Mbah Maridjan di Mata Saya

Nuni – Australia


Tulisan ini hanya sekadar coret-coretan saya mengenang pertemuan saya dan kawan-kawan wartawan yang berkesempatan menemui sosok fenomenal yang saat ini sedang menjadi buah bibir terkait kondisi Gunung Merapi yang menurut orang Jawa dianggap sedang ‘murka’ itu. Sikap teguh dan konsistensi Mbah Maridjan menjaga ‘gunungnya’ memang menimbulkan pro dan kontra, sebagian menganggap itu sikap konyol dan ‘harakiri’ tetapi sebagai manusia yang menghargai kultur/budaya suku lain hendaknya tidak mencaci apapun keputusan dia, yang pasti punya alasan tersendiri. Soal apakah dia musyrik serahkan juga pada Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki Mbah Maridjan, kita pun sesama makhluk Tuhan ga bisa menilainya. Yang jelas bukan pula bermaksud sebagai kultus individu, ini hanya sharing semata, memberi informasi bahwa budaya kita sangat bermacam-macam dan hargai saja kalau tidak/belum mengerti.

Tugas sebagai juru kuncen/kunci Merapi adalah tugas mulia yang diemban hingga akhir hayat –maksudnya sampai orang yang bersangkutan tidak mampu lagi secara fisik. Bagi orang Jawa sebagai abdi kraton, tugas ini amatlah luhur karena datang langsung dari petitah Raja yang MASIH DIHARGAI dan DIHORMATI rakyatnya. Bicara sedikit di luar konteks ya, kalau saja RAJA JAWA (HB X) bertindak mau menang sendiri seperti ‘coup d’ etat’ alias kudeta sudah pasti RI bakal kocar kacir karena kalau menelurusi sejarah Jawa sejak dulu hingga kini Raja Jawa punya ‘kekuatan besar’ untuk mengatur rakyatnya dengan wibawa, kharismanya dan filosofinya. Dan sejak dulu sejarah perpolitikan di Tanah Air dimulai/poros pendeknya biasanya berawal dari tanah Jawa (Solo & Yogya). Sudah banyak contoh-contohnya tertulis dalam buku sejarah kita.

Kembali ke tugas sebagai juru kuncen, ini berkaitan dengan kosmologi keraton Yogyakarta, dunia ini terdiri atas lima bagian. Bagian tengah yang dihuni manusia dengan keraton Yogyakarta sebagai pusatnya. Keempat bagian lain dihuni oleh makhluk halus. Raja bagian utara bermukim di Gunung Merapi, bagian timur di Gunung Semeru, bagian selatan di Laut Selatan, dan bagian barat di Sendang Ndlephi di Gunung Menoreh.

Namun, jauh dari ungkapan kosmologi itu, ada suatu keyakinan yang hidup di dalam masyarakat di sekitar Gunung Merapi bahwa gunung dengan segala macam isinya dan makhluk hidup yang mendiami wilayah ini menjadi suatu komunitas. Karena itu, ada hubungan saling menjaga dan saling melindungi. Sehingga ketika salah satu anggota mengalami atau melakukan sesuatu, dia akan memberi “isyarat” kepada yang lain dan dia akan memberitahukan kepada yang lain. Demikian pula ketika Merapi “batuk-batuk”, dia juga memberi isyarat kepada yang lain, termasuk kepada Mbah Maridjan.

Demikianlah ‘titah’ raja seakan dipegang teguh oleh Mbah Maridjan. Dulu saat masih menjadi wartawan kinyis-kinyis/pemula di koran lokal di Solo yang masih berjiwa petualang (sampai sekarang sih masih sebenernya) saya pun ga tahu siapa itu Mbah Maridjan. Terus terang dulu namanya ga setenar sekarang, hanya orang-orang tertentu saja yang tahu siapa juru kunci Merapi, karena memang belum terekspos seperti sekarang. Dan memang Mbah Maridjan ga mau diekspos, karena banyak tawaran wawancara ditolaknya, dengan alasan, dia hanya orang rendahan abdi keraton Yogya, engga berhak mengeluarkan ‘statement’ tentang Merapi ketika terjadi batuk-batuk sekalipun.

Suatu saat saat Merapi Merbabu batuk-batuk sekitar tahun 1998 atau 1999 ya? Ada tugas dari kantor untuk seorang fotografer senior memantau kondisi gunung tersebut dari base camp yang aman. Sebetulnya itu bukan tugas saya, tetapi karena saya pengen tahu keindahan Merapi maka saya meminta sang fotografer agar boleh ikut ‘memantau’ nya bersama beberapa teman. Yah akhirnya kesampaian juga ‘menginspeksi’ Merapi walau cuman sampai batas base camp alias bukit ajah, namun begitu cukup senang dan bahagia tak terlupakan memandang keindahan alam Merapi yang memang indah, tenang dan menakjubkan dari sisi Boyolali (bukan Yogya). Dari jauh Merapi seperti gunung yang gagah dan bermantelkan jas hijau karena tumbuhan yang lebat menutupi punggung bukitnya.

Yah, waktu itu emang belum kesampaian bertemu dengan sang penjaga Merapi, karena memang beliau masih ‘malu’ bertemu dengan pers. Namun kesempatan datang lagi kepada saya. Suatu saat dalam acara Festival tahunan Borobudur panitia sengaja mengundang Mbah Maridjan untuk menjadi bintang tamu sebagai pembicara di acara seminar ‘non formal’ tentang budaya masyarakat Jawa yang hidup di daerah pegunungan (Merapi-Merbabu). Saat itu beliau masiih malu-malu. Berbusana kain batik sebagai bawahan, dan atasan serta topi dari bahan lurik, dia datang tanpa bersepatu/sendal alias NYEKER. What? Nyeker? saya sempet bertanya dalam hati, ini embah kuat banget ya.

Akhirnya satu jam mendengar omongannya saya pun ngeh, mengapa orang-orang yang hidup di punggung gunung Merapi dan Merbabu itu begitu setia menjaga tempat tinggalnya dan lingkungannya. Selain karena itu dianggap tugas mulia juga karena sawah ladang kehidupan mereka memang di sana. Peradaban mereka memang seperti itu adanya, kalau pun harus mengungsi karena ada bahaya, ya akan balik lagi ke tempat asal/habitat mereka. Kepercayaan yang loyal dan kukuh seperti ini memang bagi sebagian orang dianggap konyol dan tidak masuk akal, tapi nyatanya memang ada banyak orang yang demikian dengan berbagai alasan mereka.

Saya dan rekan-rekan wartawan saat itu pun sempat kagum, yang menjaga Merapi, gunung sebesar itu ternyata cuman seorang embah biasa namun punya kekuatan ekstra luar biasa! Orangnya pun engga banyak omong, tapi omongannya penuh makna dan dalam tentang kehidupan ini. Bayangkan saja dengan kaki nyekernya itu yang saat itu udah berusia sekitar 70 tahun masih kuat mendaki gunung dan memimpin warganya.

Tak heran dia akhirnya jadi bintang iklan, he he he (prediksi ngawur saya). Saya aja yang masih muda waktu itu ngos-ngosan diajak mendaki base camp nya Merapi dan Merbabu, itu pun pake sepatu sport dan jaket dan sebagainya. Sementara si mbah ini cuman nyeker dan alat-alat sederhana yang apa adanya. Entahlah apa rahasia di balik semua ‘kekuatan’ itu, itu personal Mbah Maridjan sebagai prajurit bawahan Raja. Tapi gaya hidup yang sederhana dan bersahaja, dengan rumah yang beralaskan tanah (saat itu) serta mencintai alam sekitarnya dengan sepenuh hati (di luar tradisi nenek moyang yang masih dilakukannya) semestinya dia boleh disejajarkan sebagai manusia pecinta alam sejati (layaknya LSM Barat yang hobi mengembar gemborkan cinta alam itu).

Di balik kebaikan setiap manusia tentu saja ada keburukannya. Kalau saja polah aksi Mbah Maridjan dianggap konyol serta bersifat musyrik, kembalikan saja kepada Sang Pencipta. Itulah cara dia mencoba berkomitmen, berkonsistensi dan memegang teguh amanah yang diberikan kepadanya. Biarkan Sang Pencipta yang menimbang baik buruk amalannya. Selamat Jalan Mbah Maridjan, semoga bahagia di alam sana! Senangnya saya bisa bertemu dengan orang-orang hebat dalam siklus hidup saya, dulu–sekarang–dan masa datang!


Melbourne, Okt 2010

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.