Mutaminah Calon Penulis

Mutaminah


Agak curhat sih he he…

Sejak dulu, hanyalah angan yang bersembunyi di hati. Tersesat tak menemukan jalan untuk menjadikannya kenyataan yang manis. Aku ingin menjadi penulis.

Dari kecil aku paling senang didongengi oleh bapak. Meski dongeng itu telah ku dengar berulang-ulang, tak pernah bosan. Tapi hari-hari selanjutnya, bapak mulai jarang mendongengi aku. Mungkin beliau terlalu cape setelah mengais rizki seharian.

Suatu waktu, aku dan keluargaku pindah rumah. Saat itu aku tengah duduk di bangku kelas 3 SD. Di lingkungan baruku, aku menemukan sebuah taman bacaan yang akhirnya aku menjadi member di sana. Dan dari sanalah semua berawal.

Rasanya kebahagiaan membuncah di dadaku, meletup-letup indah saat ku lihat rak-rak besar berisi penuh buku. Aku tidak pernah melihat buku-buku sebanyak itu sebelumnya.

Novel pertama yang ku baca adalah novel karya Benny Rhamdani yang ku lupa judulnya. Novel itu bercerita tentang anak panti yang kurang beruntung. Haru aku membacanya, sampai-sampai aku menitikan airmata.

Novel itu selesai ku baca dalam 2 hari. Disambung dengan novel-novel anak yang lain karya Fahri Asiza, Gola Gong, dkk. Sepertinya aku menjadi tergila-gila pada benda bernama novel! Tiada hariku tanpa sebuah novel di tangan. Setiap ada novel anak terbaru di taman bacaan itu, pasti langsung kusambar.

Pernah ada suatu pengalaman yang menggelitik waktu itu. Ceritanya, aku tengah tergila-gila pada sebuah novel berjudul Elang Perak. Novel itu bercerita tentang sebuah batu bernama cadas elang. Novelnya tebal, sekitar 300 halaman, ku selesaikan satu hari, hingga pukul 3 dini hari, jam yang sangat malam untuk ukuran anak SD. Pada suatu hari, aku lulus SD.

Kebetulan jarak rumah dan sekolah SDku tak begitu jauh, hanya ditempuh dengan jalan kaki, hingga aku tak begitu mengenal dunia luar, namun ketika beranjak SMP aku bersekolah cukup jauh dari rumah. Harus naik angkot. Saat itulah aku menemukan angkot dengan jurusan cadas elang.

Seketika aku teringat dengan cerita Elang Perak yang sangat ku sukai itu. Dalam benakku aku berpikir bahwa angkot itu akan mengantarku ke cadas elang, latar tempat di novel tersebut. Sayangnya aku terburu waktu ketika hendak menaiki angkot tersebut. Belakangan aku tahu, bahwa angkot cadas elang itu ternyata angkot dari Cicadas ke daerah elang, bukan tujuan cadas elang. Hahaha

Aku sempat ditegur oleh ibuku karena terlalu sering membaca novel. Bahkan ketika menjelang UN dan disuruh belajar, aku malah menyelipkan novel di buku pelajaranku, jadi aku bisa membaca novel tanpa ketahuan. Hehehe. Tapi untunglah, meski aku nakal begitu, aku tetap bisa lulus dengan nilai yang cukup baik.

Hingga SMP, kebiasaanku ini tetap berlanjut. Namun novel yang ku baca sudah mulai naik tingkat. Bukan lagi novel anak-anak, tapi novel remaja. Seperti novel-novel karya Asma Nadia, Pipiet Senja, Helvy Tiana Rosa, dll. Begitu pun SMA. Novel yang ku baca mulai beragam. Mulai dari novel-novel romantika remaja seperti teenlit, sampai novel dewasa seperti Ayat-Ayat Cinta. Sayang, kini aku mulai jarang membaca novel.

Prestasi pertamaku berkaitan dengan dunia kepenulisan, adalah ketika aku berhasil menjadi siswa yang pertama kali menyelesaikan tugas membuat puisi dengan puisi yang menurut guruku sangat bagus. Saat itu aku duduk di bangku kelas 5 SD. Bangga sekali rasanya. Ya, selanjutnya aku tak begitu rajin menulis, hanya beberapa kali saja aku menulis cerita atau sekedar menuliskan pengalamanku. Namun entah berapa orang yang bilang aku berbakat untuk jadi penulis.

Sekarang, ketika aku merasa hidupku tak tentu arah, entah kenapa keinginan itu tiba-tiba makin menguat. Aku yang asalnya hanya berandai-andai saja jadi penulis, akhirnya mulai bergerak.

Berbekal komputer tuaku yang sering kali harus menjalani operasi dan tanpa koneksi internet, aku mulai rajin menulis cerpen atau sekedar puisi curahan hati. Mungkin karyaku tak seberapa, tergolong kategori “biasa” yang orang awam pun bisa menciptakannya, hingga kadang ada ragu dan malu untuk memposting dan mempublikasikan tulisanku, sungguh takut tak layak.

Tapi, alhamdulillah dukungan selalu ada, semilir seperti angin, kadang ku rasakan, kadang tidak. Tak apa, itu saja cukup bagiku.

Lalu, hari itu aku merasa Allah membukakan jalanku. Seperti keajaiban bagiku saat namaku ada di deretan nama-nama yang lolos dalam sebuah lomba Fiksi Mini. Senang yang tak terhitung oleh seluruh angka yang ada di dunia sekalipun. Hahaha. Berkali-kali ku baca namaku, takut berubah, atau mungkin aku salah baca. Tapi nomor empat itu tetap diikuti namaku, Mutaminah. Alhamdulillah….

Kini, aku mulai dari sini. Belajar merangkak di jalan ini. Minta bantuan dan bimbingannya selalu, agar aku layak menjadi seorang Penulis dan menghilangkan kata “calon” dalam nicknameku…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.