Buntil

SAW- Bandung


Hallo sahabat Baltyra…

Beberapa hari yang lalu saya mendapat kiriman daun singkong dan daun pepaya yang banyak sekali. Saya bingung,… dimasak apa sayur mayur ini. Kalau hanya dibuat lalapan, kok kebangeten. Kambing juga rasanya bakal jaim deh kalau suruh menghabiskan 5 pucuk daun pepaya yang dipotong benar-benar dari pucuknya, jadi pohon bagian atasnya ikut terpotong sedemikian rupa. Juga 6 ikat daun singkong yang tampak masih muda-muda.

Akhirnya saya keidean untuk masak buntil. Yups,… daun singkong plus daun papaya cocok banget dimasak begini, meskipun sudah kebayang, bakalan rumit dan memakan waktu yang tidak sebentar.

OK, bongkar-bongkar tempat bumbu, tengok isi kulkas, terkumpullah pernak pernik untuk membuat buntil.

Bawang merah, bawang putih, kencur, jahe, laos, salam, serai, kemiri, tak lupa pete bagi yang suka. Plus cabe merah, juga cabe rawitnya buat ditabur utuh.

Ada juga teri tanpa kepala (teri jengki) dan teri kendoi (teri lembuuuttt banget).

Jangan lupa, kelapa muda satu butir diparut kasar dan kelapa yang sudah tua 3 butir untuk diambil santannya.

Ayam ½ kg untuk penyedapnya, direbus bersama bumbu buntil. Maklum, saya meniadakan sama sekali MSG untuk memasak, jadi buat sedep-sedepnya suka pakai ayam atau daging sapi.

Oya, sepertinya kerupuk kulit ini juga enak dijadikan pelengkap memasak buntil.

Maka, setelah semuanya siap, saya cuci bersih daun-daun tersebut. Benar-benar daun pilihan, nyaris tidak ada yang terbuang karena memang masih muda dan segar. Saya kukus sampai layu.

Bumbu buntil yang terdiri atas: bawang merah, bawang putih, jahe, laos, kemiri, cabe merah, kunyit, saya tumis. Tak lupa daun salam dan batang serainya dimasukkan sekalian.

Sementara itu, saya membuat bumbu enten yang terbuat dari :

Kencur, cabe merah, bawang putih, bawang merah, gula, garam.
Pete diiris tipis-tipis.
Kelapa muda parut.
Teri jengki dan teri kendoi.

Bumbu saya gongso, trus masukin teri disusul kelapa muda parut. Setelah matang, saya bungkus enten tersebut dengan daun-daunan yang sudah di kukus. Caranya, ambil beberapa lembar daun singkong atau daun papaya, taruh di tengahnya enten, bungkus rapat, jika perlu lapisi kembali dengan daun yang masih tersisa. Ikat dengan tali, sisihkan. Proses ini benar-benar membuat saya pegal di punggung. Bolak-balik saya tengok, kok sayuran masih bertumpuk. Duuuhhh…, banyak bangeeettt …

Akhirnya, bungkusan terakhir selesai juga. Saya masukkan ke panci terbesar yang saya miliki, sembari iseng saya menghitung buntelan buntil tadi. Hahaha …, pantas saja punggung sampai pegal, ternyata sampai 73 buntelan. Sepertinya orang jualan juga tidak bikin sebanyak ini. Hehehe …

Saya merebusnya dengan santan encer dan bumbu sampai 3 jam. Cabe rawit tidak lupa saya masukkan sekalian. Akhirnya ketika sudah dipastikan empuk, santan kental di masukkan, trus aduk hingga mendidih. Mateng deh…

Hanya saja, orang serumah tidak ada yang doyan buntil kecuali saya. Maka, rejeki tetangga, deh. Cukup sepiring dengan 5 buntil per-rumah. Dengan sms : eh,.. ada buntil nih. Ambil sendiri ya … Segera, GPL. Maka, ludeslah hasil masakanku.

Untukku sendiri, sedikit lebih banyak. Hahaha…, tetap tak mau kalah…

Dan, … hmmm. Ternyata enak juga. Ada sedepnya teri di balik pahitnya daun papaya. Tapi tidak begitu pahit juga sih, kan sudah dicampur dengan daun singkong.

Mau?

Salam buntil,

Saw-Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.