Jumpa James Long

Tarsisius Sutomonaio


Salah satu alasan mengapa Allah menciptakan waktu adalah agar ada tempat untuk menguburkan kegagalan- kegagalan di masa lalu”, James Long.

Saya tak kenal James Long. Bahkan saya baru berniat mencari tahu tentang orang ini setelah membaca kutipan di atas. Kutipan itu sendiri adalah sebuah catatan tua yang saya temukan kembali di halaman depan salah satu buku kuliah saya dulu. Catatan itu adalah tulisan tangan saya sendiri tetapi, maaf, saya benar-benar lupa dari mana saya mengutipnya. Semua menjadi serba kabur, terkait satu penyakit “lupa”. Atau mungkin lebih persis mengenai keahlian membaca. Katakanlah, saya bukan pembaca yang baik. Saya benar-benar minta maaf. Saya terlalu banyak melewatkan hal-hal penting.

Terlepas dari siapa James Long dan dari mana sumber kutipan ini, saya ingin mengatakan bahwa rangkaian kata-kata James Long tersebut adalah ungkapan yang luar biasa. Mungkin berasal dari sebuah permenungan yang mendalam. Ringkasan pengalaman hidup  seseorang, entah milik sang empunya kata-kata atau kisah hidup orang lain. Seorang jenius macam Einstein juga perlu waktu lama untuk menjawab pertanyaannya sendiri mengenai waktu. Akhirnya dia mengerti waktu adalah rahmat. Karena itu, menyia-nyiakan waktu sama dengan mengabaikan rahmat. Banyak orang terinspirasi oleh kesimpulan ini (termasuk saya yang baru belajar menghargai waktu).

Waktu terus bergulir maju. Tak pernah berhenti, tak pernah berulang apalagi bergerak mundur. Kita, ditakdirkan, mengarungi waktu untuk mengenali semua jenis gelombang dan menepi di setiap pantai. Kita adalah nelayan sekaligus pelancong. Sekali kita, meskipun tanpa sengaja, melewatkan waktu tanpa berbuat sesuatu di saat yang sama kita memperlebar jarak dengan tujuan yang hendak diraih. Hal yang paling buruk adalah jika kita melewatkan yang sangat penting yang tersembunyi dalam waktu. Bibit-bibit penyesalan mulai bersemai sebab kita tahu penyesalan selalu setelah segala sesuatunya berlalu.

Namun seperti yang diyakini James Long, saya juga, Allah pasti punya alasan menciptakan sesuatu. Bahkan Dia menciptakan waktu salah satunya sebagai ruang penyesalan. Saya mulai membayangkan satu kejadian. Saya tertidur saat berlayar, tak mendapatkan tangkapan pun tak sempat  menikmati pesona sepanjang pelayaran. Saat terbangun, saya menemukan perahu sudah menepi di suatu tempat. Sebuah pulau asing, persis seperti yang diceritakan film berjudul Outcast. Terdampar sendirian, sepi. Ah!

Saya pun mulai menyesali kenapa harus tertidur saat berlayar. Andaikata dan teman-temannya mulai menghampiri. Andai saja tidak tertidur pasti hasil tangkapan sudah memenuhi perahu atau setidaknya pasti ada hasil tangkapan. Andai tidak tertidur, mungkin saat ini beberapa jenis makanan dan minuman menuruni tenggorokan saya. Jika saja tidak tertidur mungkin saja saya sudah menikmati beberapa lantunan musik dan beberapa gerakan dance.  Anda bisa bayangan atau tambahkan andai-andai yang lainnya.

Saya membayangkan saat itu James Long hadir dan membuyarkan andaikata-andaikata itu. “Anda tak boleh duduk dan menyesali semua kegagalan itu terlalu lama,” kira-kira ia berujar demikian. Lalu mulailah ia menggali pasir di pantai tempat saya tersesat, persis di hadapan saya. Setelah merasa galiannya sudah cukup untuk maksudnya, ia meraih tangan saya. James mengajak saya berdiri dan segera menguburkan segala kegagalan di masa lalu itu -di lubang yang telah digalinya-. Saat itu adalah waktu atau ruang untuk menguburkan sekumpulan kegagalan. Segera sesudah itu James pergi berlalu entah ke mana.

Menurut Anda, apa yang saya harus lakukan? Mencari James untuk bertanya ke arah mana saya harus berlayar? Bagaimana jika butuh waktu terlalu lama untuk berjumpa dia kembali? Saya sendiri akan melakukan satu hal. Melangkah mendekati perahu dan segera berlayar. Menurut saya, dia sudah memberi pesan jelas, “Pergi dan temukan jalur Anda sendiri”. Mungkin setelah itu saya berjumpa orang lain, selain James, dalam pelayaran. Boleh jadi dia adalah guide berikutnya. Atau orang lain lagi setelah orang tersebut, dan seterusnya. Intinya, tetaplah berlayar dan sapalah setiap orang yang ditemui.


Jakarta, 28 Okt 2010

Kamis, 01:18 WIB


Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Tarsisius Sutomonaio. Make yourself at home. Terima kasih Dewi Aichi yang memperkenalkannya ke Baltyra.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.