De herfst, musim gugur telah tiba

Nunuk Pulandari


Musim gugur untuk banyak orang, terutama untuk saya,  tetap merupakan salah satu fenomena alam yang  menarik. Mungkin untuk yang belum pernah mengalami  tinggal atau berada di daerah yang bermusim 4, akan sukar dibayangkan betapa banyaknya fenomena alam yang mengikuti perubahan musim yang ada. Indahnya perubahan warna di sekeliling tempat kita berada, dalam hal ini di Belanda,  bisa dilihat melalui berbagai macam kehidupan  di dalamnya.

Musim gugur di Negeri Belanda dalam cerita saya akan saya tuliskan dalam 3 bagian.  Pertama, cuaca yang mulai gonjang-ganjing . Bagian kedua dan ketiga bisa dibaca dalam cerita yang berikutnya.

Perubahan alami di musim gugur terutama  diawali  dengan menurunnya temperatur sehari-hari.  Dari temperatur musim panas yang bisa mencapai diatas 30 derajat C  secara perlahan mulai turun. Menjadi di bawah 20 derajat C. Dan tiba-tiba bisa anjlok menjadi  (saat ini) 4 derajat C. Seringkali cuaca yang sudah mulai turun temperaturnya  akan menjadi tambah dingin karena disertai hujan dan angin yang terasa menggigit kulit kita.

Bahkan temperatur minggu lalu sudah mulai mencapai di bawah 0 (nol) derajat C karena turunnya “hagel” hujan es . Dampaknya bisa terlihat dalam “het nieuws” di t.v..  Dalam siaran berita  ditayangkan tentang tabrakan beruntun  berikut sejumlah korbannya. Ini semua terjadi karena jatuhnya hujan “hagel”. Hujan es yang membuat jalanan menjadi licin. Dan para pemakai jalan yang tidak/belum memperhitungkan turunnya “hagel” di awal bulan Oktober terjebak ketika harus mengerem secara mendadak.

Dan dinginnya cuaca di pagi hari bisa dilihat dan didengar dari para pemilik mobil yang sedang “aan krabben” mengerok/ menggaruk lapisan es yang menempel di kaca-kaca mobil di depan rumah. “srek, srekkkk sreeekk” … Wouwww dinginnya.

Seiring dengan perubahan cuaca , tibanya musim gugur juga dibarengi dengan semakin cepatnya  perubahan pergantian antara gelap dan terangnya  cuaca sehari-hari. Biasanya pada awal musim gugur keadaan di sekeliling kita sore hari sudah mulai gelap . Jam 17.00 an sudah mulai gelap. Lambatnya pergantian antara gelapnya malam hari dengan terangnya pagi hari untuk sementara orang kadang dapat mengganggu ritme kehidupan sehari-hari.  Saat ini di Belanda terangnya pagi hari dimulai jam 09.00 an. Untuk mengantipasi perubahan gelap/ siang, akhir bulan Oktober jam/ waktu yang berlaku dimundurkan satu jam. Jadi kalau sekarang jam 18.00 akhir minggu ini menjadi jam 17.00. Dan beda waktu dengan Indonesia berubah tidak lagi menjadi 5 (lima) jam tetapi menjadi 6 (enam)jam.

Kadang kalau sang surya masih mau menampakkan dirinya cuaca akan terasa  sedikit panas.  Dan kalau kita mencermati  cuaca di pagi hari, meskipun hanya sebentar, munculnya sang surya  biasanya diiringi dengan keindahan nuansa warna tersendiri.

Indahnya nuansa warna yang biasanya terlihat di sekitar sang surya. Sayangnya seringkali hal ini tidak berlangsung lama. Setelah sang surya bersinar dengan  cemerlangnya, tidak lama kemudian di sekitarnya akan bermunculan gumpalan-gumpalan awan yang besar. Gumpalan awan yang mengandung banyak butiran air. Lalu sang surya akan “menyembunyikan”  dirinya di balik awan.  Dan tidak lama kemudian  akan turun “motregen” hujan gerimis yang halus. Butiran-butiran halus air hujan yang biasanya berjatuhan dengan merata di seluruh wilayah Belanda.

Dan wiper di kaca depan mobil akan mulai melakukan tugasnya, menepiskan  air hujan yang mengalir ke kiri dan ke kanan tanpa merasa lelah.….

Berbicara tentang hujan , di awal musim gugur tidak jarang juga turun hujan lebat yang disertai dengan kilat yang menyilaukan mata. Dan kadang terdengar kerasnya suara “donder” gelegar bunyi geluduk. Ada juga lhoo di Belanda.

Musim gugur juga mengingatkan saya kembali di tahun-tahun 70-an. Awal saya tinggal di Oegstgeest, kota kecil yang jadi kampung Melayunya mahasiswa Indonesia di Leiden, negeri Belanda. Hampir setiap hari sebelum saya keluar rumah, ibu kost selalu bertanya: ”Heb je je paraplu –payung- bij je? (kamu bawa  payung ?)” atau “Vergeet niet je paraplu Nunuk (Jangan lupa payungmu)”.   Entah hanya untuk memuaskan ibu kost atau hanya untuk memberati tas, sebuah payung kecil  memang selalu ada di tas.

Pada mulanya saya tidak tahu mengapa dan apa alasannya ibu kost selalu menanyakan tentang payung. Sampai suatu hari ketika saya berangkat dari rumah  dengan cuaca yang terang benderang. 5 Menit berjalan santai menuju ke tempat halte bus, tanpa “ba” atau “bu” tiba-tiba turun hujan deras…..Mak breeeessss..  Dalam hitungan yang super singkat, secepatnya payung  terkembang dan saya berlari di bawah payung mengejar bus yang sudah menunggu di halte…. Jadi kalau musim gugur sudah menjelang, salah satu hal yang tidak boleh terlupakan adalah membawa payung ke manapun kita pergi. Hal ini penting mengingat berubahnya cuaca yang tidak dapat diprediksi terlebih dahulu.

Lucunya sekarang, kalimat yang sama juga saya ucapkan kalau Lei akan keluar rumah dan musim gugur sudah mendatang….Ha, ha, haaa. Ketularan.

Musim gugur tentunya tidak hanya identik dengan cuaca yang buruk dan hujan. Kadang masih tersisakan satu atau dua hari yang penuh dengan sinarnya sang surya.. Tentunya kita semua mengerti mengapa hari-hari  ini selalu dirindukan oleh kita semua yang tinggal di negeri  4 musim.  Memang musim gugur secara teoritis hanya berlangsung selama 3 (tiga) bulan saja. Tetapi setelah musim gugur “berakhir”, dalam 3 (tiga)atau 4 (empat) bulan berikutnya musim dingin masih mengikutinya. Alhasil  mulai akhir September sampai dengan akhir Maret kita akan jarang melihat sinarnya sang surya. Dan kita akan lebih banyak tinggal di dalam rumah…Salah siapa mau tinggal di Negeri Belanda!

Untuk mengetahui cuaca di hari-hari berikutnya biasanya ramalan cuaca di media massa diharapkan dapat memberikan informasi yang menggembirakan. Dan bila hal ini terjadi maka  station akan dipenuhi calon penumpangnya untuk pergi ke tempat wisata yang pasti akan dipenuhi oleh para toeristen.

Tempat-tempat minum kopi  (bukan tempat beli drug lhoo ya) juga akan dipenuhi oleh pengunjungnya. Suatu hal yang cukup penting bagi perekonomian dan dunia wisata Negeri Belanda.

Seiring dengan perahu yang mulai meninggalkan pangkalannya untuk mengantar para toeristen melihat-lihat kota Amsterdam terucap: “Tot weer schrijven en doei”

***Hari ini cuaca di luar plus minus 6 derajat C dan sepanjang hari sang surya tidak pernah mau menampakkan dirinya. Jammer…Groeten Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *