Yu Siyem (2)

Arrie Boediman La Ede


Catatan Kaki Yu Siyem Di Yunani:

“ Memburu Dan Melempari Telur Busuk Para Illegal Alien (2) “

4 (empat) hari aku berada di Acropolis-Athena. Hari-hariku terasa menggeliat dengan lambatnya sebagaimana ulat bulu yang bergerak di antara pucuk-pucuk daun pohon Oak di samping kamar tempatku nginap.

Berita dari koran lokal Athena masih yang itu-itu saja. Headlinenya tercetak dengan huruf capital; “ Presiden Yunani Menginstruksikan Pemberantasan Korupsi Di Berbagai Lini Tanpa Pandang Bulu ”. Lintasan intuisiku bertanya; “Bisa gak ya Presiden NKRI Bersikap seperti itu ?…..Hufffff”. Pada halaman 5 tersisip berita tentang perselingkuhan pejabat lokal dengan seorang wanita yang telah bersuami.

Iseng-iseng ku buka situs detik.com…..Wow berita tentang Walikota Athena Nikitas Kaklamanis menyampaikan ungkapan rasa simpati dan belasungkawa atas bencana letusan Gunung Merapi, gempa bumi, dan tsunami di Pulau Mentawai. Suatu kebetulankah ini ? Atau sekadar bahasa kalbu pembenaran sehubungan dengan ngelencernya BK-DPR ke Yunani?

Sebagaimana negara-negara Eropa lainnya. Di sini di Yunani kehidupan sosialnya berlangsung dengan bebasnya. Di sebuah taman kota berbagai pasangan kekasih memadu kasih dengan nikmatnya. Dan, tanpa ada sedikitpun rasa malu mereka berciuman dengan mesranya. Saling memagut. Saling meraba. Wuihhh, tiba-tiba saja aku teringat dengan sebuah email dari seorang sahabat; dear Yu Siyem,…..jika ada seseorang yang menginginkan diriku…aku ingin semuanya berjalan dan mengalir sebagaimana seorang penari striptease….ku ingin dia itu menikmati tata cara aku melepaskan segala sesuatunya dari tubuhku dengan mata yang tak berkedip sekejap pun…….”

Acropolis
24, 25, 26 Oktober 2010
Hari-hariku terasa semakin tidak menentu. Ada kegelisahan yang mendera segenap bathinku. Program kerja kelembagaan terasa berjalan lambat. Work Shop tentang heritage yang kugawangi mengalir sebagaimana air sungai di Kali Ciliwung. Bercampur aduk mulai dari yang baik-baik hingga ke yang buruk-buruk. Asumsiku tentang program pelestarian warisan budaya yang ada di Indonesia menjadi mentah saat ku paparkan di depan audience yang berjumlah 20 (duapuluh) orang. Semuanya melintas dengan hingar bingar antara setuju dan tidaksetuju dengan hal yang ku paparkan. Kata mereka; Persoalan pemeliharaan warisan budaya tidak cukup berarti jika dilakukan secara personal tanpa dukungan penuh dari pemerintah, Bung !

Sejak hari pertama hingga hari terakhir dikegiatanku seringkali tercium bau busuk melintas di ruangan tempat pelaksanaan workshop. Dan, bau busuk itu sangat ku kenal. Ya, bau illegal alien.

Kucoba mengintai dari balik kaca…..wah, wah, wahhhh, …..ada 8 illegal alien di iringi 3 kacung liarnya sedang berdialog menggunakan bahasa Tarzan.  Tersesat ? Kebingungan ? Bagaimana mungkin mereka tidak tersesat ? Datang kesini saja hanya berbekalkan kemampuan ala kadarnya. Sesaat kulihat melintas di depanku. Mereka terlihat tersesat. Dugaan saya mereka pasti sedang kebingungan. Pun, kulihat mereka hanya bicara dan berhahahihi dengan sasamanya. Nyaris tak pernah sekalipun kulihat mereka berbicara dengan penduduk setempat. Jika sempat terjadi dialog dengan penduduk setempat aku pastikan mereka akan menggunakan kemampuan intuisi plus kemampuan berbahasa asing ala kadarnya yakni bahasa Tarzan yang dipastikan sangat sulit dimengerti oleh penduduk setempat. Ya ! Mereka tidak lebih dari sekelompok TILT (Tarzanis Illegal Tourist).

Message di cellphone tertanggal 23/10/2010 dari Alexa kembali menggelisahkan diriku. Wow ! Mereka para anggota BK-DPR rupanya. Hm, ya ya ya……; Naluri spy mad-journalist yang pernah kupelajari 25 tahun yang silam tiba-tiba saja menjadi fresh. Aku tertantang.

Segera saja aku hubungi Mukti Ali sahabatku yang secara khusus datang dari Dubai ke Acropolis untuk membantuku memburu para illegal alien tersebut (catatan; mengenai keterlibatan ikhwan Mukti Ali di rencana perburuanku semata-mata karena rasa percayaku dengan kemampuannya. Lagipula face dia tidak mencerminkan bahwa dia orang Indonesia. Lebih kelihatan Arabnya daripada Palembangnya, hm !)

Hari ini kubaca berita di internet; terjadi bencana di sana sini. Earthquake plus Tsunami di Mentawai, Gunung Merapi Meletus. Sekian banyak korban kembali ke Sang Pencipta. Innalillahi Wa Inna Ilayhi Roji’un; mBah Marijan yang bersahaja itu termasuk diantara mereka yang pergi. Mungkinkah mereka mati sia-sia ? Atau?……………Duh ! Selamat Jalan mBah Marijan….I Luv Yu Fulllll !

27 Oktober 2010
Perburuan Di Mulai
;
Hari ini dengan berbekalkan telor busuk aku dan Mukti Ali mencoba mengendus jejak keberadaan para illegal alien yang lagi bermain sandiwara TILT (Tarzanis Illegal Tourist) tersebut. Yes ! I Catchaaaa ! Hwarakadah ! Aku dan Mukti Ali melihat mereka sedang kebingungan. Lagi-lagi mereka terlihat tidak lebih dari sekelompok Tarzanis yang kebingungan di depan Gedung parlemen Yunani. Mereka mau apa ? Mereka tidak bisa bahasa Yunani khoq ! Pakai bahasa Inggris ? Jangan tanya dehhhh ! Bahasa Indonesianya saja belepotan bagaimana mau menggunakan Bahasa Asing?

Dan, dengan kegeraman yang maha Aku dan Mukti Ali langsung saja melempari mereka dengan telor busuk sebanyak 560 butir ke kepala mereka. Ke muka mereka. Ke seluruh tubuh mereka. Tanpa basa basi ! Hm, bisa dibayangkan bau busuk seperti apa yang tersebar di sekitar halaman Gedung Parlemen Yunani tersebut. Sumpah serapah yang berbau busuk pun keluar dari mulut mereka. Mereka melapor kepetugas keamanan. Apa lacur ? Para petugas keamanan tersebut malah ramai-ramai mengacungkan jempolnya kearah kami sambil berteriak dan koor dengan kerasnya. Ya, Mereka Koor ! ; ” δύο μπράβο για τους δυο σας, O φίλος! “ maksudnya mungkin 2 jempol buat kalian sahabatku. Huahahaha

28 Oktober 2010
Hari ini aku dapat kabar dari sahabatku Abang Geutanyo; “Sista Yu Siyem,…..lo tau gak berapa anggaran yang dipake mereka-mereka itu ke Yunani ? 2,2 Milyar ! “.

Komodo ! Gila ! Aku sangat terkejut ! Aku kembali mengkalkulasi pengeluaranku (berdasarkan kontrak kerjaku) selama 12 (dua belas) hari di Acropolis – Yunani yang jumlahnya hanya 7.000 Euro dan setara dengan US$ 9.699,32 setara juga dengan Rp. 86.692.362,75. (biaya ini sudah termasuk dengan tiket pesawat, makan, transportasi lokal, visa schengen, airport tax, honorku sebagai pemateri dan lain-lain). Bandingkan dengan biaya yang di pakai oleh para illegal alien itu. Mereka berjumlah 11 makhluk (8 illegal alien plus 3 kacungnya).

Pastinya dalam kontrak perjalanan (baca Surat Perintah Jalan) mereka tidak boleh lebih dari 7 hari kerja termasuk perjalanan pulang pergi.

Asumsi, jika Rp. 2.200.000.000,- dibagikan 11 Illegal Alien = Rp. 200.000.000/Illegal alien. Aku membathin. Gila ! 200 juta/illegal alien ? Aku coba mengasumsikan kembali pengeluaran per illegal alien tersebut. Seandainya mereka ke Athena-Yunani menggunakan plane KLM Royal Dutch (WBC);

  1. Harga tiket plane pulang pergi (world Bussiness Class) = US$ 2.849,89 x 2 = US$ 5.699,78 (setara dengan 4.113,53 Euro = Rp. 50.944.534.46) dikalikan 11 illegal alien = Rp. 560.389.879, 06 (dibulatkan menjadi Rp. 560.389.880);
  2. Hotel *1 rata-rata = US$ 300/hari x max 7 hari x 11 Illegal Aliean = US$ 2.100/hari (setara dengan US$ 1.515,57 Euro ) = Rp. 18.769.763.46 dibulatkan menjadi Rp. 18.769.764,- x 11 = Rp. 206.467.404,-
  3. Konsumsi / hari rata-rata = 15 Euro/1 kali makan X 3 = 45 Euro (setara dengan US$ 62,35 = Rp. 557.308.05) X 11 Illegal alien X 7 hari = Rp. 42.912.719.85 (dibulatkan menjadi Rp. 42.912.720,-)
  4. Transportasi Lokal / hari 50 Euro (setara dengan Rp. 619.231.16) x 11 x 7 = 3850 Euro (setara dengan Rp. 44.336.951.24 dibulatkan menjadi Rp. 44.336.952 ). Transportasi lokal bersifat lumpsum (penggunaan anggaran ini yang paling abu-abu karena  laporan pertanggungjawabannya sangat tidak jelas)

Total anggaran keseluruhan yang dipergunakan oleh para illegal alien itu adalah point (1) + (2) + (3) + (4) = Rp. 560.389.880 + Rp. 206.474.404 + Rp. 42.912.720 + Rp. 44.336.952 = Rp. 872.883.720 (Delapan Ratus Tujuh Puluh Juta Delapan Ratus Delapan Puluh Tiga Ribu Tujuh Ratus Dua Puluh Rupiah)

Jika anggaran selama jalan-jalannya para illegal alien itu hanya menggunakan biaya Rp. 872.883.720 (Delapan Ratus Tujuh Puluh Juta Delapan Ratus Delapan Puluh Tiga Ribu Tujuh Ratus Dua Puluh Rupiah) Di kemanakan sisanya ?

Asumsi matematikaku kembali berjalan. Dari total anggaran Rp. 2.200.000.000 dikurangi Rp. 872.883.720 = Rp. 1.327.116.280 ( Satu Milyar Tiga Ratus Dua Puluh Tujuh Juta Seratus Enam Belas Ribu Dua Ratus Delapan Puluh Rupiah). Aku kembali bertanya ! Dikemanakan dana sebesar itu ? Dibagi 11 illegal alien ? Artinya Rp. 120.646.934 dibagikan (dengan asumsi) 7 hari = Rp. 10.967.903 / Illegal Alien / harinya ? Sebesar itukah honor para illegal alien itu ? Sangat tidak masuk akal ! Ini sudah keterlaluan ! Busuk sekali baunya penggunaan Uang Rakyat itu oleh para Illegal Alien ! Ada masalah pelanggaran Hukum di sini ! Ini adalah jelas-jelas KORUPSI Bahhhh !

Sebagai perbandingan. Aku si Yu Siyem adalah tenaga profesional. Aku diberikan honor karena kemampuanku sebagai profesional murni. Honorku dibayarkan oleh Fund Raising cuma 225,12 Euro = Rp. 2.788.026.39/harinya. Bandingkan dengan honor lokal bagi Eksekutif/Legislatif/Yudikatif yang ada di Departemen Keuangan. Honor para Illegal Alien itu SANGAT FANTASTIS dan BERBAU BUSUK !

Athena, Rabu 28 Oktober 2010

Pulang ke Indonesia
Di Bandara Eletherios Venizelos pukul 16.45 waktu Athena plane KLM yang kutumpangi take-off dengan mulusnya menuju Schiphol-Amsterdam landing pukul 19.25 waktu Amsterdam. Di Schiphol aku sempat bertemu dengan sahabat  Della Anna yang sudah kuhubungi by phone sebelumnya. Saat Della Anna menanyakan keberadaan Mukti Ali aku sampaikan bahwa beliau masih menggalang kekuatan baru di Athena untuk melempari para Illegal Alien dengan telur busuk sebanyak 560 butir tiap harinya. Selama 1 jam aku bercengkerama dengan Della di Schiphol sebab pukul 20.50 waktu Schiphol plane yang kutumpangi akan take-off. ” Hm, Ja Dank Della….dank je wel ja della. Ik ben blij je te zien, zelfs al is het maar voor een moment…..hffff ! “

Kamis, 29 Oktober 2010

Di Cengkareng – Jakarta
Hm, perjalanan ini sungguh melelahkan. Plane KLM  transit di Kualalumpur-Malaysia (KLIA) selama 1,5 jam. Tepat pukul 18.55 WIB KLM Royal Ducth landing dengan mulusnya di bandara Soeta. Yes, Jakarta ! Am comin’ ! Lagi-lagi dengan sangat tiba-tiba tercium aroma yang demikian busuknya. Dari sinikah sumber bau busuk itu ? Penciumanku pun semakin ku pertajam. Dan saat airport taxi yang kutumpangi melewati Gedung DPR/MPR bau busuk itu bergelora dengan dahsyatnya. Kulihat dari gedung yang MIRING itu orang-orang berlarian keluar sambil berteriak dan mencaci-maki dengan keras bahasa Ibunya:….
Dancuk !
Bajindul !
Kampret !
Belekecret ! Woiiii Illegal Alien ! HARAP LO SEGERA MUNDUR AJA SEBELUM GUA MUNDURIN LO ! Mau muntah Gue lihat muke lo ! Tak henti-hentinya mereka berteriak sambil menunjuk ke arah gedung itu. Celakanya para illegal alien itu semakin TAK PUNYA RASA MALU. Mereka pun dengan jumawanya semakin sering pamer muka jeleknya di berbagai media. Dasar MUKA TEMBOK !

Jum’at, 30 Oktober 2010
Pagi ini Di Koran RAKYAT MERDEKA aku baca sebuah judul yang beraroma Bau BUSUK lagi; Anggota Dewan Terbang Lagi Ke China Dan India. Bagaimana dengan yang ke ITALIA ?
Hm, segera ku hubungi Heny sahabatku di Italy agar dia segera menggalang kekuatan di sana untuk melempari para illegal alien itu dengan telur busuk sebanyak 560 butir setiap harinya….” Ciao Heny ,….. 560 immediatamente preparare uova marce. Se si è incontrato con i clandestini a Roma semplicemente buttare in faccia di uova marce loro putrido ! Grazie, Yu Siyem “

salam
dari Yu Siyem di Sentul – Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.