Kembalinya Inayah

R. Wahyu


Aku masih buka tutup jilbab waktu itu, Ada adik kelasku , Inayah namanya. Sekampung, cantik, putih, rambutnya terurai panjang. Tahi lalatnya memenuhi area indah di mana tempat semestinya si tahi lalat hinggap, di dekat bibirnya yang mungil, di bawah janggutnya yang terbelah, pokoknya ideal sekali, dibanding diriku yang standart apa adanya. Rambutpun jarang terkena lintasan sisir, kusut dan porsi tubuh pun tak ada yang layak untuk dipamerkan.

Pagi itu Inayah  mengejutkanku dan seluruh kampung dengan keputusannya berhijab, tidak tanggung tanggung, jubah biru dan hitam adalah pilihannya, lengkap dengan jilbabnya menjuntai menutupi seluruh tubuhnya yang sudah terkurung dengan jubahnya.

Semua aktifitas Bola Volley berikut predikat sang bintang ditinggalkan segera, tak pernah lagi dia nampak di depan rumah apalagi dipinggir jalan sebagaimana biasa kami sore-sore bertegur sapa. Kadang-kadang tampak juga sekedar menghirup udara segar, Inayah berjalan-jalan dengan aksesoris anehnya menurut kami waktu itu, yaitu cadar hitam yang menyisakan bulu-bulu mata lentiknya yang terkadang muncul juga dari persembunyian. Untuk ukuranku, meninggalkan kecantikan dirinya sedikit terekspos amat berat rasanya.

Inayah… ikon pertama kampungku berhijab.

Tak jarang selentingan kadang-kadang mampir ke telingaku, maklum kami biasa berangkat pengajian kala itu, kenapa aku tak segera mengikutinya, begitu kira-kira pintanya anggun setiap berjumpa denganku. Sedangkan aku, tetap angkuh dengan pendirianku, kelak ketika aku telah punya suami, aku akan segera menuntut panggilan hati yang tak jua terpenuhi. Entahlah, persepsi orang dengan alam pikirku ini.

Sebenarnya jauh di  hati, akupun ingin menutupi auratku penuh, tapi aku malu jika teman-temanku yang masih 90 persen adalah laki-laki, canda tawakupun masih jauh dari semestinya wanita berhijab seharusnya, maka tetap aku pilih, saat aku siap menyandang wanita berhijab itulah saatnya aku mengenakannya , minimal aku tak malu lagi jalan-jalan bergandengan tangan karena dia adalah suamiku, bukan lagi pacarku. Asal tahu saja, angan-anganku banyak yang belum terpenuhi.

Aku ingin menginjakkan kaki ke bioskop malam-malam, seperti teman-temanku dulu yang setiap malam minggu antri membeli tiket, mereka hafal judul film terkini berikut bintangnya, sedang aku, terbayang gedungnya saja pernah namun di berita televisi.

Aku ingin bermesraan di bawah pohon cèrme, bangkunya yang tua reot menungguku selalu setiap sore, bersama laki-laki tentunya. Ada kesejukan di sana, tak terlalu bebas kelihatan dari tepi jalan karena terhalang rimbunnya pohon Asoka. Biasanya Bapak dan Ibu malam-malam kulihat duduk berdua, sedangkan kami anak-anaknya bermain kunang-kunang seusai Isya. Diam- diam aku ingin punya pacar dan duduk di bangku itu.

Terkadang anak kecil usia balighpun mulai berangan-angan tinggi, Ehmm…pelajaran juga buatku. Bolos sekolah aku juga pernah, namun bukan untuk menyapa pacar yang diam-diam berdiri di pojok parkir sepeda, seperti temanku sekelas SMA Islam, aku hanya sakit perut, saat haid pertamaku.

Kami berjilbab semua saat sekolah, memakai rok panjang, kaus kaki dan seragam. Begitu bel kelas berbunyi jam 13. 00 kurang lebihnya, kami berhamburan keluar. Aneh, begitu pagar dibuka, tak semua seragam sama, ada yang masih abu-abu atasan putih lengkap dengan jilbabnya, ada juga yang sudah berganti jeans panjang, pendek aneka rupa, atasannya juga pelangi warnanya. Jilbab sudah tersembunyi dalam tas , sungguh cantik sekali teman-temanku tanpa jilbabnya.

Setahuku banyak dari mereka jadi ikon Mall besar di kota. Profesi sampingan mereka menampakkan jati diri. Lumayan juga, bisa menambah uang saku. Sementara aku hanya puas dengan jatah 2 pisang goreng berikut es the setiap harinya, tak ada sampingan buatku selain pulang dan belajar. Aku ingin seperti mereka sekarang.

Aku sedang mengantri, tak kalah seru dengan anak baru gede yang sedang berbaris di depanku, tak apalah bersaing berebut bangku bioskop malam ini. Maklum, anakku juga masih kelas 4 SD, maka film anak-anak lah rujukan kami. Harus tetap kujaga dan kuawasi buah hatiku agar tak lagi banyak keinginan yang menyesakkan pikirannya. Benteng hati sekarang berbeda musuh dengan jaman kecilku dulu, aku tak mau waktu mencurinya sedikit dariku.

Setiap aku pulang tak kudengar lagi Inayah di kampungku, ternyata sejak 10 tahun yang lalu dia disunting pria pilihan sesama teman pengajiannya, maklum untuknya tak ada kamus pacaran lagi.

Lewat seorang temannya Inayah diperkenalkan seorang Ikhwan yang menurutku paling beruntung. Pilihan biasanya tak sembarangan, ada kelompok khusus yang menjembatani baik dari fihak wanita dan laki-laki. Mereka mencocokkan karakter masing-masing, latar belakang pendidikan, tingkat pemahaman agamanya, dan keluarga. Bagaimanapun mereka harus menyesuaikan masing-masing calon agar tak ada masalah di kemudian hari.

Pernikahan adalah tujuannya, tak ada lagi coba-coba. Hanya sekali dua kali pertemuan, itupun tetap harus ada hijab atau minimal pendamping. Bayangkan dengan anak Islam yang perkenalannya lewat label pacaran, banyak kesempatan menyelami karakter, sifat dan tingkah lakunya, cenderung vulgar aku rasa. Setan ada di mana-mana, tak karuan apa lagi istilahnya. Dua cara pemahaman berikut oleh-olehnya.

Inayah dengan kecantikannya memilih yang pertama, untung ruginya ada, namun aku yakin saat itu Inayah melihat peluang surga di depan matanya.

Calon suami terpilihnya adalah salah satu putra ulama di kota. Tak usah ditanya lagi, pastilah benar-benar pantas bagi Inayah yang memang kukenal  aktivis da’wah, gesit, pandai dan suka bergaul. Sepertinya mereka berada dalam bahtera yang bahagia, begitulah yang aku dengar.

Sementara aku masih stabil saja, tak banyak lonjakan yang tajam, grafiknya masih naik Alhamdulillah, begitu kira-kira penilaianku sendiri. Terserah apa kata orang, aku menjalani dengan senang menurut kemampuanku, iktikad baikkupun ingin melambung tinggi namun kalau terlalu tinggi, jatuhnyapun akan terasa lebih sakit, begitu aku membela diriku.

Aku masih iri dengan kemampuan orang di bidang agama yang jauh melampaui aku, akupun akan mengejarnya, aku juga iri dengan orang miskin yang masih setia dengan sholatnya, mereka tetap ingat Allah, walaupun hidupnya disibukkan dengan lilitan kelaparan setiap harinya.

Sore itu, aku mengantarkan undangan, lewat di depan rumah Inayah, sepintas sepi, tiba-tiba muncullah sosok gadis manis, rambutnya pendek sebahu, hitam mengkilat, celana pendek selutut menampakkan kakinya yang panjang indah, senyumnya masih kuingat jelas, itu adalah Inayah…anaknya berlarian ke jalan, Inayah mengejarnya. .

Ya Allah… apa yang terjadi, sehingga kau cabut aura indah hijab InayahMu dulu. . ??  Dia adalah ikon hijab kampungku yang telah menorehkan perasaan bersalahku yang bertubi-tubi, mengapa aku dulu tak bisa seberani dia menantang arus ?

Tak berani lagi aku menanyakan terlalu panjang, ada gurat kesedihan di matanya, pahanya yang terbuka menyisakan bekas siraman air panas, hampir rata, rambutnyapun hitam namun  jarang, tak seindah dulu lagi, separuh kecantikannya sepertinya terenggut 10 tahun pernikahannya yang kandas sebulan yang lalu. .

Ada kabar burung….

Ijab qobul telah terucap, dua pengantin ideal itu duduk bersimpuh di hadapan sang Ibunda, Ayah Inayah , salah satu guruku di SD telah meninggal dua tahun yang lalu. Tinggalah Inayah dengan Ibu, saudara laki-laki dan  saudara perempuannya. Yang laki-laki parasnya tampan dan bersih, sedang kan  kakak perempuannya sama cantik dan menjadi kembang desa, sebelum mereka memakai hijab.

Inayah adalah anak bungsu yang terakhir menikah. Beban sang Ibu melepas anak-anak terbaiknya telah usai, nanti dia akan tinggal sendiri dalam rumahnya yang lumayan besar untuk ukuran rumah di kampungku. Ada kakaknya tertua tinggal tak terlalu jauh, bersiap menjaga sang Ibu, itu membuat Inayah mau diajak suaminya pindah mengikuti arah rizki suami, tak terlalu jauh juga, satu jam perjalanan biasanya kutempuh.

Setiap sebulan sekali Inayah berkunjung, aku tahu itu, karena setiap Inayah pulang pasti ada taksi seharian penuh berhenti di rumahnya. Taksi yang berhenti seharian membuatku berhitung, berapa rupiah yang akan dipanen sang supir dengan hanya duduk seharian di teras rumah menunggu sipenumpang melepas kangennya. Usil juga penghuni kantong kiriku ini.

Di desa jarang sekali ada taksi lewat, kecuali ada TKI yang sedang pulang kampung.   Biasanya mereka turun dari bandara, tak mau repot dengan barang bawaan mereka menyewa taksi sampai ketujuan, 4 jam lamanya dari bandara sampai ke kampungku.

Tak banyak yang aku tahu tentang kehidupan pribadi mereka, kesannya adalah mereka memang menjalani rumah tangganya layaknya pasangan islami yang biasanya berlomba-lomba meraih tiket surga, aku selalu berfikir demikian.

Dalam diriku timbul tenggelam pertikaian bila aku ingat kemarin, keributan dengan suamiku tak kunjung usai. Ah, membuat prestasiku yang baru kunobatkan sebagai pasangan biasa-biasa saja namun harmonis , sedikit tercoreng. Itu karena prestasi keluarga Inayah jauh melambung di atasku, begitulah, dari dulu aku selalu tiga langkah tertinggal di belakang. Saat menikah dulu usianya masih sekitar 22 tahun, sekarang sudah ada 3 anaknya , 2 laki-laki dan 1 perempuan .

Sebulan ini kulihat mereka sering terlihat bermain di teras rumah, seperti dulu, Inayah duduk di tepi pagar, ada bangku disediakan untuk para orang tua mengawasi anak mereka bermain di sore hari, menunggu maghrib tiba. Kali ini berbeda karena Inayah memegang sepiring nasi sibuk menyuapi anak-anaknya yang berlarian di halaman.

Dulu makhluk mungil lucu itu pernah kulihat terbungkus jilbab kedodorannya, warnanya kemerahan, warna cerah anak-anak kecil rupanya. Mereka masih membolehkan anaknya berpakaian agak terang selama masih belum baligh. Jilbabnya lusuh bersama ingus yang sesekali diraih tangan kecil itu menyentuh jilbabnya, kain terdekat yang bisa dipakainya.

Sekarang, mereka sama –sama polos menikmati masa-masa yang hilang beberapa tahun yang lalu, tanpa jubah, kerudung dan cadar hitamnya, kakinya jenjang berikut kulitnya yang putih dibiarkan tersapu angin sore itu.

Sepuluh tahunnya hilang bersama datangnya selembar surat cerai dari sang suami, aku merinding mendengarnya  mengulas hari demi hari kehidupan pahitnya, bersama 3 buah hatinya dia ingin memulai  dari tempatnya tumbuh dewasa, bahkan memulainya dari saat dia tanpa kerudung panjangnya.

Aku tak mau memberikan kesimpulan  dari cerita  Inayah. Ada banyak hari dan  peristiwa mereka melewatinya sampai berakhirnya kisah suci mereka. Pasti berat, melihat perubahan yang demikian drastisnya. Sungguh jodoh, mati dan rizqi di tangan Allah, Dia yang maha tahu  apa yang ada di hati hamba-Nya.


Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung R. Wahyu. Make yourself at home. Terima kasih Dewi Aichi sudah memperkenalkan satu lagi kontributor baru di sini…


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.