rasanya ingin sering berhenti dan ambil photo terus, apalagi bisa bertepatan dengan kereta yang melintasi  dan merayap dari gunung ke gunung. Sekeluar dari pintu tol CIleunyi , baru beberapa kilometer kita sudah dihadang tahu goreng yang menggoda, yo wis berhenti lagi, ternyata memang enak banget tahu goreng tersebut, sampai berpikir nanti pulang nya harus beli lagi.

Singkat kata sampailah kita di kampong naga tersebut,  ada 103 or 109 rumah dan Kepala keluarga (maaf agak lupa persisnya). Lokasi nya sangat indah, di tepian jalan raya dari atas akan terlihat pemukiman tersebut berupa rumah berderet deret dengan atap yang khas dari daun  berwarna abu-abu. Nampaknya mereka memilih di bawah sana untuk mendekati aliran sungai yang sangat vital dalam kehidupannya. Untuk mencapai nya kita harus menuruni anak tangga 400-an, jangan kawatir ada yang jual kelapa muda di sepanjang jalan ini.

Mampukah kita tinggal di sana tanpa gadget?

Sebuah gubuk di tengah sawah, lokasinya menjelang kampong naga. Indah dan sunyi dengan bebunyian yang alami (angin, suara burung, gemericik air sungai), tak ada suara bising mesin, deringan handpone maupun suara lagu  menyek menyek dari radio/tv. Batinku, enak juga ya pension di sini , naik turun tangga 400 untuk keperluan sehari-hari, mancing di sungai untuk lauk nya, nanam padi sendiri  dan nutu juga sendiri, sehat nih hidup di sini. Papiiii……lamunan dan khayalan pension ku buyar oleh panggilan si bungsu untuk melanjutkan menyisir rumah adat yang terbuat dari gedhek.  Haalah halah, masih muda  kok mikir pension saja.

Nutu padi (bahasa Indonesia nya apa ya?)

Caping ini sampai di Qatar juga akhir nya, untuk saya pakai mancing di gurun.

Sungainya dibendung untuk irigasi sawah.


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.