Simpang Lima atau Kaki Lima

Djoko Paisan – Mainz, Jerman


Hallo keluarga BalTyRa yang berbahagia,

Salam jumpa dengan oret-oretan Dj. Sehat semuanya kan….???  Puji TUHAN….!!!

Kalau ada yang sakit, seperti Mea, segera ke dokter dan jangan tunggu-tunggu lagi, nanti semakin parah sakitnya. Semoga Ujiannya berjalan lancar…!!!

Okay…siapa mau bersama Dj. kembali ke Semarang…Ke Semarang lagi….??? Yu Lani pasti tidak akan bilang “tidak”…!!

Nah ini Dj. ada beberapa photo yang ingin Dj. pamerkan, tapi di sini sebenarnya bukan soal photonya, bagus atau tidak. Tapi Dj. ingin anda semua ikutan lihat, apa yang Dj. lihat yang sangat menarik.

Hal ini mengingatkan masa kecil Dj. saat masih di Semarang duluuuuuu…sekali…..

Suka jajan di kampoeng, beli pecel kangkung, atau rujak, jenang, bolang baling atau makanan yang lainnya. Padahal ibu Dj. sendiri juga buka warung, itulah mengapa Dj. ambil buanyak sekali photo tentang ibu-ibu yang sedang jualan di Simpang Lima, atau kaki lima di Semarang….???

Jujur Dj. ambil sangat buanyak photo, tapi ini ada beberapa yang ingin Dj. pamerkan, typis penjual makanan di Semarang…??? Mungkin di tempat lain juga demikian ya…maaf…!!! Jangan Yu Lani yang ditanya, dia pernah tinggal di Semarang selama 13 tahun, dia tau semuanya, walau yu Lani berasal bukan dari Puertorico…. hahahahahaha….!!!

Jelas …pertama Dj. lihat ibu-ibu yang jualan nasi campur, ada rempeyek, sate kambing, ayam dan juga sate kerang, ada lontong yang dibungkus daun pisang dan banyak macam lagi. Jadi ingat kalau naik K.A. dulu dari Semarang ke Surabaya suka makan sate kerang, hhhhmmmmm…!!!!


Silahkan lihat sendiri, pasti anda semua akan merasa lapar….hahahahaha…!!! Jelas, mereka sudah tidak menggunakan pincuk dan suru dari daun pisang, tapi sudah pakai kertas minyak (kalau tidak salah), juga sendok. Hhhhhhmmmmm……!!!

Melihat para pembeli yang duduk-duduk sambil makan, sedikit ngobrol….entah apa saja yang jadi thema obrolan mereka…..kelihatan sangat menikmati…!!!

Maka Dj. sempat ngiler juga…..hahahahaha…!!!

Tapi melihat yang jual hanya menggunakan jari-jari mengambil makanannya, jadi mundur juga.

Dari asap sate bakar, sudah bisa bikin air liur menetes….hhhhmmmm…..!!!!

Walaupun ada juga penjualnya muda dan cantik, maka seperti bapak yang berkaos biru ini, dia sangat menikmati dan pandangannya tidak lepas dari makanannya….hhhhhmmmmm….????!!!! Kalau mas Anoew atau Pambers, pasti curi pandang penjualnya….hahahahaha….!!!  Sorry Jokes ya….

Cukup membuat kami (Dj. , Susi  dan  Daniel) keheranan….Karena direkt di pinggir jalan dan banyak asap dari knalpot mobil, speda motor dan juga debu. Tapi semua pembeli makan dengan sangat menikmati makanan dengan duduk lesehan…. Hebat…!!!

Nah pemuda ini melihat kepiting yang sangat menggiurkan (jelas sudah masak), maka dia tambah bingung… Beli..tidak…beli… tidak…beli…tidak… ya…milih yang mana ya….???? hahahaha…!!!

Yang ini lucu lagi…

Si nona senyum ramah (sedikit minta perhatian) ke pacarnya….mas…mas… aku masih di sini…Makan dulu itu satenya, nanti keburu dingin….Tapi si mas satu ini malah melototin Susi yang berdiri di samping Dj. hahahahaha….!!!

Di sini Dj. lihat ada yang lain lagi…Si ibu penjual lontong dan sate ini, sedang mikir….mikir…mikir….mengingat-ingat…Si ibu itu tenang-tenang saja, sudah bayar belum ya….wah..wah…bisa rugi, payah deh…kalau yang jualan pelupa….

Melihat makanan yang di atas, rasanya ingin coba satu persatu, tapi ragu-ragu juga, karena adik Dj. selalu mengingatkan. Nanti perutnya tidak kuat, malah sakit, jangan lah mas….

Di samping makanan lesehan, ada juga yang jualan bermacam-macam pedagang kueh. Tapi kalau melihat yang jualan klepon di bawah ini, Dj. juga hilanglah selera.

Habis ini ibu ambil kleponnya dengan tangan (emang mau dengan kaki…???)

Maksud Dj. dia tidak menggunakan sendok atau alat capitan untuk ambil jualannnya.

Sayang sakali, padahal Dj. yakin pasti itu klepon pasti sangat uenak……!!!

Lihat saja apa yang dibikin si ibu, karena tidak ada yang beli, maka dia hitungin itu kleponnya…1…2…3…4…!!! Sedang suami atau saudaranya di samping, juga mikir….sudah dibilang jangan banyak-banyak bikinnya…

Kan yang sengasara aku, mesti seharian makan klepon, kalau tidak laku….Atau…mudah-mudahan nggak laku, jadi di rumah nanti bisa makan klepon…Hahahahaha…!!!

Nah herannya, bapak-bapak yang jualan di bawah ini,  malah kelihatan lebih rapi dan bersih. Mereka menggunakan capitan untuk mengambil kuehnya dan dimasukan ke dalam karton. Mbak DA pasti tau, nama kue itu yang mekrok, pakai pewarna, ada yang ijo putih dan ada yang coklat putih.

Nah ibu di bawah ini, kelihatan sangat tenang, mungkin sudah laku banyak….Tapi entah apa yang dia jual, selain klepon….

Nah….ibu berbaju merah ini, sedang menggoreng singkong pesanan Dj. Dj. nekat beli, karena Dj. lihat dia goreng, jadi pasti bersih dan disediakan japitan untuk ambil makanannya. Ibu ini bicara ke Dj…Tak pilihin yang bagus-bagus ya pak…

Sebenarnya hanya ingin nyicipin saja, tapi karena murah sekali, jadi deh ambil 10 potong.

Hanya sayang, saat di hotel kami makan, singkongnya belum mateng, alias masih keras…Mungkin ini ibu lupa akan resep dari Yu Lani……hahahahaha…!!!

Sedangkan ibu di bawah ini, sedang melamun, kalau dagangannya laku semua, maka dia akan jualan lagi minggu depan dan kalau selalu laku, maka dia bisa nabung untuk jalan-jalan ke Jerman bersama bu GuCan.

Sedang di dalam grobak ini, sungguh banyak makanan yang kelihatan sangat enak.

Ada lumpia (walau bukan dari gang Lombok), ada tahu goreng, ada sate, ada lontong yang dibungkus dengan daun pisang (bukan daun pisangnya mbakyu NU2K lho ya), juga ada banyak macam buah-buahan.

Okay….

Semoga photo-photo yang Dj. pamerkan, tidak membosankan ya. Mungkin bagi anda yang tinggal di Indonesia, bukan hal yang aneh. Tapi bagi Dj. dan sobat yang lain yang tinggal jauh dari kampoeng halaman, apalagi yang sudah lama tidak mudik. Pasti satu hal yang bisa untuk tombo kangen.

Dengan photo-photo di atas, Dj. hanya ingin memamerkan bagaimana penjual makanan di Simpang Lima yang membuat kami keheranan. Keheranan…??? Ya…!!! Benar…!!! Karena yang seperti ini tidak ada di Mainz dan untuk Susi dan Daniel lebih lagi, karena biasanya kalau kami mudik, kami tidak begitu memperhatikan seperti saat ini.

Terimakasih untuk kesabaran anda semua.

Dan terimakasih juga untuk pengasuh BalTyRa yang selalu menerima oret-oretan Dj. dengan baik. Semoga photo-photo di atas, bisa membuat rasa kangen bagi anda semua yang sudah lama tidak mudik, sedikit terobati.

Dan semoga, satu saat anda bisa ke Simpang Lima untuk menikmati suasana di sana.

Hanya saja kalau perut anda masih kuat, silahkan menikmati semua makanan yang ada di jual di sana. Maaf bila ada kata-kata yang tidak berkenan ya.

Yu Lani, ini pindang bandeng, mau nggak…???  Dj. sudah borong semua nih….

Maaf, photo yang ini Dj. ambil di depan Pasar Klewer, Solo.

Sampai jumpa lagi di oret-oretan Dj. yang akan datang. Salam manis dari Mainz dan semoga Kasih dan Berkat TUHAN, menaungi kita semuanya.

Mas  Iwan…hallo….mas Iwan…??? Mas Iwan…???  Hallloooooooo…..!!!???

Di sini Dj.813 mas… ya benar di Mainz….hahahahahaha…!!!

(lha dibilang boss mafiosa yang nelpon anak buahnya yang bernama mas Iwan)


About Djoko Paisan

Berasal dari Semarang. Sejak muda merantau ke mana-mana, Bandung dan Sulawesi dirambahnya. Benua Eropa adalah tempatnya berlabuh setelah bertemu dengan pendampingnya di Jerman. Dikaruniai 2 putra dan 1 putri, serta 3 cucu. Keluarga besar Paisan bergaung ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel Website

171 Comments to "Simpang Lima atau Kaki Lima"

  1. Dj.  11 March, 2012 at 23:29

    Mas AT…
    Matur Nuwun sudah mampir….
    Sangat disayangkan, kalau Simpang Lima digusur….
    Karena kami sangat menikmati suasana di Simpang Lima.
    Yang mana hal tersebut tidak ada di Mainz, apalagi sambil mendengarkan percakapan orang-orang seperti musik ditelinga Dj.

    Nah ya, padahal hal yang mudah, kalau yang diatasnya atau yang menjaga memberi contoh yang baik, penjual, biasanya menuruti. Makksud Dj. kalau wali kota ada Gubernur, sesekali menengok dan bersiturahim , maka mereka pasti akan memperlihatkan dampak yang baik. Tapi kalau dengan paksa, jelas mereka malah akan ujuk rasa.
    Jadi dipindah ke Stadion diponegoro…???
    Disamping Stadion saat kecill, Dj. pernah ikut kaka yang tinggal di jalan Trengguli.
    Kaka ipar Dj. pemain bola di PSIS dan ayahnya direktoor di kolam renang ( didepan lapangan sepak bola ).
    Dj. dengar itu pemandian juga sudah tidak ada.
    Ingat tahun 1978, saat pertama kali kami mudik, ngajak Susi berenang disana.
    Dj. heran, tidak ada satu orangpun, taunya sengaja ditutup, agar kami bisa berenang dengan tenang.
    kami malah kecewa, karena mau kasi lihat Susi, bagaimana kolam renang yang biasa di Semarang.

    Maaf…. apa arti dari kata “pujasera” ?
    Terimakasih…!!!
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  2. Awan Tenggara  11 March, 2012 at 20:46

    Pak Dj, sekarang simpang lima sudah tidak seperti ini lagi. para pedagang sudah dipindah ke stadion. Jadi, tiap malam minggu atau minggu pagi, lapangan itu sudah kosong pedagang. konon penyebabnya karena para pedagang yang “ndablegh” tidak mau menjaga kebersihan dan buang sampah sembarangan.

    kendati demikian, simpang lima masih patut dan bahkan lebih recomended untuk dijadikan sebagai tujuan wisata. di pinggir-pinggir jalan sekarang dibangun pujasera yang bersih, tertib dan rapi.

  3. Djoko Paisan  8 March, 2011 at 20:02

    Mas Odi…
    Terimakasih ya…sudah mampir disini…
    Ini dia yang selalu dikangeni….
    Lha bangun tidur di Ibis Hotel, buka jendela, lihat kok simpang lima rame sekali.
    Jelas, bangun, mandi dan sarapan, langsung jalan kaki kesana….
    Kami sangat menikmati suasana yang begitu familier….
    Ingat, dulu ibu Dj. juga buka warng MiDo ( bakmi dan gado-gado ).
    Dari hasil warung bisa menghidupi 10 anak-anaknya,
    Pokok e Semarang tetap kota kesayangan…!!!
    Salam sejahtera dari Mainz….

  4. Odi Shalahuddin  8 March, 2011 at 19:56

    Wah, foto-fotony7a bagus Pak Dj…
    Dulu tahun 90-an akhir sering tidur di lapangan seputaran Simpang Lima di malam minggu.
    Tapi kata teman-teman, suasana masih seperti ini sekarang
    (heran, dulu kok saya merasa gak pernah melihat ada yang banyak jual makanan)
    he.he.h.h.e.he
    sukses selalu, Pak!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.