[Family Corner] Belajar Dari Pekerja Rumah Tangga

Rina S – Bogor


Mendapat ijin cuti di pertengahan hari kerja tanpa alasan terlalu urgent, seperti sebuah hadiah untuk saya. Agendanya tentu saja bermain seharian bersama Azka. Menikmati jadi mama. Seperti hari itu. Rencananya saya; mengajak jalan pagi Azka ke taman,  mengantar jemput Azka ke playgroup, menemaninya bermain, tidur dan jalan sore ke taman.

Tapi tanpa disangka saya mendapat pelajaran berharga hari itu. Pelajaran dari keluhan beberapa pekerja rumah tangga, baby sitter tetangga sekitar. Yap, kalau biasanya saya mengeluhkan sikap pekerja rumah tangga maka hari ini saya mendengarkan keluhan mereka dan mendapat banyak pelajaran.

Salary

Sapaan saya terhadap si  mak (panggilan) pekerja rumah tangga tetangga, saat hendak mengantar Azka jalan-jalan pagi ke taman berbuntut keluhan soal gaji yang dinilainya kecil untuk mengurus semua pekerjaan rumah tangga plus dua anak balita. Tanpa ditanya dia pun menyebutkan gajinya.  Saya menyarankan si mak untuk mengkomunikasikannya dengan majikannya.

Sejauh pengetahuan saya bicara soal gaji pekerja rumah tangga tidak ada standar khusus. Umumnya orang menggaji pekerja rumah tangga   dengan standar yang berlaku di sekitar tempat tinggal. Tak heran kisaran gaji PRT untuk tiap tempat tinggal, walaupun dalam kota yang sama, berbeda. Jujur, saat pertema kali mempunyai PRT saya pun memberi gaji dengan standar yang berlaku di komplek tempat saya tinggal dan berkaca  dari gaji PRT teman kantor namun mendapat protes keras dari suami karena dinilainya angka itu terlalu kecil.

Jadi berapa gaji minimum PRT? Tidak ada standar resmi, salah satu sebabnya PRT masih dikatagorikan sebagai pekerjaan tidak resmi, UU ketenagakerjaan hanya mendefinisikan yang disebut pekerja terbatas pada pekerja industri. Namun tanpa standar resmi bukan berarti kita semena-mena menggaji mereka. Saya percaya, jika gaji dan perlakuan terhadap mereka layak maka PRT ini pun akan bekerja lebih baik. Dan terutama untuk mama bekerja, ingat lho Ma, jangan sampai kekesalan mereka karena gaji dan perlakuan kita yang tidak layak berimbas pada perlakuan terhadap anak yang kita titipkan.


Anak Nakal

Siang harinya, saat mendapat keluhan dari seorang baby sitter (bukan PRT)  saat Nadia (1 tahun 8 bulan) balita yang diasuhnya bermain bersama si kecil saya di  rumah. “Nadia kok diam saja, ayo main sama Azka,” kata saya ketika saya perhatikan Nadia hanya diam melihat Azka yang dengan semangat menunjukkan semua mainannya.

“Kalau di rumah dia nakal, Bu.”

“Nakal kenapa?”   saya selalu tercenggang jika seorang batita dikatai nakal.

“Kalau di rumah suka mengacak-ngacak mainan dan melempar-lemparnya.” Saya jadi teringat Azka.

“Itu bukan nakal, Mbak. Dia bosan kali di rumah terus atau bosan sama mainannya.”

“Iya maunya main keluar tapi saya malas. Di luar  panas banget.”

“Mbak kan bisa payung terus ajak Nadia duduk di bawah pohon sana,” menunjuk sebuah pohon rindang di taman samping komplek. Hal yang juga saya sarankan pada si mbak pengasuh si kecil atau memindahkan area bermainnya. Ke ruang tengah ke teras depan atau belakang atau dapur dan membiarkannya berekplorasi dengan perlengkapan rumah yang sekiranya tidak membahayakan.

Pelajarannya, bagikan pengetahuan mama perihal pengetahuan parenting kepada pengasuhnya agar ia tidak mudah melabeli anak kita dengan sebutan ‘nakal’.


Makanan ‘instan’ untuk si Kecil

Saya menyapa seorang mbak yang tengah bermain ayunan  sambil menggendong anak yang diasuhnya. Di ayunan sebelahnya tergeletak sebuah mangkok.

“Lagi makan, ya? Makannya lahap ya, Mbak?”

“Sekarang susah makannya. Dulu sich iya lahap,” lagi-lagi saya teringat si kecil Azka yang mulai pilih-pilih makanan.

“Mungkin bosan mbak sama menu makannya.” Saya selalu berkeyakinan sebenarnya tidak ada anak yang susah makan yang ada anak-anak bosan dengan makannya atau makananya tidak enak tapi tak bisa mengungkap keinginannya atau bingung dengan makanan apa sekiranya yang diinginkannya. Jadi yang dibutuhkan adalah kreativitas mama.

“Mbak yang masak makanannya.”

“Enggak, beli. Soalnya ibunya kerja pergi pagi dan pulangnya malam.”

Saya melongok isi  bukan sekedar ingin tahu tapi cari inspirasi untuk menu baru si kecil. terlihat nasi berkuah kuning. “Sup apa, Mbak.”

“Oh ini soto, beli di depan.”

Duh, apa papa dan mamanya gak tahu, kalau kadar garam dan msg makanan warung tinggi, belum higienitasnya mengingat daya tahan tubuh si kecil masih rawan?


Semua Pekerjaan Bibi

Apa pekerjaan PRT mencakup pekerjaan ‘remeh’ seperti, membukakan kaos kaki si kakak (yang sudah duduk di bangku TK atau SD), mengambilkan handuk mama/papa di jemuran (karena mama mau mandi dan males ke luar), melap mobil (sering lihat prt –perempuan- melap mobil majikannya), mengambilkan barang yang jatuh di ujung kaki kita dsb…?

22 Comments to "[Family Corner] Belajar Dari Pekerja Rumah Tangga"

  1. Ninik iwanto  21 July, 2015 at 10:44

    Terkadang PRT/BABY SITTER juga banyak yg nakal. Contohnya yg terjadi pd sy. PRT sy pulang sore. Pekerjaan hanya bersih2 rumah, nyuci pakai mesin cuci, setrika sy laundry kan n masak sy yg mask. Sy gaji 1jt, tiap minggu sy kasih uang jajan n bensin 50rb. Tapi kerja juga dibuat se enaknya sendiri. Sering gk masuk tanpa ijin. Kerja main hp terus.

  2. Ninik iwanto  21 July, 2015 at 10:44

    Terkadang PRT/BABY SITTER juga banyak yg nakal. Contohnya yg terjadi pd sy. PRT sy pulang sore. Pekerjaan hanya bersih2 rumah, nyuci pakai mesin cuci, setrika sy laundry kan n masak sy yg mask. Sy gaji 1jt, tiap minggu sy kasih uang jajan n bensin 50rb. Tapi kerja juga dibuat se enaknya sendiri. Sering gk masuk tanpa ijin. Kerja main hp terus.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.