Jalan-jalan di Perantauan (1)

R. Wahyu


Pindah lagi ?? Ow  tidaaaak !!

Kali ini suamiku pindah tugas ke kota Bandar Lampung, ini kali kedua aku menginjakkan kaki di bumi Ruwa Jurai. Dulu hanya numpang lewat, saat kami ditugaskan di kota Palembang, kurang lebih 9 jam lagi perjalanan darat dari Bandar Lampung.

Memasuki pulau Sumatera, yang terbayang pasti hutannya, beda banget dengan suasana pulau Jawa, yang sesak dengan penghuninya. Melintasi antar kota di Sumatera membutuhkan waktu berjam-jam lamanya, jalannya sekarang sudah lumayan bagus, kecuali memasuki sepanjang pantai masih banyak jalan berlobang. Itu makanya selama di sana hanya sedikit tempat wisata yang bisa kami jelajahi.  Keterbatasan waktu dan kondisi alam itu jadi kuncinya mengapa keindahan kota itu terlewatkan olehku dengan sia-sia.

Kebanyakan tempat wisata di kota Lampung dan sekitarnya masih alami, mereka terletak di sepanjang pantai, jurang yang terjal, berbatasan langsung dengan laut, teluk yang indah, pulau pulau yang menyimpan aneka satwa air dan hutannya, dan juga air terjun di balik deretan pegunungan.

Temanku memberiku peta dan setumpuk brosur pariwisata, ehm… seru juga ya  hari Minggu dipakai untuk jalan- jalan. Kami menimbang satu persatu..

Sebenarnya selama di dalam kota Bandar Lampung sendiri, sudah banyak yang aku kunjungi, Bumi Sekar Kedaton, Lembah Hijau, Tabek, Musium, Batu Putu, Pantai Pasir Putih, Pantai Mutun dan lainnya.Semuanya berada didalam kota, tempat rekreasi penduduk Lampung setiap hari libur.

Sebagian besar waktu kami tersita untuk memancing, sepanjang pantai banyak tempat pemancingan laut, kalau mau lebih menantang biasanya kami menyewa perahu nelayan, memancing di tengah laut.

Ada banyak tempat pemancingan menuju pulau – pulau kecil yang bertebaran ditengah laut, Pulau Labuhan,

Pulau Pahawang, Pulau Legundi , anak Krakatau dan juga tengah laut menggunakan perahu di daerah Mutun, Sebalang dan Gading. Banyak tersedia perahu motor yang disewakan, dengan tarif antara Rp. 300.000 sampai 600.000 an semalam.

Dari semua tempat wisata, yang paling terkenal adalah Way Kambas, tempat penangkaran Gajah liar Sumatera, banyak Gajah penghuni kebun binatang di Jawa adalah lulusan Way Kambas. Aku memperkenalkan ke anakku dengan tempat sekolahnya gajah.

Taman Nasional Bukit Barisan juga ada. Danau terbesar setelah danau Toba, terletak di propinsi ini, namanya  Danau Ranau, terletak di  perbatasan Lampung barat dan Kabupaten Komering Ulu Sumatra Selatan, tapi kami belum pernah berkunjung ke sana, lumayan jauh soalnya.

Lampung Barat terkenal dengan Pantainya yang menawan, ada  Pantai Tanjung Setia, kecamatan Pesisir Selatan, 52 km dari Liwa, ibukota Lampung barat. Tempat ini setahuku sering dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara bermain surfing, area memancing mengasikkan, berenang, berkemah dan Outbond.

Ada juga Pantai labuhan Jukung, di Pesisir tengah Lampung Barat, Pantai Way Jambu, Pantai Sindi, Pantai Suka Negara, Krui dan Pantai Way Haru.  Sederet pantai yang lainnya masih bertebaran, semuanya juga menyajikan pemandangan indah.

Aku tinggal di dekat Novotel Lampung,  kebetulan suamiku bekerja di Hotel itu, kurang lebih baru empat bulan yang lalu resmi beroperasi. Masih banyak juga kok hotel berbintang yang lainnya; Hotel Sheraton, Hotel Sahid dan lain-lain.

Aku memilah tempat wisata yang bisa terjangkau sehari waktuku, Kota Agung tujuanku. Selain terdekat, di sana ada tempat wisata alam, Way Lalaan Water Fall.

Berbekal peta kota Lampung, camilan dan air minum, kami berangkat jam 09.00 pagi, lewat Pring Sewu, jalanan lumayan bagus dan sepi, serasa di tol, kata anakku..
Perkiraan waktu tempuh sejam setengah atau dua jam, tak melesat jauh kok, jalanan sepi dan mulus serta diiringi candaan seru sepanjang jalan.

Tak terasa sampai juga di pinggiran kota Kota Agung, naik pegunungan pasti, karena memang letaknya dibalik pegunungan ( entah apa namanya..). Letaknya persis diseberang jalan kompleks perkantoran pemerintah daerah kota Agung, papan namanya tak terlihat jelas, hanya arah panah kecil tertulis Way Lalaan.  Ada gerbangnya lumayan besar namun tak terawat.

Sewaktu kami datang jam 12.00 an , hanya ada 2 sepeda motor dan satu mobil terparkir, sebuah musholla, dua warung kecil menjual minuman dan lontong pecel, anak anak kampung yang sedang bermain, dan seorang penjaga parkir. Cukup membayar karcis Rp 15 000 komplit dengan bea masuknya, lumayan….

Melihat suasana yang sunyi senyap, agak ragu juga sih, jangan-jangan air terjunnya berasal dari buangan air sepanjang jalanan tadi…

Ada nasehat dari penunggu, “Kalau tak ingin berurusan dengan gadis-gadis  Kota Agung, jangan mandi air terjunnya…^_^”.

Jalan masuknya lewat tangga menurun, berlumut, dikelililng jurang tak begitu dalam, dipagari kayu tua, mirip jalan masuk salah satu Goa Gajah , Gianyar Bali, bedanya pohon – pohon tua nya alami tak bersarung kotak–kotak  dan aromanyapun asli berbau tanah basah dan humus hutan.

Benar – benar sepi….

Air terjunnya bagus, seperti Coban Rondo Malang, airnya dingin…brrrrr, aku hanya berani main air sebatas kaki saja, bukannya jauh-jauh  dari nasehat penunggu yaaa…memang enggak bawa baju ganti.

Agak lama kemudian satu persatu pengunjung mulai ramai berdatangan, tapi tetap tak banyak yang berani mandi, mereka berjalan – jalan di bebatuan besar sepanjang sungainya..

Sebenarnya masih ada satu lagi air terjunnya, letaknya hanya sekitar 10 meter agak kebawah, lebih bagus malah, hanya karena aksesnya sudah tertutup ilalang, makanya tak banyak yang tahu.

Bersambung

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.