Bijaksana

Anwari Doel Arnowo


Saya heran mengapa rupa sifat-sifat bijak itu bisa tergambar dengan banyak bentuk dan banyak cara.

Seseorang yang berumur, kelihatan berusia lanjut dan memelihara jenggot, sedikit maupun banyak, terlihat seperti lebih bijak dibandingkan dengan yang tanpa jenggot. Orang China tidak demikian halnya. Kalau pada jaman dahulu kala, orang yang perutnya buncit dan pahanya berlebih tumpukan lemaknya itu, katanya, menunjukkan seorang yang bijak bestari. Pakai jenggot, janggut atau atau selembar jenggot, sampai sepuluh lembar rambut panjang yang tumbuh di luar muka manusia, di dekat pipi bawah juga menandakan seorang bijak.

Lalu apa ukuran bijak jaman sekarang? Bawa komputer jinjing? Belum tentu juga. Banyak bicara? Juga belum tentu. Kalau bukan dikira salesman bisa saja disangka sebagai orang gila. Menulis? Eeeeh, belum tentu juga. Kalau terlalu sulit dipahami tulisannya, pembaca menganggap penulisnya gila, sok tau, tidak becus serta mungkin edan. Itu bisa terjadi karena banyak alasan. Jaman sekarang orang yang diam saja pada saat hadirin di sekitarnya berdebat sampai sekelas debat kusir sekalipun, dia tetap diam saja, bisa dianggap orang bijak. Bisa? Ah, terserah nanti setelah dia buka suara menyampaikan pendapatnya. Baru orang akan menilai, hitam atau putih kelasnya.

Ada adagia yang diekspresikan di dalam bahasa Latin dengan: barba tenus sapienteswise as far as the beard – bijak sepanjang jenggot atau janggut atau ekspresi lain: wise only in appearance-tampil bijak karena penampilan saja. Jadi singkat kata yang begitu itu memang banyak terjadi di masyarakat. Seseorang bisa saja menjadi seorang tokoh, hanya karena jalan lenggak lenggoknya, tindak tanduknya yang santun serta anggun, senyumnya yang menawan, “terpaksa” dianggap sebagai orang bijak yang hanya disebabkan cara penampilannya saja.

Dia sendiri tidak pernah sengaja berbuat seperti itu, karena memang begitulah perilakunya tanpa dibuat-buat. Jadi masyarakatlah yang tertipu sendiri. Hal ini banyak terjadi pada para selebriti seperti contohnya aktor dan politikus. Terlihat sebagai intelektual, padahal belum tentu sudah sampai ke tingkat itu intelektualitasnya. Ukurannya memang tidak jelas, karena mata memandang sesuatu lebih mengemuka daripada akal dan budinya. Salah memilih yang begini ini menyebabkan seseorang bisa dipilih untuk  menjadi seorang pemuka, seorang pimpinan.

Padahal yang diharapkan adalah seorang tokoh yang bisa mengayomi masyarakat umum, membuat peraturan dan undang-undang yang bersifat pesan sponsor yang positif. Sponsor yang dimaksud di sini adalah RAKYAT yang membayar gajinya melalui pajak. Sponsor itu bukan Golkar, bukan PKS, bukan TNI bukan PDI serta bentuk-bentuk organisasi lain yang juga sama, yang tidak jelas hasil kerjanya. Kalau kalah, suaranya negatif, kalau menang bermusik riang ria, lupa bekerja dan bersenang-senang saja tanpa lupa menggunakan uang sponsor, yang berasal dari jerih payah Rakyat itu.

Jangan terbuai karena tindak tanduk yang belakangan akan disesali, karena diperingati dengan papatah musang berbulu ayam. Hari ini memamerkan janggutnya, jenggotnya dan segala atribut yang kosmetik saja layaknya, pada keesokan harinya setelah dilantik rontoklah bulu ayamnya dan terlihat ke-musang-annya.

Maka menjelmalah dpr yang seperti panggung sandiwara, yang tidak hidup dari penjualan karcis saja, tetapi dari sumber-sumber lain yang berakibat menyengsarakan penonton yang di dalam gedung dan penonton yang berada di pinggir jalan. Sampai-sampai group Srimulat yang manggung di sebelah gedung mpr dpr menjadi bangkrut karena kalah lucu. Kalah? Iya, kalau Srimulat lucu yang tertawa kan satu gedung saja, tetapi dpr? Bisa bisa luas sekali sampai seluas seluruh Indonesia. Bangkrutlah Srimulat karenanya.


Anwari Doel Arnowo

25/10/2010

The Air Blows and The Water Runs so Life Goes On. Do not meddle Do not tamper

15 Comments to "Bijaksana"

  1. Unde Lisa  27 November, 2011 at 16:57

    Aku adalah orang yg plg beruntung krn GOLPUT….Jd biarin aja mrk mau mampus kek, mau telanjang bulat kek, mau nungging kek.. namun yg plg ptg adalah ini gambaran nyata bhw wkl rakyt seprti ini seharusnya malu tlh trtidur diatas penderitaan rakyat…….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.