Road trip Victoria, belajar ramah lingkungan

Ijah


Minggu lalu saya ke Victoria. Victoria adalah negara bagian terdekat dari South Australia, state di mana saya berasal. Mencapai Victoria atau orang-orang lebih suka ke Melbourne bisa dicapai melalui darat dengan bus atau kereta api dan tentunya melalui udara dengan pesawat. Total perjalanan dengan menggunakan bus atau kereta api adalah 12 jam, sama dengan perjalanan dari Surabaya ke Jakarta. Sedangkan dengan pesawat adalah sejam.

Bagaimana dengan harganya? Tarif minimal perjalanan darat adalah $50 sedangkan tariff minimal perjalanan udara adalah $20. Iya benar $20, tentu saja itu adalah tiket promo dan baggage carrier only, tapi rata-rata tiket pesawat Adelaide-Melbourne sekitar $100. Bicara mengenai berburu tiket murah ada satu website yang saya suka yaitu www.webjet.com.au di sini anda bisa mendapatkan price list banyak penerbangan di hari yang sama. Ada tiga airlines murah di ostrali yaitu jetstar, virgin dan tiger. Dua pertama cukup terkenal dan banyak iklannya di tipi tapi yang termurah adalah yang terakhir, tiger airways milik Cina.

Kembali ke perjalanan saya ke Victoria. Saya pergi ke Victoria sudah tiga kali. Pertama karena mengikuti training, kedua mengunjungi kakak yang sedang mengikuti training dan ketiga adalah road trip. Dua perjalanan saya tempuh dengan pesawat dan saya hanya singgah ke Melbourne. Sedangkan perjalanan ketiga lebih menantang karena saya menggunakan mobil dan kami hampir mengelilingi Victoria dan kami tidak singgah ke Melbourne hihihi…alasannya karena kami sudah pernah ke Melbourne dan kami memang tdk mencari kehidupan CBD.

Ada banyak hal menarik yang bisa dilihat di Victoria, jadi tidak hanya karena Melbourne adalah surga belanja dan kiblat mode di ostrali, salah satunya adalah belajar lingkungan. Victoria adalah negara bagian yang paling green. Untuk menyesuaikan dengan Victoria, kami juga berkendara menggunakan mobil hybrid, halah gak nyambung hahahaha…

Kembali ke Victoria. Victoria punya kampanye seru yaitu 3 minutes shower, bayangkan saja apa cukup tuh buat keramas dan mandi hihihi…Di sana juga banyak dibangun gedung-gedung ramah lingkungan, banyak public bike share di wilayah CBD, memiliki wind farm terbesar, ada banyak energy farm dan satu lagi green party menang di negara bagian ini, ya iyalah sudah seharusnya hihihi…. Di satu sisi negara bagian ini juga paling sering terkena bencana tahunan yaitu bush fire dan banjir. Hmmm…dua sisi yang menarik.

Ada lima hal yang pengin saya bagi dengan teman-teman yaitu gedung, bike share, free loop shuttle, energy farm dan wind farm. Pertama mengenai gedung. Gedung-gedung ramah lingkungan ini banyak dijumpai di Melbourne. Gampang dikenali karena bentuk gedungnya yang unik. Pernah liat Wisma Dharmala di Surabaya atau Jakarta kan? Nah seperti itulah kira-kira. Kedua, public bike share. Bike share ada banyak sekali terjejer di depan gedung-gedung public dan spot wisata misalnya di public bath, stasiun, Victoria market dan public library. Tarifnya macam-macam, bisa per tahun, per minggu atau per hari. Untuk per day cukup membayar $2.5 untuk satu kali pengambilan.

Kalau pengunjung seperti saya cukup beli yang per day saja. Tinggal masukkan credit card atau debit card di mesin, pencet-pencet, ambil kodenya trus ambil deh sepedanya. Bagaimana mengembalikannya? Tidak perlu di tempat asal. Misalnya anda menyewa di Southern Cross Station anda bisa mengembalikannya di depan public library.

Ketiga adalah free loop shuttle. Ada dua jenisnya yaitu bus dan tram. Loop shuttle ini akan mengitari wilayah CBD, bentuknya menarik dan cukup mencolok. Pastinya selalu penuh, terutama oleh pengunjung seperti saya. Daripada naik tram yg bayar, sy lbh suka naik tram ini, kalau memang tdk dilewati tempat tujuan, saya bisa berjalan sambil melihat bangunan sekitar. Gampang dan bikin senang hihihi…

Keempat dan kelima adalah mengenai farm. Farm pertama adalah energy farm. Di jalan saya menemukan tulisan food for energy. Saya pikir mungkin ladang gandum atau jarak seperti di Indo yang digunakan sebagai fuel. Ternyata ladang canola. Bagus sekali dari kejauhan seperti karpet kuning yang kontras dengan pemandangan hijau di sekitarnya.

Canola ini sejenis bunga yang asalnya dari Canada. Nama canola sendiri diambil dari CANadian Oil, Low Acid. Sepanjang perjalanan kami banyak menjumpai ladang-ladang canola ini. Farm kedua adalah wind farm. Ini hamparan kincir angin untuk energy terbarukan. Wind farm ini ada sepanjang Balarat dan Ararat. Wind farm ini berbiaya besar tapi tidak seimbang dengan energy yang dihasilkan. Dari perjalanan ini saya jadi berpikir.

Ternyata Indonesia lebih mempunyai sumber-sumber energy potensial yang belum digarap. Kita punya tidal, matahari yang bersinar terik sepanjang tahun, angin, belum lagi uranium. Hmmm…knapa juga masih krisis energy?? Retoris, kita semua sudah tahu jawabannya hahahahahaha…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.