Old Peter

Endah Raharjo


Kampus Universitas Maryland, College Park, Amerika Serikat. Selasa, 1 Oktober 2002. Udara mulai teramat dingin bagi tulang-tulang kecilku. Tubuh tropisku yang hampir tak menyimpan cadangan lemak memaksaku memakai jaket yang lebih tebal daripada yang dipakai orang-orang lokal.

Matahari telah lama tenggelam ketika aku keluar dari gerbang utama kampus. Setengah berlari aku menyeberangi jalan raya setelah lampu bergambar  pejalan kaki berubah hijau. Delapan menit kemudian aku telah sampai di halaman depan apartemenku. Kulihat lampu balkon apartemenku di lantai 7 telah menyala. Temanku, Vjera, mahasiswa dari Montenegro, sudah pulang lebih dulu.

Aku baru akan mengeluarkan kunci dari saku tas ketika kudengar suara lelaki terbatuk-batuk dari arah taman. Aku kenal si pemilik suara. Old Peter. Demikian orang-orang memanggilnya. Janitor, imigran dari Pantai Gading, Afrika, yang bertugas membersihkan halaman, lobi dan koridor gedung apartemen tempat tinggalku.

Old Peter selalu baik padaku dan Vjera. Tubuhnya kekar, hitam dan besar. Sejak awal jumpa aku tidak takut padanya, malah menyukainya. Kalau kebetulan aku dan Vjera masak agak banyak, Old Peter pasti kebagian.

Edna. Is that you?” Suaranya yang serak karena batuk menegurku. Dia tak pernah bisa mengucapkan namaku dengan benar. Tak mengapa. Toh tidak ada yang tahu arti namaku juga.

“Ya. Ini saya. Ada apa? Kamu sakit?” Aku mendekati. Ia duduk membungkuk di salah satu kursi taman yang terbuat dari batu. Selimut tebal membalut tubuh tuanya. Sebuah topi usang menutup kepalanya. Kulit wajahnya yang legam tampak mengkilat terkena sinar lampu.

“Aku dirampok.” Keluhnya di sela-sela batuknya. “Hei. Jangan dekat-dekat. Nanti kamu ketularan.”

Aku mundur selangkah. “Dirampok? Di mana? Kapan?”

“Ya. Tadi siang. Di apartemenku sendiri.” Old Peter menghela nafas panjang. “Dia tetanggaku di apartemen yang dulu. Dia mabuk waktu main ke kamarku. Setelah dia pergi baru aku tahu kalau amplop yang berisi cek gajiku minggu ini sudah hilang.”

“Apa bisa lapor ke polisi?”

“Tidak ada gunanya. Sudahlah. Tidak seberapa. Aku hanya sedih karena selain uangku habis aku juga tidak bisa mengirim uang untuk cucuku.”

Old Peter punya tanggungan keluarga di negerinya. Setiap bulan ia mengirimkan sebagian gajinya untuk mereka.

“Kamu baik-baik saja?” Aku bertanya sambil mengeluarkan dompet. Beasiswaku memang tidak banyak. Tapi karena aku hemat maka setiap bulan selalu ada sisanya. Bahkan masih cukup untuk jalan-jalan dan sedikit hura-hura dengan teman-teman.

“Ini untuk membeli teh dan gula.”  Kuangsurkan dua lembar pecahan 20 dolar. Cuma itu yang ada di dompetku dan tiga lembar pecahan 1 dolar, karena aku memang tidak pernah menyimpan uang tunai banyak-banyak di dalam dompet.

“Oh! Jangan! Jangan!” Old Peter mengangkat dua tangannya dan terbatuk-batuk lagi. “Kamu mahasiswa. Kamu membutuhkannya. Kamu bukan orang kaya.”

“Tidak apa-apa. Aku cukup kaya.” Aku bercanda sambil melambaikan cincin berlian di kelingking kiriku.

Setelah berpikir sebentar, tangan kirinya yang hitam kokoh besar itu terjulur. Kemudian dia nyeletuk di antara batuknya. “Teh dan gula?”

“Itu istilah yang dipakai di negeriku kalau orang memberikan uang yang jumlahnya tidak seberapa.” Jelasku.

Kami tertawa bersama. Sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang Old Peter beranjak dari duduknya dan berjalan di depanku menuju pintu depan. Dengan gaya seorang doorman membukakan pintu untuk tamu hotel, Old Peter mempersilakan aku masuk duluan.

*****

Gedung Preinkert, Kampus Universitas Maryland. Senin, 7 Oktober 2002. Aku baru saja masuk ke ruang kelas ketika teman-temanku ramai memperbincangkan sniper yang berkeliaran dan menembaki orang secara acak di  wilayah Washington DC, Maryland dan Virginia. Dikabarkan selama dua hari, 2 dan 3 Oktober, penjahat brutal itu telah menembak 6 orang. Teman-temanku tampak benar-benar ketakutan sementara aku hanya sedikit khawatir saja.

“Endah, hati-hati ya. Kamu sering nongkrong di perpustakaan sampai malam. Sebaiknya naik bis kalau pulang, jangan jalan kaki.” Mentorku mengkhawatirkanku. “Atau kamu telpon aku kalau mau pulang malam, siapa tahu aku masih di kantorku.” Tambahnya dengan sangat serius.

Sorenya, karena berita tentang sniper jahanam itu semakin santer terdengar di tiap sudut kampus, kuputuskan untuk pulang awal dan mengerjakan tugas di apartemen saja.

Kujejalkan tiga buku ke dalam ransel. Tergopoh-gopoh aku berjalan pulang. Sebelum meninggalkan kampus, kutelpon Vjera untuk memberitahu kalau aku pulang awal sambil menanyakan masakan untuk makan malam. Rupanya Vjera juga sedang di perjalanan.

Ketika langkahku hampir sampai di gerbang utama kampus, kulihat dari kejauhan  Old Peter sedang menyeberang jalan. Selimut tebal membalut tubuh besarnya dan kepalanya terlindungi topi yang itu-itu juga.

“Hello Edna.” Sapanya ramah ketika kami sudah saling berdekatan. Batuknya telah sembuh. Wajahnya tampak cerah.

“Mau kemana?” Sebenarnya pertanyaan itu tidak pada tempatnya, tapi terlontar begitu saja karena aku heran. Old Peter pernah bercerita kalau selama lima tahun bekerja di apartemen yang kutinggali itu, dia baru dua kali masuk kampus. Yang pertama karena diajak oleh seorang mahasiswa dari Pantai Gading yang akan diwisuda dan yang kedua karena ingin melihat-lihat setiap bangunannya yang katanya semua megah dan indah.

“Aku menjemputmu, Edna.” Old Peter mmembungkukkan badan.

“Apa? Menjemputku?”

“Ya. Kamu tahu kan, ada sniper gila gentayangan. Aku kira kamu akan pulang malam. Aku tadinya ingin menunggumu di luar gedung perpustakaan supaya kamu punya teman kalau pulang.” Senyumnya mengembang. Kerut-kerut di seputar mata dan pipinya semakin kelihatan. Kulit hitamnya, seperti biasa, tampak berkilat karena keringat. Matanya yang abu-abu itu menatap mataku dengan lembut. Mata seorang bapak yang ingin melindungi anaknya.

“Ya, Tuhan, Peter. Kamu baik sekali.

Kubiarkan ia memeluk pundakku sejenak. Sambil tertawa-tawa kami berjalan pulang beriringan. Tak kusangka, Old Peter ternyata pandai membalas jasa. Kejadian itu membuatku makin yakin bahwa di manapun di dunia ini kebaikan tak akan dilupakan.

*****


Catatan:

Cerita ini berdasarkan kisah, lokasi dan peristiwa nyata yang sedikit direka.

Beberapa waktu kemudian, menurut berita, sepuluh orang terbunuh dan tiga lainnya luka parah di berbagai wilayah di Metropolitan Washington dan kawasan jalan raya Interstate 95 di Virginia. Pada September 2003 dua pelaku penembakan itu salah satunya dijatuhi hukuman mati dan satunya lagi dihukum enam kali seumur hidup tanpa peluang bebas bersyarat. Hukuman mati, melalui suntikan, dilaksanakan pada 10 November 2009.


Ilustrasi: http://www.weedenhousemuseum.com/maria_howard_weeden.htm

27 Comments to "Old Peter"

  1. mimin  29 January, 2011 at 22:08

    wah, ngeri…..

    saya pernah nemu orang mati di taman karena petrus.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.