[Mengunjungi Tanah Leluhur] Bagian 5: Dali (habis)

Handoko Widagdo – Solo


Jam sebelas kami berangkat dari Shangri La, setelah paginya saya mengunjungi Chicken Temple. Kebetulan hari ini adalah Moon Cake Festival sehingga temple dipenuhi dengan pengunjung. Perjalanan keluar Shangri La mengikuti jalan ke Wu Jing, yaitu kearah timur, turun sampai ke Sungai Jing Sha. Mendekati Kota Sikhu, kami menyeberang dan mengambil arah Lijiang. Kami berkendara pada ketinggian antara 2000-2500 mdpl. Tanaman padi, jagung, tembakau adalah pemandangan yang selalu menyertai sejak dari tepi Sungai Jing Sha sampai ke Dali.

Kota ini aneh, karena modernitas bergabung dengan masa lalu dan dibumbui pertanian. Aku menemukan pemandangan unik ketika masuk kota. Ada petani yang menjemur padi di perempatan jalan. Ada juga petani yang sedang mencuci sayur di saluran irigasi. Saya baru menyadari bahwa saluran irigasi begitu jernih mengalir diseluruh kota lama. Tak ada sampah yang mengapung di saluran ini. Ternyata kota modern bisa mengakomodasi pertanian.

Mendekati Kota Dali, aku menjumpai Masjid yang cukup besar. Namun sayang karena mobil kami berjalan cepat, saya tak sempat mengabadikannya. Rumah-rumah di Dali sungguh indah. Semua bercat putih, dengan tiang berwarna abu-abu. Pada ujung atap selalu ada lukisan bunga, sedangkan dinding dihiasi lukisan pemandangan indah yang dihiasi puisi.

Pemandangan kota ini sungguh indah. Bukit-bukit dari Gunung Changsan di sebelah barat kota dan Danau Erhei di sebelah timur memberi latar jauh bagi bangunan-bangunan  rumah dengan sisa-sisa sinar mentari.

Dengan antusiasme tinggi, kami segera keluar dari hotel. Hanya meletakkan barang dan langsung keluar menjelajahi kota lama. Hotel kami memang berada di dalam kota lama. Kami tahu bahwa Dali adalah salah satu tujuan kunjungan wisatawan yang suka sejarah. Kerajaan Nanzao pernah berjaya di kota ini. Di kota inilah berbagai kebudayaan bertemu. Selain kebudayaan suku-suku minoritas, khususnya suku Bai dan suku Han, budaya Islam, Kristen bercampur di kota ini.

Berbagai suku minoritas juga tinggal secara harmoni di Kota Dali. Sebut saja Suku Bai si tuan rumah, Suku Yi yang berkulit hitam, Suku Hui yang beragama Islam, Suku Naxi yang menganut kepercayaan pra Budha dan sebagainya. Namun saya kecewa karena kota lama menjadi tempat turis yang terlalu ramai. Tidak ada lagi bangunan-bangunan lama yang tertinggal. Hanya sedikit saja sisa-sisa. Untuk mengobati kekecewaan, saya membeli  buku Dali A History of 4000 years. Biarlah waktuku yang hanya semalam bisa merengkuh 4000 tahun perjalanan Kota Dali.

Tapi tunggu dulu. Ternyata dua temanku juga merasa bahwa mereka tidak mendapat apa-apa. Akhirnya kami sepakat untuk menunda perjalanan ke Kunming. Kami manfaatkan pagi untuk mengunjungi beberapa obyek yang ada disekitar Kota Tua. Pertama kami mengunjungi sebuah kuil.

Kuil ini bersebelahan dengan Masjid. Dari halaman kuil dapat aku saksikan puncak menara Masjid. Di Dali juga banyak restoran Muslim. Restoran Muslim selalu ramai pengunjung.

Kami sepakat untuk berkunjung ke Three Pagodas. Dalam perjalanan ke Tiga Pagoda, kami melewati Gerbang Timur Kota. Di gerbang kota, banyak petani yang menjajakan  tanaman hias.

Dali juga terkenal dengan seni batu alam besar. Banyak sudut kota, khususnya di halaman gedung besar dihiasi oleh batu indah. Berikut adalah beberapa contoh seni batu tersebut.

Salah satu obyek yang sangat terkenal, yaitu Three Pagodas dan Kuil Chongsheng. Kami berjalan kaki sekitar 1,5 km dari Kota Tua. Pagoda ini dibangun pada jaman Kerajaan Nanzhao atau periode Kaiyuan Dinasti Tang. Tiga pagoda adalah satu-satunya bangunan yang kalis dari bencana yang disebabkan oleh perang dan bencana alam di masa Dinasti Qing. Sedangkan kuil Chongsheng dibangun kembali pada sama China modern.

Pagoda utama bernama Qiansun mempunyai 16 tingkat., setinggi 69,13m. Pagoda ini dibanung pada tahun 825-859  Masehi pada masa Kerajaan Nanzhao.  Sedangkan dua pagoda pendamping masing-masing memiliki 10 tingkat, dengan ketinggian 42,19 m dibangun kemudian, yaitu pada masa Kerajaan Dali. Di masing-masing tingkat ada patung Budha yang terletak di jendela-jendela.

Posisi pagoda berada di depan kuil Chongsheng dalam garis lurus. Jadi kalau kita masuk dari luar, kita akan bertemu pagoda utama, dua pagoda pendamping, selanjutnya adalah kuil Chongsheng.

Terpuaskanlah kekecewaanku setelah bisa menyaksikan salah satu warisan budaya dunia yang bernama Three Pagodas.

Semoga kesempatan yang akan datang aku bisa lebih banyak belajar dari tanah leluhur.

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

108 Comments to "[Mengunjungi Tanah Leluhur] Bagian 5: Dali (habis)"

  1. Handoko Widagdo  5 November, 2011 at 21:25

    Halo SAVE Melayu, penginapan sangat murah dan bersih. Saya tidak tahu apakah ada yang khusus untuk Muslim.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.