Membuka Bekal Kehidupan

Galuh Chrysanti


Di sebuah desa, tinggallah seorang ibu bersama dua puteranya yang beranjak dewasa. Sebutlah mereka, Abang dan Adik. Suatu hari, sang Ibu memanggil kedua putranya dan berkata, “Anak-anakku, pergilah kalian berdua ke kota. Tuntutlah ilmu, lihatlah dunia, kejarlah cita-citamu, doaku selalu bersamamu.” Sebetulnya kedua kakak beradik itu enggan meninggalkan ibu mereka sendirian di desa. Namun sang Ibu yang bijaksana terus memaksa mereka.

Akhirnya, Abang dan Adik pun mengemasi barang mereka, bersiap untuk pergi. Sebelum berangkat, sang Ibu memberikan dua bungkusan yang cukup berat pada dua anandanya.

“Apa ini, Bu?” tanya Abang.

Sang Ibu hanya menyungging senyum, “Suatu saat pasti akan berguna.”

Sedang adik hanya sambil lalu, memasukkan bekal dari ibunya ke dalam tasnya. Benaknya sudah dipenuhi berbagai rencana yang akan dilakukannya di kota.

Desa tempat tinggal mereka sangat terpencil. Menuju kota, mereka harus melewati hutan, bukit, belukar, bahkan menyeberang sungai yang deras arusnya. Siang yang membakar terik dan malam yang berselimut hawa dingin.

Abang berjalan sambil menikmati indahnya suguhan pemandangan kanan kiri. Langkahnya memang cepat dan tegap, namun selalu disempatkan pada jarak tertentu untuk beristirahat. Adik merasa tidak sabar.

“Kalau begini caranya, kapan kita sampai di kota, Bang?” desak Adik, “Bolehkah aku jalan lebih dulu saja?” Adik pun berjalan mendahului Abang.

Di tiap peristirahatan, Abang membuka bekal dari ibunya. Diciumnya bungkusan itu haru, dipandangnya isinya satu persatu, baru melanjutkan perjalanannya. Dimanfaatkannya dengan seksama barang-barang yang dibekali ibu mereka. “Ah, Ibu memang paling mengerti, apa-apa yang harus kubawa. Semua isi bungkusan ini sangat berguna dalam mempermudah perjalananku ini,” kenangnya penuh syukur akan kebaikan dan perhatian orang yang paling dicintainya.

Adik sebaliknya, sangat tergesa-gesa. Tidak ditolehnya pemandangan kanan kiri, apalagi menyempatkan membuka bekal dari sang Ibu. Kaki melangkah cepat, namun perjalanan terasa sungguh berat. Bahkan juga sempat tersesat di hutan. Sudah menempuh jarak yang jauh nan melelahkan, ternyata hanya kembali ke titik yang semula.

“Makanan yang kubawa sudah habis, uang pun tidak bersisa,” Adik meratapi nasibnya yang dirasa malang, “Betapa sulit yang harus kujalani ini, bahkan kemana arah yang tepat pun aku hanya dapat menduga-duga.”

Ketika Abang sampai di kota tujuan, Adik belum tiba juga. Abang yang kuatir pun mengajak warga setempat untuk mencari sang Adik, yang akhirnya ditemukan terkapar dalam kondisi lemah 10 km masuk ke dalam hutan di pinggiran kota itu.

“Apa yang terjadi, Dik?” tanya Abang sambil memeluk sang Adik.

Adik mengeluh, “Bang, adikmu ini kelelahan, sempat salah jalan, kehabisan bekal dan tak ada lagi uang”.

Abang pun heran, “Apa maksudmu, Dik? Bukankah Ibu telah membekali kita peta, makanan kering, dan sejumlah uang?”


***

Sahabat, kisah Adik bahkan tak membuka bekal dari ibunya, adalah hal jamak yang sering terjadi pada kita.

Sang Pencipta telah membekali masing-masing kita dengan beraneka ragam potensi yang unik. Tapi berapa banyak, hamba-Nya yang menyempatkan diri berdialog dengan hati, mengenali diri dan memanfaatkan potensi yang diberikan-Nya dalam kehidupan kita?


Bukankah masih banyak manusia yang tak berusaha mengenali dirinya sendiri? Diri kita menyimpan bekal indah dari Ilahi yang tak akan habis kita eksplorasi. Mulai dari mengenali hal-hal yang bahkan sangat sederhana seperti batas kenyang perut kita serta apa saja yang dapat membuat hati kita bahagia atau sebaliknya, gelisah.

Mengenali potensi baik qalbu kita, atau sebaliknya, apa emosi negatif yang paling sering menguasai kita. Mengenali bagaimana cara otak kita bekerja, bagaimana cara belajar yang paling cocok untuk kita, apa minat utama kita, apa bakat utama kita, dan lain-lain.

Sesungguhnya, bekal yang dengan segenap kasih sayang yang diberikan-Nya bagi tiap manusia untuk menempuh kehidupan di bumi ini tak akan habis kita kupas, kita kenali dan kita kembangkan.

Hanya mereka yang menyempatkan diri untuk berdialog dengan hati, serta mampu introspeksi dan jujur terhadap diri sendirilah yang akan dapat memanfaatkan bekal dariNya secara optimal.

Makin kita kenali diri ini, makin mudah perjalanan hidup kita, arah hidup semakin jelas, serta makin efektif langkah kita mencapai segala tujuan.


Sahabat, selamat melanjutkan perjalanan hidup. Sempatkan diri berdiam sejenak, bukalah bekal dari-Nya yang ada dalam diri kita. Semoga hidupmu, makin indah adanya. 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.