Merapi akan terus berapi…

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


YANG tampak dari letusan gunung Merapi, ketika abu dan hawa panasnya menjilat desa dan tubuh penduduk sekitar adalah cerita tentang kebingungan. Mengapa bingung? Sebagian orang terutama ilmuwan vulkanologi menganggap Merapi sebagai sebuah gunung berapi sangat aktif di dunia. Sebagian lagi menyalahkan penduduk setempat atas “dosa dan kesalahan” yang harus ditebus akibat perbuatan mereka. Dan Merapi pun marah menghukum mereka.

Sulit sekali menghilangkan kepercayaan masyarakat yang masih berpikir sangat tradisional bahwa bencana Merapi adalah hukuman Tuhan bagi manusia, khususnya bagi penduduk lokal. Apa dosa mereka yang tinggal di lereng Merapi? Sehingga selalu secara reguler menerima azab dari Tuhan? Apakah mereka manusia paling berdosa se jagat raya, sehingga selalu menjadi katalog dosa, setiap ada bencana letusan Merapi?

Padahal mereka yang tinggal di dusun pelosok lereng Merapi tak pernah korupsi milyaran, menyunat dana atau uang rakyat, berbohong kepada masyarakat, merusak lingkungan hutan, membunuhi orang demi perang melawan teroris, melakukan maksiat pesta seks bebas, jalan-jalan studi banding tak berguna ke luar negeri, menyulap hutan menjadi lapangan golf, menumpahkan lumpur ke pemukiman atau melanggar janji sehingga membuat banyak orang sakit hati, seperti yang pernah dikeluhkan budayawan Emha Ainun Najib.

Saya tak tahu bagaimana ada orang bisa berpikir bahwa bencana Merapi adalah sebuah hukuman untuk manusia. Mengapa harus penduduk sekitar Merapi yang terus menerima hukuman itu? Sungguh tidak adil!

Namun pendapat itu bisa benar, bila abu dan lava panas Merapi mengalir dan menjilat gedung parlemen di Senayan atau kantor-kantor birokrasi yang menyusahkan masyarakat dalam mengurus keperluan administrasinya atau ke rumah-rumah mewah para koruptor. Bukan ke rumah-rumah penduduk jelata di lereng Merapi yang tak tahu apa-apa?

Merapi secara tradisi meletus sejak 2000 tahun silam yang bisa diingat orang. Secara berkala gunung berapi yang sangat aktif itu selalu muntah-muntah menyemburkan sebagian isi perut bumi ke kita semua. Sebenarnya, Merapi “tidak terlalu aktif” bila dibanding gunung-gunung berapi yang lebih rajin meletus. Misalnya gunung Kliuchevskoi dan Karimsky di Kamchatka (Rusia), Piton de la Fournaise di Reunion (Samudra Hindia), Chaiten dan Villarrica di Chili, Fuego dan Santa Maria di Guetemala, Kilauea di Hawaii atau Sakura Jima di Jepang.

Masalahnya, sekitar Merapi adalah daerah gunung berapi terpadat pendudukya di dunia. Di  sekitarnya telah menjadi pusat peradaban perkotaan sejak 1000 tahun lampau. Jadi setiap saat Merapi batuk-batuk saja, akan mudah diketahui dan dikaitkan dengan banyaknya manusia yang berdiam di sekitarnya.

Merapi adalah sumber kehidupan bagi masyarakat sekitarnya. Debu dan lava vulkaniknya memang membahayakan, tetapi akan menyuburkan tanah disekitar. Sejarah mencatat banyaknya kisah berjalannya rute peradaban di nusantara ini berlangsung di sekitar Merapi.

Raja Dharmawangsa dulunya berkraton di sekitar Merapi hingga dia hengkang memindahkan pusat kekuasaannya karena ada letusan Merapi terdahsyat tahun 1006. Perjalanan kerajaan Mataram Islam sangat banyak kejadiannya ditandai dengan aktifitas Merapi dalam ingatan sejarah. Ditambah lagi sekitar Merapi banyak candi-candi megah berdiri dan juga masih banyak candi-candi kecil yang terkubur karena letusan Merapi berkali-kali sepanjang masa.

Sebutlah Candi Kajangkoso, Candi Pendem, Candi Asu, Candi Sambisari yang baru diketemukan beberapa puluh tahun silam. Juga Candi Gebang, Candi Morangan, Candi Kedulan, Candi Purwomartani, Candi Pacitan dan Candi Kaliworo (semua berlokasi di wilayah Sleman). Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa Merapi adalah tempat peradaban manusia yang menyenangkan sejak dulu.

Adanya korban yang terkena akibat letusan Merapi, terlalu tergesa-gesa dikait-kaitkan dengan dosa manusia atau hukuman alam. Kasihan sekali penduduk lokal di sekitar Merapi, setiap saat harus membayar dosa-dosa orang lain. Dan Merapi bukan sekali meletus. Sering kali dan berlangsung sejak ribuan tahun. Masak teganya kita menuduh orang sekitarnya selalu berdosa, berdosa dan berdosa… Sepertinya mereka adalah pabrik dosa.

Saya tinggal hanya 10 meter dari kali dan setiap hujan deras dengan curah besar, sangat mungkin rumah saya kebanjiran dan itu tidak ada hubungannya dengan hukuman alam atau dosa saya. Walaupun saya sembahyang 100 kali sehari dan beramal penuh kepada manusia, bila hujan tiba ya saya tetap kebanjiran.

Yang menarik adalah masih suburnya kepercayaan rakyat sekitar pada mitos Merapi. Mereka masih percaya bahwa keselamatan mereka sangat tergantung pada penjaga Merapi. Masyarakat sekitar Jogjakarta tidak bisa dilepaskan dengan kepercayaan ini.

Mitos ini tidak bisa disebut klenik atau tahyul ataupun berpikir tak bernalar. Mitos tersebut adalah jawaban pra-ilmiah terhadap pertanyaan ilmiah, seperti kata Barclay.

Orang-orang jaman dulu tidak ada yang mengerti tentang vulkanologi. Bila setiap Merapi meletus, penduduk yang berada di bagian selatan Merapi selalu selamat dan tak kebagian lava. Lambat laun mereka menciptakan sebuah kepercayaan bahwa ada yang menjaga mereka.

Merapi selalu meletus sepanjang masa, sepanjang generasi, selama peradaban budaya Jawa. Diberi selamatan, ya meletus. Tak ada selamatan, ya meletus. Tanpa adanya dosa yang dibuat penduduk lokal, ya meletus. Kalau pun ada dosa, ya meletus juga. Bukan hanya lava panas dan dingin atau abu. Juga kesengsaraan dan juga kesuburan tanah bagi penduduk setempat. Merapi juga meletupkan banyak kebingungan.(*)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.