Mak dan Ariel

P. Chusnato Sukiman


Biarkan telinga mendengarkan apa saja…

Kali ini saya dan Mak (80 tahun) benar-benar beda selera. Dia meminta saya menyetelkan lagu “Bintang di Surga”. Saat itu perasaan tidak percaya dan geli bercampur aduk.

“Jangan terlalu kencang, biar bisa sambil nembang,” katanya. Lalu saya dipinta memapahnya dari kursi roda untuk duduk ke depan satu set gamelan milik bapak yang mulai berkerak.

“Idih, lagu ini Muse banget tau maaak…..” canda saya dengan suara berderak seperti tak rela ada lagu yang kurang masuk selera mampir ke telinga saya.

Mak tidak pernah mengenal siapa group Muse itu, tapi dia kalem saja. Mulailah dia merayapi gamelan, menabuh gender sambil menembangkan “Bintang Di Surga” dalam bahasa Jawa yang dia gubah menjadi “Lintang ing Swarga”. Saya menyaksikan bagaimana Mak dan Ariel seakan duet dengan langgam masing-masing. (saya menulis ini dengan mata berkaca-kaca).

Saya terkejut. Perasaan seperti nganyut, nyasar entah ke mana. Dan entah karena suatu apa, saya bisa ikutan hanyut dan memaafkan Peterpan yang masuk ke dalam telinga saya dan menerawang di rumah kami

***

Saya bukan penggemar Peterpan. Tentu saja, untuk yang ini saya bertaruh bukan semata soal gengsi atau perkara status sosial. Saya belum mendapatkan hal yang baru, yang Peterpan bawakan dalam bermusik. Hanya itu pikir saya.

Barangkali semua hal berbau musik tidak melulu berkaitan dengan urusan selera, tapi tidak adanya interaksi langsung aktivitas telinga saya dengan group asal Bandung ini menyebabkan saya kurang mengenal musik mereka.

Adik saya pernah mengatakan, selera musik itu juga dipengaruhi tempat yang paling sering kita singgahi. Lupakan dulu ipod atau mp4 di telinga yang membuat kita bisa tampil egois dan seakan hidup dalam studio sendiri tanpa pernah mempersilakan pengaruh suara-suara lain masuk ke telinga kita tanpa permisi.

Ternyata ada faktor lain juga sangat berpengaruh terhadap selera kita, kata adik menjelaskan lebih rinci. Salah satunya adalah intensitas “berani” mendengarkan lagu di area publik yang distel suara keras. “Ini bisa bikin kita lebih toleran dengan musik lain di luar selera kita. Termasuk belajar toleran dengan hal di luar keinginan kita..” (saya curi ucapan adik saya itu).

Dia menjelaskan bagaimana Mall Ambasador membuatnya mengenal nama Kangen Band, Vierra, atau juga Geisha yang jelas-jelas bukan pilihan seleranya. Tapi sejumlah hits mereka jadi sangat akrab di telinganya, dan kemudian secara tak sengaja ia masukannya ke dalam song lists-nya di ipod-nya.

Semirip itu juga lah saya dan Peterpan.

***

Selain gemar meracuni kami dengan puluhan dongengnya, Mak punya kebiasaan nembang dengan gamelan selepas Makan malam. Saat saya kecil saya sering sekali mendengar tembang kuna, “Dandang Gula” yang bisa dia tembangkan lebih dari 45 menit. Dan ketika puluhan tahun bergulung, Mak masih tetap nembang, tak cuma tembang kuna, tapi tembang lain yang selaras dengan langgam zamannya. Dan, tentu saja Peterpan adalah salah satunya.

Suatu kali di liburan lebaran beberapa tahun silam, saya terkejut sejadi-jadinya ketika mendengar Mak nembang dalam bahasa Indonesia. Dia menyanyikan sebuah lagu yang saya tak tahu sebelumnya lagu apa itu. “Tak kan lelah aku menanti, tak kan hilang cintaku ini, hingga saat kau kan kembali, kan kukenang di hati saja…” begitu lirik yang diolahtembangkan oleh Mak.

Saya berpikir keras dan mengacak-acak arsip memori lagu dalam otak saya. “Lagu apa ini? Lagu siapa ini?” Saya terus bertanya-tanya sambil tetap menjaga posisi leyeh-leyeh di bale depan rumah kami.

Perlu beberapa menit untuk menerka lagu itu. Saya coba menebak sejumlah judul, tapi sayapun ragu. Lagu itu mengalun indah, dia memberi sentuhan sedikit irama “pelog barang”, agak ganjil memang, dan itu yang membuat saya kehilangan jejak lagu siapa ini? Saya yakin pernah mendengarnya, tapi saya tak mampu menebaknya.

Mulanya, memang saya tidak begitu hapal dengan lagu “Yang Terdalam” milik Peterpan ini. Dulu, sebelumnya, kali pertama mendengar lagunya, saya menduga Peterpan hanya mengolah sejumlah muatan melodi dalam lagu-lagu Cranberries yang kemudian mereka besut dalam lagu versi mereka.

Lagu “Yang Terdalam” pernah mampir ke telinga saya tanpa permisi lewat tembang Mak saya, dan keesokan harinya saya berusaha mendengarkan versi aslinya. “Bungkus!”

***

Saya bukan penggemar Peterpan. Dan kali ini saya biarkan saja bagaimana Mak mengambil jarak bereda dalam selera. Sebenarnya tak patut saya mempertanyakan mengapa dari begitu banyak group band anak muda Mak malah memilih Peterpan, mengapa bukan Padi, atau mengapa bukan yang lainnya.

“Ariel itu menulis lagu dengan perasaan…” kata Mak. Saya menyahut semua penulis lagu juga bakal bilang begitu.

“Dia jarang menggunakan simbol tapi pandai dalam berbahasa, Mak yakin dia sangat memelihara kebiasaan berbahasanya dengan baik…”

Saya diam. Dan saya anggap ini semua sumir. Saya yakin sekali bahwa kami benar-benar berbeda dalam selera, itu saja kata kuncinya.

“Coba sekali-kali racuni telingamu dengan hal-hal yang terkadang kamu anggap murahan, suara-suara yang menurutmu tidak berselera, not-not yang kamu anggap tak berkelas, atau instrumen kacangan yang tidak sesuai kemauanmu, nak…”

Saya diam.

“Dunia nun jauh di sana, rupa yang nyata hanya menjadi bayangan bagi yang tak tahu apa-apa. Suara-suara yang kadang kamu jauhi itu pasti punya banyak lekukan-lekukan yang belum kamu ketahui sebelumnya …” kata-kata Mak seperti racun, meski sudah beberapa tahun lewat saya masih masih hapal bagaimana waktu itu dia menusuk telinga saya.

Saat itu saya mlengos. Lamun lamat-lamat saya mulai mengingat-ingat banyak hal, apapun itu, yang belum saya ketahui dan entah karena suatu apa terkadang saya langsung bilang emoh lalu beringsut, padahal saya belum tahu apa-apa, bahkan belum pernah mencobanya sama sekali…

***

Chusnato, Jakarta 14 Juni 2010

=====================================

* Persembahan buat Mak di kampung yang selalu membuat saya yakin selalu ada kesempatan “naik kelas” dalam hidup, meski ponten saya selalu jeblok

** Tulisan ini termasuk salah satu catatan harian yang akan dibukukan bersama catatan lainnya dalam buku “Kumpulan Remah-remah Harian – Obrolan di Meja Makan” yang direncanakan terbit awal tahun 2011 mendatang.

14 Comments to "Mak dan Ariel"

  1. J C  9 August, 2011 at 19:58
    إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

    Turut berbela sungkawa mas Chus…

  2. Dewi Aichi  9 August, 2011 at 17:43

    Innalillahi wa innaillahi rajiun…semoga ibunda mas Prasodjo Chusnato Sukiman bahagia di sisi Allah SWT, semoga mas Chus tabah dan ikhlas…doa kami untuk mas Chus sekeluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.