Buruk Kinerja, Kumon Meradang

Josh Chen – Global Citizen


Hari Senin minggu lalu, 25 Oktober 2010, seluruh jalanan di Jakarta menjadi neraka bagi semua pengguna jalan. Baik motor, mobil, bus umum, angkot, dan seluruh moda transportasi. Kenapa?

Banjir dan macet! Aaaahhh…lagu lama lah itu…demikian kata orang yang mendengarnya. Lagu lama? Lha iya, lagu lamaaaa sekali…kalau Jakarta tidak macet dan tidak banjir barulah itu lagu baru…

Hujan lebat nonstop hampir 3 jam lamanya, seketika merendam hampir seluruh ruas jalanan di Jakarta. Para pengguna jalan sampai di rumah jam 2 dini hari. HAAAHH?? Benar sekali, jam 2 dini hari, bahkan ada yang jam 3!

Banjir, salahkan penduduk yang mengambil air tanah dengan seenak udel sendiri, itulah jawaban Kumon, sang gubernur DKI Jakarta. Macet, salahkan yang beli mobil terus-terusan, salahkan produsen mobil yang mengeluarkan mobil baru terus, salahkan pengambil kebijakan sebelumnya yang membolehkan penjualan mobil di DKI Jakarta.

Lho? Kok enak benar? Lha iya, itulah si Kumon bilangnya begitu itu. Eh, sebentar, bagi yang baru dengan nama Kumon ini, beliau ini adalah Sang Ahli (entah ahli apa) untuk mengatasi permasalahan Jakarta. Beliau ini adalah lulusan luar negeri di bidang yang seharusnya mampu mengatasi permasalahan Jakarta. Kumon adalah gubernur DKI Jakarta, KUmis MONtok, itulah beliau.

Setelah kemacetan amat-sangat-parah-sekali hari Senin itu, komentar, kritik, protes dari warga Jakarta berhamburan, dan jawab si Kumon ya itu tadi, salah sendiri lah pokoknya…

Kita lihat satu per satu masalahnya di sini:

Jumlah Kendaraan

Paling enak memang menuding dan menyalahkan orang lain (termasuk saya juga sih…haha). Kumon bilang, jumlah mobil di Jakarta terlalu banyak, penjualan mobil dan motor yang terus meningkat dari tahun ke tahun adalah penyebab utama kemacetan Jakarta yang makin parah.

Salah besar!

Jumlah kendaraan di Jakarta terutama didominasi dengan jumlah motor. Penjualan motor di tahun 2010 ini diperkirakan mencapai 7 juta unit, melampaui target awal yang hanya 6 juta unit. Dengan nilai transaksi mencapai Rp. 65.27 TRILIUN. Penjualan yang melampaui target ini dikarenakan karena ekonomi Indonesia yang terus bergerak positif pertumbuhannya (walaupun masih saja dicaci maki ekonomi memburuk) mencapai 5.7% dan diperkirakan sampai akhir tahun 2010, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai sedikitnya 6% bahkan ada yang berani memrediksi 6.4%.

Penjualan motor sampai dengan September 2010 saja sudah 33% di atas penjualan 2009 di periode yang sama, dan terus meningkat.

Motor inilah yang sekarang menutupi hampir seluruh ruas jalanan di Jakarta. Dan dari hari ke hari terus meningkat, karena motor adalah angkutan termurah, tergampang, terpraktis dan sementara ternyaman dibandingkan moda transportasi umum manapun saat ini. Soal hitung-hitungan rupiahnya antara mengendarai motor dan naik kendaraan umum, tidaklah perlu dibahas di sini, tapi demikianlah hitungan dan pendapat sebagian besar pengguna motor.

Termasuk untuk sarana mudik Lebaran setiap tahun, motor makin menjadi favorit, karena murahnya, dibandingkan naik kereta api yang kelas termurah sekalipun, atau bus yang paling murah, motor tetap lebih nyaman dan ekonomis. Tidak perlu uyel-uyelan, tidak perlu tidur mlungker di dalam WC kereta api, tidak perlu bersitegang dengan makelar tiket, dsb…

Bagaimana dengan mobil? Penjualan mobil di Indonesia menurut GAIKINDO hanyalah 556.196 unit. Masih jauh sekali dibandingkan dengan Jepang yang 7 juta unit, China 9 juta unit, India 2 juta unit, Jerman 3 juta unit dan Amerika yang masih memegang ranking tertinggi mencapai 12 juta unit.

Pertanyaannya adalah: mengapa di Jepang, China, Jerman dan Amerika bisa dikatakan tidak macet, atau bisa dibilang “jalanan sepi” jika dibandingkan dengan Jakarta?

Sekilas Indonesia:

  • Urutan ke 81 untuk tingkat kepadatan kendaraan per square km, yaitu hanya 3.26 kendaraan per km2.
  • Urutan ke 18 untuk panjang ruas jalan yang ada dan layak sepanjang 368.360 km.

Indonesia masih tidak masuk dalam hitungan untuk jumlah kendaraan per 1000 penduduk. Untuk urutan pertama Italy dengan 539 kendaraan per 1000 penduduk, 508 kendaraan per 1000 penduduk dan urutan ketiga Austria 495 kendaraan per 1000 penduduk.

Indonesia hanyalah masuk dalam jumlah sekitar 20-83.3 kendaraan per 1000 penduduk.

Untuk jumlah ruas jalan, kemungkinan besar sekarang China menduduki runner up menggeser India atau bahkan imbang dengan Amerika. Pembangunan ruas jalan di China sungguh luar biasa pesat dan cepat. Foto-foto dari Flickr dan Google Images adalah contoh yang menunjukkan ciamiknya jalanan di Jepang:

Lihat saja urutan 3 besar negara dengan jumlah kendaraan terbanyak untuk per 1000 penduduk, rasanya tidaklah seperti Jakarta yang macet-cet parah sekali. Malah di Jerman terkesan jalan-jalannya lengang dan sedikit kendaraan yang melintas.

Dari semua sudut pandang, sebenarnya, Indonesia masih jauh sekali harus dan kudu mengalami kemacetan luar biasa parah seperti sekarang ini.


Sekilas Jalanan di Indonesia

Di kota-kota besar, bahkan di ibukota Jakarta ini terlihat jelas jalan-jalan utama yang kurang mulus, terutama setelah musim hujan tiba. Di jalan tol yang seharusnya menawarkan kenyamanan, tapi justru bergelombang dan berlubang yang cukup membahayakan keselamatan pengendara, karena terutama berkecepatan tinggi.

(Kompas images)

Apalagi jalanan di luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, 2 pulau besar utama yang seharusnya memiliki jalanan kelas dunia, tapi yang ada justru hancur lebur amburadul. Di Sumatera, lintas timur, lintas barat dan tengah, tidak ada yang mulus, kalau tidak rusak, berkubang, bolong-bolong, kena tanah longsor, dan longsor karena terletak di perbukitan terjal atau bahkan pegunungan curam. Memang harus diakui bahwa kondisi geografis Indonesia menjadikan issue infrastruktur ini adalah satu kemewahan tersendiri.

(Kompas images)

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kondisi jalan di Kalimantan sangat parah, lebih mirip medan off-road daripada disebut “jalan”. Kendaraan 4-wheel drive atau lebih akrab disebut double-gardan mutlak diperlukan di sana. Bisa dibayangkan betapa tingginya penghidupan masyarakat di sana, walaupun memang sungai masih menjadi urat nadi utama di sebagian besar wilayah Kalimantan. Mobil 4-wheel drive yang jelas harganya jauh lebih tinggi dibanding mobil biasa, dengan biaya perawatan yang juga lebih tinggi karena beratnya medan, jarak tempuh yang seharusnya singkat bisa berlipat 3-4 kali lebih lama juga menimbulkan pemborosan yang tidak perlu.

Di harian Suara Pembaruan, edisi Jumat, 23 Mei 2008, di halaman depan terpampang jelas judul besar-besar: “Mark Up” Proyek Jalan Mencapai 40 Persen. Setelah saya baca, isinya cukup nggegirisi (mengerikan), mark up proyek pengerjaan jalan biasa mencapai 40% dari nilai sebenarnya. Beberapa kontraktor mengungkapkan bahwa mark up harus dilakukan karena para kontraktor harus menyetor sejumlah fee kepada pemberi proyek. Lebih jauh, di NTT sudah umum jika fee itu mencapai 15%. Pengawasan lemah dan transparansi merupakan masalah utama, walaupun sekarang ini banyak sekali proyek yang diumumkan di harian terkemuka, tapi namanya proyek pemerintah, semua orang sudah tahu bagaimana isinya.

Apa penyebab hancurnya banyak jalanan di Indonesia?

Pemakai jalan yang tidak mau sadar untuk menepati peruntukan jalan sesuai dengan kelas dan kualifikasinya. Kelihatan jelas sekali di triple decker simpang Tomang, jalan layang yang bergelombang dan keriting kecil-kecil sehingga tidak nyaman waktu melewatinya. Bukan saja tidak nyaman tapi keselamatan yang meragukan. Muatan yang overload jauh melebihi kapasitas angkut kendaraan menjadi pemandangan sehari-hari di jalan-jalan seluruh Indonesia.

Ekspedisi, angkutan, sopir semuanya menjawab senada, penambahan beban sekitar 15-50% menjadi pembenaran akan potensi kerugian yang akan dialami para pelaku usaha angkutan tadi. Dengan penambahan beban 15-50% dari yang seharusnya baru dibilang untung tipis. Jembatan timbang? Lupakan saja!

Jembatan timbang hanya merupakan instrumen resmi untuk melakukan kutipan di jalanan. Lembaga terkait, lembaga berwenang, termasuk para aparat di jalanan menjadikan situasi ini semua menjadi sumber pemasukan baru buat mereka. Kutipan yang tidak terbayangkan jumlahnya menjadi suatu kewajiban bagi truk-truk angkutan yang melintas. Jadi para pelaku usaha angkutan mengatakan dengan overload tadi akan ada titik impas kutipan yang dialami selama perjalanan…begitu seterusnya lingkaran setan yang terjadi tiap hari di seluruh ruas jalan di Indonesia. Jadi mana duluan? Kutipan dulu atau overload dulu? Karena overload terus diperas, atau karena diperas terus sekalian overload?


Masalah Banjir

Sudah memang dari sononya manusia suka buang sampah sembarangan. Tidak memandang ras dan etnis, semuanya sama saja. Ambil contoh saja, sebelum sanitasi toilet ditemukan, penduduk London kalau buang air besar di sembarang tempat, di pojok-pojok jalan. Yang bertempat tinggal di apartemen-apartemen bertingkat, mereka buang air besar di baskom dan setelah selesai lempar saja keluar jendela.

Ketika itu penyakit yang diakibatkan dari tidak adanya sanitasi yang baik merajalela, kolera, desentri, tifus dan sebut saja penyakit apa saja karena kotornya lingkungan.

Contoh yang lain adalah Singapore, di tahun 40-60’an, secuil pulau yang bernama Tumasek itu gersang, kotor, panas dan bau. Sampah dibuang ke mana saja sembarangan, jalanan, selokan, dan terutama sungai-sungai di sana. Air sungai menghitam, baunya luar biasa sudah menjadi keseharian mereka ketika itu. Penyakit karena kotornya lingkungan, banjir, sudah jangan ditanya lagi.

Tapi apa yang terjadi sekarang? Baik London ataupun Singapore sekarang menjadi salah satu kota terbersih di dunia. Sungai-sungai di London dan Singapore sekarang sungguh amat layak dijadikan objek pariwisata berpesiar menyusurinya. River cruise menjadi salah satu jualan andalan untuk turis di London dan Singapore. Tidak ada bau, airnya bersih, lancar dan yang pasti tidak ada banjir (kecuali di awal tahun Orchard banjir bandang).

Pemakaian air tanah di kedua tempat tsb juga terkontrol dengan sangat baik. Rasanya regulasi ketat dan hukum yang dijalankan dengan sungguh-sungguh, menjadi faktor utama untuk mencapai itu semua. Penyediaan air bersih yang mumpuni adalah mutlak. Malahan di Singapore, air keran sudah layak minum. Airnya dari mana? Kalau tidak water treatment, mereka import dari Malaysia. Yang pasti Singapore cukup melindungi air tanah mereka.

Masalah sampah ini sungguh luar biasa untuk ibukota negeri ini. Lihat saja di sungai manapun yang membelah Jakarta, tidak ada satupun yang bersih dari sampah, tidak ada satupun yang tidak bau dan tidak hitam. Bukan saja di Jakarta, tapi di seluruh kota di Indonesia yang ada dilintasi sungai, pasti kotor! Bahkan di beberapa tempat, tumpukan sampah di permukaan sungai cukup membuat penduduk di bantaran sungai ‘berjalan di atas air’, bukan Nabi Isa saja yang bisa berjalan di atas air.

Lha bagaimana tidak boleh banjir?

Beberapa waktu lalu seruas jalan di dekat Priok anjlok dan ambles sedalam sekian meter sepanjang sekian ratus meter. Seketika Departemen Pekerjaan Umum dan Perhubungan heboh memeriksa seluruh ruas jalan di Jakarta, heboh bahwa permukaan tanah Jakarta turun sekian cm setiap tahunnya. Penyebabnya dituding adalah pemakaian air tanah (deep well) yang tidak terkendali. Yang salah rakyat lagi yang menyedot air tanah tak terkendali.

Lho?

Penyedotan air tanah, terutama oleh perkantoran dan perumahan terutama disebabkan karena KORUPSI (lagi-lagi!). Kok bisa? Ya bisa saja! Pemerintah tidak sanggup menyediakan air bersih yang layak, baik layak kualitasnya secara umum atau reliable supply’nya. Kalau air mengalir, alirannya incrit-incrit tak jelas. Kalau mengalir lumayan, kualitasnya macam kencing kuda, bau, butek, keruh, dsb. Sangat jarang kualitas air PDAM di Jakarta bisa diandalkan.

Bahkan sudah diswastanisasi juga masih sami mawon. Tak jelas. Alasannya berbagai macam, ada pipa yang bocor, ada illegal installation (HAH?). Di pemberitaan beberapa waktu lalu ada berita bahwa salah satu perusahaan swasta membongkar instalasi ilegal tsb yang dengan rapi sudah terdistribusi di rumah-rumah penduduk di daerah itu. Persis seperti instalasi legal dari perusahaan yang berwenang. Kok bisa? Sekali lagi pertanyaan itu muncul.

Tak lain tak bukan, jelas kongkalikong antara seluruh instansi terkait, baik dari pemerintahnya, pihak swastanya, dan juga para konsumennya. Demikian juga daripada rumit mengurus jalur instalasi air (yang belum tentu) bersih, mendingan mereka berkongkalikong dengan dinas terkait untuk mendapatkan ijin mengebor deep well. Hasilnya lebih memuaskan dan paling tidak terbebas dari ketidakstabilan supply air bersih. Bahkan termasuk di banyak kompleks perumahan yang menjalankan cara yang sama.

Dengan itu semua, bagaimana tidak turun permukaan tanah Jakarta dan sekitarnya? Berapa banyak dan berapa persen gedung perkantoran di CBD Jakarta yang menggunakan air tanah deep well dibandingkan supply PDAM (plus kroni swastanya), belum lagi gedung-gedung apartemen di seluruh Jakarta dan sekitarnya.

Dari semua uraian di atas, sudah harus dimengerti, dipahami dan dimengerti bahwa kalau Jakarta tidak macet dan tidak banjir justru malah aneh. Jakarta macet parah seperti Senin, 25 Oktober 2010 dan banjir seperti 2002, 2007 dan kapan saja ya memang itulah konsekuensi logis dari penataan dan pengelolaan oleh AHLINYA, yaitu si Kumon. Perlu diingat bahwa itulah thema kampanyenya: “serahkan Jakarta pada AHLINYA”.

Mis-management yang parah tapi yang dituding malah kebijakan para pendahulunya, yang disalahkan adalah penduduknya, dan kritikan dari berbagai pihak disambut si Kumon dengan marah-marah dan meradang hebat…

Saat ini sedang dibuka lowongan CPNS untuk DKI Jakarta, silakan lihat di http://www.rekrutmen.jakarta.go.id/ dan sungguh mengejutkan. Total lowongan ada 1810!! Betul, Anda tidak salah lihat, seribu delapan ratus sepuluh manusia yang (katanya) dibutuhkan untuk pemerintah DKI Jakarta. HAH? Sebanyak itu? Waduh, yang benar saja.

Sungguh duit yang menggiurkan hanya dari perekrutan semacam ini. Bisa dibayangkan berapa nilai ‘proyek’ ini? Para pelamar sudah pasti mencapai puluhan ribu. Testing yang memakan waktu, tempat, biaya, jelas akan terjadi. Kertas soal berapa persen yang bisa ‘diproyekkan’, belum lagi pertanyaan-pertanyaan konyol macam judul lagu presiden (http://baltyra.com/2010/10/20/mentari-bersinar-di-soal-tes-cpns/) yang bikin mual. Berapa tahapan yang musti dilalui oleh para pelamar itu? Jelas ‘proyek’ semua!

Pertanyaan sesungguhnya adalah: apa memang perlu 1810 manusia (yang kompetensinya belum tentu jelas) untuk me’manage Jakarta? Yang benar saja…tapi entahlah, lha wong saya juga belum pernah belajar seluk beluk nayakapraja (kepegawaian pemerintah) dan ilmu pemerintahan…

Buruk muka cermin dibelah, buruk kinerja Kumon pun marah…


Referensi:

http://www.scotiacapital.com/English/bns_econ/bns_auto.pdf

http://www.nationmaster.com/graph/tra_car-transportation-cars

http://www.nationmaster.com/graph/tra_veh_abu-transportation-vehicle-abundance

http://www.nationmaster.com/graph/tra_roa_tot_net_km-transportation-roads-total-network-km

http://www.irfnet.org/files-upload/stats/2009/wrs2009_web.pdf

http://www.gaikindo.or.id/download/statistic/01-current/01-by-category/data-2010/bycat_market_exim_jansep10.pdf


About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.