[Family Corner] Obeng, Bunga dan Kembang

Galuh Chrysanti


setahun lalu di vila kebun raya, Bogor

Anak laki-laki kecil itu sangat serius mengutak-atik sepedanya.

“Mbuuuu,” panggilnya.

“Iya, nak?”  kuberjongkok di sisinya.

“beeng… beeng…”

“Obeng?” timpalku. Kaget. Ngga salah ? Anak setahun minta obeng?

Ia tersenyum mengangguk.

Penasaran. Kuambilkan juga.

*Jangan ditiru yaa. … only under superstrict supervised*

“Nih nak, obengnya,”

Huh, cuma dilihat sepintas???

“UngaAAAAAA,” jeritnya, mulai frustasi…

“Bunga? bunga? bunga? apa ya maksudnya?” harus berpikir supercepat nih… sebentar lagi dia pasti meraung, sedih tak dimengerti :)

“Huuuu huuuuuuu,” (hmm.. ya kan? mulai deh ….)

“Bunga? ok.. bunga? mmm… bunga = kembang, Kembang ? OBENG KEMBANG??? “

Halah! Sejak kapan dia tahu beda obeng biasa ama obeng kembang ?

Apa ada episode hidupmu yang kulewatkan, Nak? :)


“Beng … embaaAAANG…” jeritnya, memaksaku terbirit mengambil si obeng kembang.

Ayah pulang, misteri terpecahkan :)


Rupanya kemaren ayah memang minta tolong diambilkan obeng oleh Bude (yang momong anakku). Habis itu beliau juga minta ganti obeng, minta yang kembang… Kubayangkan detil adegan yang berlangsung hari sebelumnya itu…

Aha… jadi Fatih tiru-tiru ayahnya :) Pastilah direkamnya lekat2 tiap laku dan kata sang ayah  dengan mata bulatnya itu…

Hmm.. bisa jadi setelah itu ayah menerangkan ke Fatih, obeng kembang itu seperti apa, dan bahwa kembang itu sama dengan bunga…

Tanpa sadar, bahwa si setahun benar-benar menyerap mentah-mentah, persis spon basah :)

Minta obeng kembang, bukan berarti Fatih paham obeng kembang itu kayak gimana ^^ hehe… Semata-mata karena ayah kemaren juga minta tukar obeng biasa dengan obeng kembang :)

(ambunya udah sempet geer duluan nih, ngaku deh :)

Ternyata .. cuma si kecil yang.. sangat suka M E N I R U ^^ dan… sedikit ‘sok tau’ hehe…

Ayah, bunda, hati-hati ya dengan si peniru cilik di sekitar kita :) mereka merekam kita bagai cctv… mereka bagaikan  kameraman profesional, dengan kita orangtua sebagai pemeran utamanya… apa boleh buat, demi mereka, kita cuma boleh jadi aktor protagonis saja :)

Siapkah ayah bunda ??




Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.