Untuk Seorang Teman

Mutaminah


Teman…
Ingatkah dulu kita pernah melangkah bersama? Menghabiskan banyak waktu bersama. Kita bertautan tangan saling menguatkan. Hingga kuyakin aku mengenal separuh dari dirimu, bahkan mungkin lebih.

Dalam rentang waktuku bersamamu, sering aku menyelam ke dalam hatimu, berusaha mengerti perasaanmu, agar aku bisa menjadi teman yang baik bagimu. Tapi teman, gerimis rasanya hatiku mendapat jiwamu begitu rapuh.

Teman, tahukah? Sepanjang aku berteman denganmu, sungguh banyak pelajaran hidup yang kudapat. Tentangmu dengan ketegaran seluas langit. Meski aku paham betapa berat bebanmu, tapi senyummu selalu teduh terulas. Andai aku yang ada di posisimu, aku tak yakin akan sanggup menjalani hidupmu yang penuh pilu itu. Kupuji dengan tulus kehebatanmu, teman.

Kau, bersama kesederhanaanmu itu, dengan mudah menyeruak ke dalam hati banyak orang. Kau menjadi begitu berarti bagi kami, teman-temanmu. Kkau menebar kelembutan hatimu yang menyejukkan di hati kami, yang kini bersemi menjadi sebuah kenangan manis yang takkan pernah terlupa.

Teman, segala yang ada dalam dirimu, selalu membuatku ingin memberimu yang terbaik yang kubisa. Sungguh…

Kini, ketika jarak dan waktu memisahkan kita, seperti jauh semua ini terasa. Padahal di antara kita terikat erat jalinan persahabatan.

Kau menjadi seorang yang sangat asing bagiku.

Oh, teman. Benarkah kau itu adalah teman baik yang dulu memilinkan untukku kesyukuran pada Sang Pencipta karena aku memiliki teman sepertimu? Mungkinkah kau berubah? Ataukah ini hanya bagian dari dirimu yang lain yang selama ini belum sempat kukenali? Aku tak tahu, teman. Sungguh tak tahu.

Tapi karenanya aku merasa begitu sedih. Aku kehilangan dirimu teramat sangat. Duhai teman, aku sadar bahwa mungkin aku tak layak berbicara seperti ini dengan segala ketidaksempurnaanku, tapi teman, aku menyayangimu, aku mengkhawatirkanmu…

Ingin aku dengan kelemahanku, melindungimu dari ganasnya dunia. Berharap kau tak termangsa oleh fatamorgana, berharap kau tak terseret derasnya arus kehidupan.

Teman…
Maafkan aku kalau terlampau banyak salahku padamu, tapi kuminta satu, jangan biarkan dirimu terjamah keangkuhan dan kesombongan.

Aku menyayangimu, teman…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.