Aku Gadis Batak Yang Lupa Akar Budayanya (Part 1)

Nuchan


Kalau ada yang membaca nama saya, pasti mereka tak pernah menduga kalau saya adalah gadis berdarah Batak. Saya pun heran kenapa ayah-ibu saya tak mendaftarkan saya sekolah dengan mencantumkan marga ayah saya sebagai penanda kalau saya adalah gadis berdarah Batak. Dulu pernah terpikir mau bertanya ke ayah saya “kenapa saya tak pakai marga ?”, tapi entah kenapa saya lupa dan tak sempat bertanya langsung. Lagi pula bagi saya marga itu tak begitu penting. Jadilah sekarang semua ijazah saya mencantumkan nama saja tanpa marga ayah saya. ( Kasihan gadis Batak kehilangan identitas hehehe )

Teman-teman saya yang semula tak menduga saya gadis Batak dan di kemudian hari mereka tahu saya gadis Batak, akan selalu mengeluarkan rasa kaget yang sama dan mencecar saya dengan segudang pertanyaan. Capek dech! Koq nama kamu nga pakai marga sich? Kamu marga apa? Kampungnya di mana? Kamu bisa bahasa Batak tidak? Masih panjang lagi pertanyaannya. Kalau saya jabarkan di sini bisa jadi 2Km panjangnya hahaha…maaf ini sich lebay:-)

Yang lebih menyedihkan lagi, saya jarang bergaul atau berteman dengan orang Batak. Bahkan saya tak begitu lancar berbahasa Batak. Sejak saya kecil, kami sekeluarga tinggal di Sumatra Timur, yang masyarakatnya mayoritas Melayu dan beragama Moslem. Bayangkan dari ribuan KK yang ada di sana, hanya ada 2 KK yang beragama Nasrani. Bahasa sehari-hari pun yang dipakai adalah bahasa Melayu Deli. Walaupun di rumah kami, ayah-ibu saya menggunakan bahasa Batak tapi semua anak-anaknya selalu menjawab dalam bahasa Melayu Deli. Itu sebabnya saya mengerti sedikit bahasa Batak tapi kurang bisa berkomunikasi dengan bahasa Batak yang baik dan benar.

Bahkan saya pun tak begitu peduli dengan segala macam adat-istiadat Batak yang rumit dan unik ini. Padahal ayah-ibu saya sangat gigih dan setia menjalankan seluruh adat-istiadat Batak ini, tapi saya sebagai salah satu keturunannya kurang begitu peduli. Saya pusing melihat silsilah keluarga yang begitu panjang. Lagian apa untungnya sich mengikuti segala macam aturan dan adat-istiadat ini. Mau menikahkan anak perempuan saja repotnya bukan main. Alamak para sesepuh itu bisa semalamam berdiskusi masalah “hepeng sinamot alias uang mahar”. Bisa pulak gara-gara uang mahar yang terlalu murah atau terlalu mahal, batal menikah. Bukan karena kedua mempelai tak setuju dengan harga uang mahar tersebut. Tapi para sesepuhnya yang tak mau terima dengan harga uang mahar tersebut. Ayak-ayak wae!

Saya pernah sampai bilang begini sama ayah saya : “ Sampai mati pun, saya tak mau menikah sama orang Batak”. Masak gara-gara uang mahar yang tak sesuai dengan kesepakatan para tetua adat, bisa batal menikah. Ngapain menikah pakai adat Batak segala, kalau hanya bikin susah dan repot saja. Buang saja adat Batak itu ke laut sana, kata saya dengan amarah yang meledak-ledak. Saat itu ayah-ibu saya hanya diam membisu. Mungkin mereka pun mulai sadar bahwa ada beberapa hal yang memberatkan dalam adat Batak ini.

Akibat rumitnya adat Batak ini membuat saya mulai alergi dan semakin tak peduli dengan adat Batak ini. Saking sebelnya sama hal-hal yang berbau Batak, seringkali saya menghindari bergaul dengan teman-teman dari suku Batak. Jadilah saya gadis berdarah Batak yang buta sama sekali tentang adat-istiadat Batak. Saya hanya hapal marga ayah-ibu saya. Tapi kalau sudah mulai ditanya soal “martarombo” atau ditanya lebih lanjut tentang silsilah keluarga saya, maka saya hanya bisa jawab : “Maaf maaf! Saya kurang tahu. Nanti saya tanya dulu kakak tertua saya”.

Karena seringnya saya tak tahu apa-apa tentang adat Batak ini, sampai pernah ada yang bilang begini ke saya : Gila, kamu belagu banget sich! Masak nga bisa bahasa Batak? Beneran nga bisa atau pura-pura nga bisa? Kenapa? Malu yah jadi orang Batak. Sombong banget sich lho! Masak kamu nga tahu silsilah keluargamu? yang bener aja dong…Belagu lho!

Waktu dibombardir dengan kata-kata seperti itu, amarah saya hampir meledak dan rasanya pengen membogem orang itu sampai modar. Apa urusannya dia marah-marah sama saya karena tak tahu adat Batak. Siapa dia? Bukan saudara, bukan sahabat dekat, hanya kenalan biasa. Saya marah sekali, sejuta kata-kata makian sudah menari-nari di otak saya dan mulut saya siap memuntahkan makian. Tapi entah kekuatan apa yang menahan mulut saya untuk tidak berbicara. Saya terdiam, diam membeku.

Saya ingin berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari mulut saya. Alih-alih memaki, saya malah masuk ke kamar saya, mengambil photo ibu saya, memandangi matanya yang teduh dan penuh kasih. Akhirnya karena dada saya sesak menahan marah, malah saya nangis bombay. Dan sorot mata ibu saya pun seolah-olah turut mengaminkan tuduhan orang itu. Saya merasa ibu saya sedang bicara melalui sorot matanya ke saya. “Bener anakku, kamu sudah lupa dengan akar budayamu”. “Kamu sudah lupa dari mana asal usulmu”. Apa yang dituduhkan temanmu itu : “Benar. Benar sekali. Coba renungkan baik-baik”. Tapi otakku mulai menjawab : “Iyah, benar sich benar. Tapi dia tak perlu ngomong gitu dong”. Saya mulai berbantah-bantah dengan nurani saya

Setelah kejadian konyol itu, saya mencoba menenangkan diri saya sampai berhari-hari. Saya coba introspeksi diri, suka atau tak suka, pada akhirnya saya mengakui bahwa apa yang dikatakan teman saya itu ada benarnya juga ya : “Saya memang TERLALU”. Masak orang Batak, nga tahu silsilah keluarga sendiri. Dan saya pun tak perlu beradu argumen tentang tudingannya itu. Yah, saya akui sekarang bahwa saya memang belagu banget. Titik.

Kejadian itu telah menjadi “turning point” buat saya. Saya mulai berubah sedikit demi sedikit. Saya mulai rajin menelpon kakak tertua saya tentang urusan silsilah keluarga saya. Saya mulai gila mencari informasi dari semua media tentang segala tetek-bengek adat-istiadat Batak yang rumit ini. Dan mencari tahu segala pernak-pernik budaya Batak. Dalam waktu singkat saya sudah banyak tahu tentang adat-istiadat dan budaya Batak ini. Ternyata semakin saya belajar, semakin saya menyadari betapa hebatnya nenek moyang orang Batak dan betapa kayanya khasanah budaya Batak.

Satu hal yang membuat saya sangat kagum adalah betapa cerdasnya nenek moyang orang Batak dalam hal mengidentifikasi seluruh garis keturunannya. Bisa dibayangkan betapa efisiennya sistem pencantuman marga ini pada setiap orang Batak, sehingga di kemudian hari siapa pun mampu menelusuri setiap garis keturunan ini, walaupun sudah sampai 7 turunan. Luar biasa. Dan sistem pencantuman marga ini pun akan cukup efektif untuk mencegah perkawinan sedarah (Secara menurut adat Batak, orang Batak yang satu marga itu adalah adik-beradik dan dilarang kawin-mawin karena masih sedarah )

Sejarah atau asal-usul marga orang Batak

Anda pasti tahu, orang Batak yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia terkenal dengan marganya (simbol keluarga). Saking banyaknya marga Batak, kita yang bukan orang Batak sulit menghapalnya.  Marga di dapat dari dari garis keturunan ayah, yang diturunkan kepada penerusnya.

Menurut kepercayaan, induk marga Batak di mulai dari Si Raja Batak yang punya dua anak yakni Guru Tatea Bulan dan Si Raja Isumbaon. Guru Tatea mempunyai istri bernama Si Boru Baso Burning dan memiliki 5 putra dan 4 putri.

  • Putra :
  1. Si Raja Biak-Biak.
  2. Tuan SaribuRaja.
  3. Limbong Mulana.
  4. Sagala Raja.
  5. Malau Raja.
  • Putri :
  1. Si Boru Pareme, kawin dengan Tuan SaribuRaja.
  2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan SorimangaRaja, putra Raja Isumbaon.
  3. Si Boru Biding Laut, juga kawin dengan Tuan SorimangaRaja.
  4. Si Boru Nan Tinjo, tidak kawin.

Sementara itu Si Raja Isumbaon mempunyai 3 (tiga) orang putra yaitu, Tuan SorimangaRaja, Si Raja Asiasi, dan Sangkar Somalindang.

  1. SaribuRaja dan Marga-marga Keturunannya

SaribuRaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marpohas (anak kembar berlainan jenis).

Mula-mula SaribuRaja kawin dengan Nai Margiring Laut, dan melahirkan seorang putra yang bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Si Boru Pareme menggoda abangnya SaribuRaja, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest. Karena saudara-saudara yang lainnya tidak suka, maka

SaribuRaja pergi mengembara ke hutan dengan meninggalkan Si Boru Pareme dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme akan melahirkan, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara. Di sana dia bertemu dengan SaribuRaja yang sudah mempunyai “istri” seekor harimau betina.

Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang bernama Si Raja Lontung. Dari istrinya sang harimau, SaribuRaja memperoleh putra yang bernama Si Raja Babiat. di kemudian hari Si Raja Babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga BayoAngin.

A. Si Raja Lontung

Putra pertama dari Tuan SaribuRaja ini mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu :

  • Putra :
  1. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
  2. Sinaga Raja, keturunannya bermarga Sinaga.
  3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
  4. Toga Nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
  5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
  6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
  7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.
  • Putri :
  1. Si Boru AnakPandan, kawin dengan Toga Sihombing.
  2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.

Dari keturunan SITUMORANG, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, SuhutNihuta, SiringoRingo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.

Dari keturunan SINAGA, lahir marga-marga cabang Simankorang, Simandalahi, Barutu.

Dari keturunan PANDIANGAN, lahir marga-marga cabang Samosir, Gultom, PakPahan, Sidari, Sitinjak, Harianja.

Dari keturunan NAINGGOLAN, lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Batubara, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.

Dari keturunan SIMATUPANG lahir marga-marga cabang Togatorop (SiTogatorop), Sianturi, Siburian.

Dari keturunan ARITONANG, lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, RajaGukguk. Simaremare.

Dari keturunan SIREGAR, lahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.

Ini hanya sekilas saja dari sejarah marga orang Batak dan dikutip dari berbagai sumber…Semoga bermanfaat…

About Nuchan

Apa yah isinya hehehe

Arsip Artikel

9 Comments to "Aku Gadis Batak Yang Lupa Akar Budayanya (Part 1)"

  1. Dwita Simatupang  3 August, 2017 at 23:05

    Wow, sama. Saya juga kurang ngerti. Tapi penasaran juga. Apalagi dengan silsilahnya. Jadi semakin tertarik.

  2. kezia siregar  25 March, 2014 at 00:27

    Wah, aku terharu sama kemauan anda untuk mempelajari tatanan adat batak.

    Tapi untuk marga Situmorang, saya kurang setuju kalo jadinya seperti itu.
    Soalnya menurut yg aku baca diatas, jadi ada 8.
    Harusnya 7. Makanya jadi sipitu sada ama.

  3. rumondang simanjuntak  29 January, 2014 at 12:15

    saya pribadi cukup istimewa buat diri kita kalau bisa paham dgn suku batak ,untuk itu jgn bosan dan jangan mau kalah mari kita belajar danmemahami suku batak .pasti anda bangga dgn jadi orang batak.mauliate

  4. Mohare  23 April, 2013 at 14:39

    Akan terasa lebih berat kalau anda pria karena anda membawa marga, klw boleh saran teruslah pelajari karena itu legacy yang tidak bisa dipungkiri. trims 4 share

  5. irdayani  27 September, 2012 at 20:43

    trus marga lubis tu datang na dr mna?

  6. anton  10 July, 2012 at 12:55

    ehh klo lulu Tobing tuh masuk raja mana ya
    kan ada batak yang tobing tobing itu

  7. anuar  6 July, 2011 at 14:03

    Menarik perhatian

  8. Maradu  1 April, 2011 at 10:31

    Bagus ito… memang harus seperti itu lah kita. Jangan pernah lupa dari mana kita berasal dan jati diri kita sendiri. Karena itulah karunia Tuhan yang sudah diberikan kepada kita…
    “Basa do Tuhan i kan…”

    Horas… Horas.. Horas..

  9. Sujono  12 March, 2011 at 10:53

    Hebat.. Ak org jawa tapi pengen bgt bljr adat dan bahasa batak… Gmn ni solusinya???

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.