Stigma

Pritha


Akhir-akhir ini, seperti yang biasa terjadi saat ada sebuah isu baru di masyarakat, halaman-halaman depan koran bagian Lifestyle & Entertainment di rumah gue selalu dihiasi gambar Ariel dan Luna Maya, menyangkut lengkapnya berkas penyelidikan Ariel tentang video porno dan dia resmi diadili, turunnya pamor dan pendapatan mereka sebagai artis, dsb, dsb… hoaaahem.

Jujur, bukannya gue pro-pornografi, atau sok mengasihani, tapi barangkali mereka memang lagi apes sampai sebuah video yang tadinya, hmm, entah sih, tapi bagaimanapun juga itu video pastinya bukan buat dipamerin pas jumpa fans, dan ketika kebetulan videonya tersebar luas, karena kebetulan mereka artis, kebetulan mereka lagi naik daun, kebetulan banyak yang penasaran pengin nonton (dan karena sejuta kebetulan lainnya) jadilah video itu memberi masalah berat buat mereka berdua.

Rada heran juga sih gue, mengingat saat masalah itu pertama kali merebak, Indonesia langsung gempar, semua orang seperti rela meninggalkan masalah masing-masing untuk segera mempermasalahkan hal itu, bahkan sampai ke tingkat menteri dan sejumlah orang penting.

Sekali lagi, bukannya itu salah, tapi ya ampun, di saat Indonesia sedang mengalami minikrisis dari segala aspek mulai ekonomi sampai moral, sempat-sempatnya gitu mengurusi secuprit video macam begitu. Sudah begitu, yang lebih gue herankan, perasaan, dari jaman bioskop masuk Indonesia, film-film porno semacam itu kan sudah ada. Sampai sekarang, bahkan udah nggak terhitung banyaknya, industri film porno dalam negeri juga selalu bikin film-film baru, gue bukan penikmat, tapi gue tahu, karena di pasaran film begitu dijual bebas, murah punya, dan terang-terangan.

Kalau bicara mana yang lebih merusak moral generasi muda, ya film-film murah punya yang dijual bebas itu tadi. Apakah pembuat dan pemain filmnya ada yang pernah dipenjara gara-gara film mereka? Nggak ada. Kenapa? Soalnya bukan artis dan orang ternama, jadi susah ditangkap. Paling-paling filmnya dirazia, itu juga yang dirazia kebanyakan distributor, bukan produser, sutradara, dan artisnya. Dan setelah dirazia, stok masih banyak! Buktinya yang jual masih banyak.

Nah kalau yang jual masih banyak, berarti yang beli juga banyak, kan? Secara motif ekonomi, orang nggak bakalan jualan kalau barangnya nggak terus-terusan laku. Terus apakah yang beli dipenjara? Nggak juga! Warga negara Indonesia 250 juta, 10% aja dari jumlah itu yang beli film porno lalu dipenjara semua, pusing kali polisi. Apalagi kalau ternyata polisinya juga penikmat, hahahaha *peace*

Tapi kasus ini juga memberikan gambaran bagus untuk kinerja aparat yang umumnya terjadi: sebuah hal nggak terlalu penting yang dipenting-pentingkan, lalu mati-matian digarap sebagai hal penting supaya hal yang benar-benar penting nggak lagi dianggap penting sama masyarakat. Sama halnya dengan kasus Bank Century yang tiba-tiba hilang ditelan kasus Susno, lalu kerusuhan dan kerusuhan, lalu kebijakan-kebijakan Presiden yang dianggap tidak sesuai sampai terdengar kabar kepemerintahannya akan digulingkan, padahal apa yang dilakukan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat di balik semua itu?

Ada yang sibuk merancang gedung DPR baru berpuluh lantai lengkap dengan spa dan kolam renang, ada yang sibuk renovasi rumah 4 juta/meter persegi, ada yang sibuk gantian ‘studi banding’ ke luar negeri untuk meninjau hal-hal yang seharusnya cukup ditanyakan di kedutaan besar negara terkait…

Bayangkan apa perasaan rakyat, mungkin mereka akan bilang:

“Sakit hatiii saya rasanya, memangnya mereka pikir saya orang nggak berpendidikan, digoblokin mau aja??”

Tapi Bapak pernah bilang, bila terjadi KKN dalam sebuah sistem perusahaan, laporan memang pasti datang pada atasan, tapi untuk tindak lanjutnya, sang atasan akan berkata, “..kamu bisa membereskan, tidak? Kalau bisa, bereskan, kamu saya angkat jadi direktur. Tapi kalau kamu tidak bisa, tinggalkan dan acuhkan saja.”

Kenapa?

Karena kestabilan dan fokus perhatian dalam sebuah perusahaan memang harus dijaga agar keseluruhan perusahaannya nggak kocar-kacir. Gue rasa, dalam ketatanegaraan, konsep itu juga berlaku. Setiap pemimpin baru yang membawa perubahan akan dihadapkan pada dua pilihan itu: beresi dan berani mati, atau cuek aja, yang penting sisa-sisanya masih jalan.

Masalahnya, apakah yang berani mati itu akan bertahan sampai sukses atau benar-benar ditembak mati secara misterius di tengah jalan, siapa yang tahu??

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.