Otong Udinov’s File: Tragedi Semur Jengkol

Wahyu Wibowo


Kriiiing….. kriiiing….. suara handphone bututku pun berdering

Sejenak terdengar suara merdu perempuan sedikit nyaring

Meminta kesediaanku datang ke Jakarta untuk sebuah wawancara

Selembar surat lamaran kerjaku akhirnya ada yang mau melirik juga


Hmmm…. Jakarta… kadang aku gamang melangkahkan kakiku ke sana

Sebuah kota yang begitu kompleks kesemrawutan kemacetannya

Asap dan debu debu polusi ada terlukis di mana-mana

Menciptakan wajah-wajah lusuh di hampir tiap-tiap sudutnya


Tapi ini adalah kesempatanku memulai langkah baru

Bersenandung di antara derai lelah mimpi-mimpiku

Aku harus ke sana mencari titik-titik harapanku

Apapun yang terjadi aku harus bulatkan tekadku


Pagi-pagi aku sudah berdiri mengantri di stasiun kereta api

Selembar tiket menuju rimba kota penuh warna warni

Ini adalah kali pertama aku mencari alamat yang tak aku ketahui keberadaannya

Hanya ada sedikit gambaran yang tertanam di kepala


Hmmm… sudah hampir tiga jam aku menikmati indahnya negeriku

Sawah, ladang, yang hijau terhampar begitu sejukkan kalbu

Meski kadang terselip rasa cemas atas kebijakan para petinggi negeri

Bisa saja suatu hari nanti semua ini berubah menjadi gedung-gedung yang tinggi


Sesekali kuamati para pengamen jalanan menyanyikan lagu dengan suara berdengung

Pedagang kaki lima berebut masuk saat kereta sampai di sebuah stasiun

Para pemilik restaurant yang melambaikan tangan mengajak penumpang sudi turun

Sekedar menikmati sarapan pagi di antara lalu lalang orang yang berkerumun


Hey… rupanya sedari tadi ada seseorang yang sedang meperhatikanku dengan seksama

Seorang wanita muda yang wajahnya begitu mempesona

Matanya yang coklat menandakan dia masih punya darah Belanda

Rambutnya yang coklat mirip-mirip si Sule di Opera van Java


Tak sengaja mata kita bertemu saling menyapa

Dan senyumku terlukis memberi salam terindah

Wow… seketika ada rona merah jambu di pipimu

Yang bersembunyi di balik surat kabar sambil tersipu


Hmmm… ternyata senyumku masih lumayan charming juga

Mampu membuat sebuah wajah tersentuh rasa

Pantas saja sering ada janda-janda yang suka mengedipkan mata

Nenek-nenek pun tak segan bersuit-suit saat diriku lewat di hadapannya


Yeahh… ini adalah sebuah karunia untuk diriku yang sepi

Di antara kehidupan sederhana yang sedang aku jalani

Kotak-kotak kecil kebahagiaan yang mampu menghiburku

Memberiku semangat untuk terus melaju


Akhirnya sampai juga di stasiun kota Jakarta

Menara Monas telah tampak di depan mata

Saatnya melanjutkan petualangan hidupku

Bersama para penumpang yang berebut keluar dari pintu


Tiba-tiba terdengar suara teriakan “ Tolong…Tolong…. Tasku dicuri !!!”

Di sudut sana sang bidadari berteriak panik sambil menudingkan jari

Seorang lelaki muda bertatto membawa tas sambil berlari menuju arahku

Hmmmm…. Saatnya beraksi mencegah kejahatan yang sedang terjadi didepanku


BUGH..BUGH.. TAK..TING..TUNG.. TUNG… PLETHEK…PLETHOK… BYAR…PRAK..PRUK… PRANG…… JADHAGH..JEDHUGH…. DOINK….DOINK…. TOET..TOET… DUUUT….  KIKUK…KIKUK…

Dengan jurus harimau sakti sakit perut kubuat sang penjahat bertekuk lutut

Kasihan… kini dia menjadi sasaran empuk amuk massa

Kuambil tas bidadari itu dan berjalan perlahan ke arahnya yang tengah gelisah


“ Ini tasnya dik… lain kali hati hati yach…. Harus selalu waspada.. “

Terima kasih kak…. Untung ada kakak…. Kalau ngga ada mungkin semua barang penting di tas ini akan lenyap tak bersisa

“ Coba di cek dulu siapa tahu ada barang yang hilang….. mumpung orangnya masih ada “

“ Hmmmm sepertinya masih lengkap semua kak…. “ Ucapnya sambil memeriksa tasnya


“ Kak…. Hmmmm tanya sesuatu ….boleh tahu namanya tidak…. “ tanyanya sambil malu-malu

“ Hmmm…. Untuk apa yach…. “ ucapku sok jual mahal gitchu

“ Yeah…. Siapa tahu lain waktu kita tak sengaja bertemu kembali…. “

Aku hanya tersenyum-senyum sambil mengulurkan jemari


“OTONG UDINOV “ ucapku dengan logat Sunda yang kental sekali

“ Abah dari bojong kenyot dan ambu asli Sukabumi “

“ Sophia Katherine “ ujarnya sambil menahan tawa melihat ulah konyolku yang suka bercanda

“ Papih dari Sunda dan mamih asli dari negeri Belanda sana “


Wow… tangannya begitu halus dan lembut terasa

Tak beda jauh dengan sensasi es krim rasa coklat vanilla

Begitu kontras dengan tanganku yang kucel, dekil, item lagi

Karena tiap hari selalu terjemur cahaya matahari


Tiba-tiba dia menarik tangannya dari genggamanku

Mendekatkannya ke hidung mencoba menghidu sesuatu

Ekspresi wajahnya pucat seketika seperti telah terjadi sesuatu

Baru kusadari apa yang telah kumakan di kereta beberapa jam lalu


“ Dik…. Maaf dik…. Adik mencium bau sesuatu yang tidak seperti biasanya yach “

“ Iya kak….. mohon maaf sebelumnya….. baunya seperti sebuah trauma yang menyesakkan dada “

“Oh itu bau jengkol dik….. Semur jengkol pemberian mpok Ryu…. Janda sebelah rumah… buat bekal di jalan katanya…. Hmmmm tadi tak sempat cuci tangan karena tak ada air di kereta “

“ Oh MY GOD…. Jengkol…… “ ucapnya panik dan terus pingsan dengan seketika

Aku hanya sanggup melongo menyaksikan kejadian itu………….


Aku terburu-buru mengejar waktu yang tersisa

Setelah kejadian yang kualami di stasiun kereta

Untung saja wawancaranya berlangsung sekitar jam setengah dua

Masih ada waktu untuk diriku sampai di sana


Setelah beberapa kali bertanya pada orang orang yang kujumpa

Kuputuskan naik bajaj untuk pergi ke sana

Duduk berdesakan dengan seorang ibu-ibu gemuk di sebelahku

Terhimpit menikmati semerbak asap bajaj yang melaju membiusku


Akhirnya sampai juga pada alamat yang kutuju

Sebuah gedung tinggi berdiri gagah memandangku

Segera kucari urinoir untuk membersihkan diri

Menghilangkan jejak hiruk pikuk kejadian tadi pagi


Hmmm…. Sekarang sudah hensem lagi gumamku dalam hati

Tak kalah dengan Teuku Wisnu yang main sinetron Cinta Fitri

Aku siap menghadapi apapun yang bakal terjadi

Sebuah tekad perlahan tumbuh di dalam hati


Aku menunggu di sebuah ruang di lantai dua puluh lima

Ada sekitar sepuluh orang yang duduk di sebelahku sama-sama menanti dipanggil namanya

Sebuah ruang dengan suhu begitu dingin membeku

Sanggup membuatku menggigil tak tentu


Akhirnya namaku mendapat giliran dipanggil juga

Tiga orang berwajah garang telah siap menerkamku di sana

Pertanyaan mereka begitu bertubi tubi seperti desingan peluru

Dengan susah payah kujawab semua itu satu persatu


Huft…. Akhirnya selesai juga sesi wawancara

Kutinggalkan gedung itu setelah ada janji akan dipanggil lagi jika diterima

Hmmm…. Saatnya mencari makan siang yang sudah jauh terlambat

Sambil menahan pedih karena cacing-cacing di perut sedang pada kumat


Kususuri pusat perkantoran yang berjajar rapi

Kucari siapa tahu di sela-selanya ada sebuah warung nasi

Akhirnya kutemukan sebuah warung nasi padang

Dengan hati riang aku menuju kesana dengan langkah melenggang


Tapi ooopps….. tiba tiba keringat dingin memenuhi dahi

Saat kuraba saku celanaku, dompetku telah tak ada lagi

Rupanya terjatuh saat baku hantam pagi hari tadi

Baru kusadari kepergiannya saat ini


Huft…. Cobaan apa lagi yang kini menantiku

Sepertinya masalah terlalu suka menghantuiku

Hanya tersisa lima belas ribu di saku celanaku

Dan itu harus cukup untuk bisa kembali ke kampung halamanku


Rasa lapar semakin lama semakin mendera

Memaksaku untuk mengambil keputusan dengan segera

Kupesan sepiring nasi dengan porsi lebih banyak dari biasa

“ Uda…. Pake rendang, Gulai, Asam Pedas, Dendeng, Kari, Sambel yach…… tapi sssstttttt kuahnya saja “


Sambil geleng-geleng kepala dia melayani pesananku

Saat kutanya semua hanya lima ribu

Hmmm… syukurlah masih bisa menikmati sebuah rejeki hari ini

Meskipun hanya sebuah kesederhanaan yang tersaji


Aku termenung di sudut halte bis kota

Memikirkan cara untuk bias pulang dengan segera

Sebuah rencana kusiapkan di dalam kepala

Lengkap dengan semua alternatif alternatifnya


“ Kak Otong !!! “ tiba tiba ada sebuah suara merdu memanggilku

Dari balik kaca mobil terlihat wajah seorang wanita yang menawan seperti seorang ratu

“ Sophie !!! “ ujarku kegirangan sambil menghampiri kaca mobilnya

Setelah berbasa basi sebentar kita pun pergi ketempat yang lebih nyaman untuk berbicara


“ Sof…. Maafkan aku soal tragedi semur jengkol tadi pagi yach….. “ ucapku menyisakan sesal di dada

“ Sudah tak apa apa kak….. “ ujarnya sambil tertawa

“ Sophie emang alergi jengkol sejak dari dulu “

“ Melihatnya saja sudah membuat berdiri bulu kuduk “


“ Hey… Kenapa kakak langsung pergi … “ ucapnya merajuk setengah manja… “ tak tunggu Sophie sadar dulu……  “

“ Maaf dech kalo aku pergi ngga permisi….. habis dirimu pingsan lama sekali…… sedangkan aku sedang diburu waktu… ada sebuah wawancara yang menunggu…. “ ujarku

Dan kitapun larut berbicara berlama lama diselingi tawa dan canda

Seperti dua orang sahabat yang lama terpisah dan baru saat ini berjumpa


Hmmmm…. Aku jadi tahu kegemarannya suka makan sate padang

Hobinya duduk online di depan komputer sambil begadang

Suka banget kopi capucino menemani harinya

Seperti juga kesukaannya pada semua benda berwarna kuning terutama bunga


Suaranya yang merdu selalu menghidupkan suasana

Mampu mengikis habis grogiku yang biasanya tak kunjung reda

Tak terasa waktu berlalu tanpa terasa

Sudah waktunya pulang bila tak ingin ketinggalan kereta


Akhirnya kita tiba di stasiun yang mempertemukan kita

Setengah memaksa dia membelikanku tiket menuju kampung tercinta

Sesaat dia menuliskan sesuatu dan memberikannya kepadaku

“ Ini nomer  Sophie….. kalo besok-besok kakak ke Jakarta lagi hubungi Sophie yach…… Sophie tunggu… “


Setelah berpamitan akupun masuk ke satu-satunya pintu yang ada di situ

Sesekali kutengok dia masih berdiri sambil tersenyum manis memandangku

Hingga akhirnya waktu jualah yang memaksa kita berpisah sementara waktu

Masih terbayang tragedi semur jengkol yang melukis cerita tentang dirimu


Sophie….. mudah mudahan ada sambungan cerita tentang dirimu nantinya…….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.