Back in the USSR…

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


60 TAHUN PERSAHABATAN INDONESIA-RUSIA

Back to the USSR…


SEMASA kecil saya selalu mendengar ucapan orang yang tinggal di sekitar rumah saya di daerah Pisangan, Jatinegara, ketika mereka jatuh sakit untuk perawatan. “Bawa aja ke rumah sakit Rusia”, kata mereka. Saya tak mengerti ucapan itu. Mengapa disebut rumah sakit Rusia? Padahal nama resminya RS Persahabatan.

Ternyata rumah sakit terrsebut memang dibangun dan dihadiahkan kepada masyarakat Indonesia dari Rusia, yang diserahkan tepat 47 tahun silam. Di rumah sakit itu saya pernah tidur berhari-hari menemani ibu saya yang akhirnya meninggal dunia.

Dulu Rusia bernama Uni Soviet. Dalam bahasa Inggris sering disingkat USSR (Union of Soviet Socialist Republics). Namun lidah orang Indonesia saat itu dan sampai sekarang lebih gampang menyebutnya Rusia. Kini negera itu bernama resmi Rusia yang dulunya Uni Soviet, sebelum pecah berantakan tahun 1991 menjadi banyak negara berdasarkan etnis yang disatukan.

Nama Uni Soviet mempunyai makna persatuan (uni) yang terdiri dari banyak etnis dan suku. Ada Belorusia, Ukraina, Estonia, Armenia, Lithuania, Latvia, Georgia, Kyrgystan, Tazikistan, dan stan-stan lainnya. Namun yang terbesar adalah etnis Rusia (seperti suku Jawa di Indonesia).

Tahun ini negeri terbesar di muka bumi itu bersama-sama Indonesia merayakan 60 tahun persaudaraan antara dua negara. Tidak seperti 60 tahun hubungan Indonesia-Cina, atau Indonesia-Jepang ataupun Indonesia-AS yang dirayakan agak meriah. Perayaan hubungan persaudaraan tersebut hanya diingat-ingat saja. Tak ada acara spektakuler di gelar dan tidak ada kunjungan delegasi tingkat tinggi antara kedua negara. Adem-adem aja…

Saya menyebut persaudaraan dan bukan hubungan, karena antara Indonesia dan Rusia memiliki hubungan yang sangat manis, romantis dan penuh kenangan selama 60 tahun. Selama 60 tahun Rusia adalah negara yang paling banyak membantu Indonesia dalam banyak hal, tanpa gembar-gembor atau banyak mintanya atau maunya. Kapan dimulainya hubungan RI-Rusia?

Tak ada catatan resmi. Hubungan diplomatik memang dimulai 60 tahun lalu. Namun jauh sebelum itu, ada banyak pertalian sejarah antara Indonesia dan Rusia.  Seorang peneliti etnografi asal Rusia, Doktor Nikolai Mikluho-Maklai, pernah datang ke Papua meneliti suku di sana pada abad ke 19. Dia juga berkunjung ke Jawa dan Batavia (sekarang Jakarta).

Mereka orang Rusia banyak memberikan kenangan yang monumental bagi bangsa Indonesia. Lihat saja stadion gelora Bung Karno yang dulu bernama Senayan. Inilah stadion termegah, terkuat dan terbesar sampai sekarang. Untuk sebuah negara yang baru dan masih miskin, Indonesia sudah punya stadion super megah dan berani mengadakan Asian Games IV 1962, bahkan menjadi tuan rumah olimpiade tandingan yang disebut Ganefo tahun 1963.

Mereka juga membangun pabrik baja Krakatau Steel yang kini mau dijual pemerintah kepada orang terkaya seorang raja baja dunia asal India, Laksmi Mittal. Belum lagi terhitung bantuan diplomatik dan dukungan politik ketika Indonesia masih baru jadi negara yang dikoyak-koyak oleh negara-negra barat.

“Apakah maksud mereka (Belanda dan Inggris ) itu menginjak-injak hak dasar puluhan bahkan ratusan juta rakyat negeri-negeri jajahan dan menindas dengan bengis semua usaha rakyat itu untuk mewujudkan cita-cita piagam PBB?”, teriak wakil Rusia di PBB pada tahun 1945, Andrei Gromyko membela Indonesia yang saat itu belum menjadi anggota PBB dan dikucilkan sebagai negara baru oleh barat. Gromyko kemudian menjadi menteri luar negeri terlama di dunia, yaitu 25 tahun menjadi menlu Uni Soviet yang ditakuti (bukan sebagai hantu tetapi jago diplomasi) dan dia akhirnya menjadi presiden Uni Soviet tahun 1989.

Kemesraan Indonesia dan Rusia (dulu Uni Soviet) akhirnya ternoda oleh peristiwa 1965. Soeharto agak menjauh dari Rusia, meski tetap menghormati negara itu. Soeharto-lah yang berhasil di lapangan militer merebut kembali Irian Barat dengan menggunakan 100% senjata bantuan Rusia. “Indonesia berterima kasih atas bantuan Uni Soviet kepada Indonesia dalam merebut Irian Barat”, kata Soeharto di depan Mikhail Gorbachev di Kremlin, ketika dia pertama kali menginjak kaki di Rusia tahun 1989. Ucapan terima kasih itu “agak terlambat” 27 tahun.

Pertemuan Presiden Soeharto dengan Presiden Gorbachev merupakan pertemuan pertama antara kedua pemimpin sejak kemesraan Presiden Soekarno dan Presiden Rusia waktu itu, Nikita Khrushchev, yang datang keliling Indonesia bersafari ria berhari-hari pada tahun 1960. Khrushchev sempat “dikerjain” Soekarno karena diajak makan duren di depan mahasiswa UI. Padahal buah itu bagaikan bangkai bagi banyak orang Rusia.

Seorang presiden Rusia waktu itu, tergolong pemimpin yang malas berkunjung ke luar negeri. Dia mau datang ke negara-negara Eropa saja atau ke AS (itupun langka). Jarang-jarang ada mau datang ke Asia, apalagi ke Indonesia. Makanya setelah kedatangan Khrushchev, tak ada lagi yang presiden Rusia mau ke Indonesia. Barulah Vladimir Putin memecahkan kebekuan itu selama 47 tahun, ketika Putin menemui presiden Indonesia beberapa jam di Jakarta, sebelum terbang ke Australia menghadiri KTT APEC.

Dulu banyak sekali, orang Indonesia dikirim belajar ke Uni Soviet. Yang paling terkenal dan berhasil membagi-bagi ilmunya adalah sutradara Sjuman Djaja, seroang lulusan Rusia dari

All Union State Institute of Cinematography.

Sjuman adalah ayah penulis terkenal Djenar Maesa Ayu dan sutradara yang membuat film cantik serial ‘Si Doel Anak Betawi’ (1973) dan ‘Si Doel Anak Modern’ (1976), yang kemudian mengilhami Rano Karno (peran utama film ‘Si Doel Anak Betawi’) membuat serial sinetron TV peraup milyaran rupiah, ‘Si Doel Anak Sekolahan’.

Sedangkan Farida Feisol kemudian memperdalam baletnya pada Martha Graham yang pernah mentas di depan Ibu Fatmawati di Istana Merdeka tahun 1956 dan dia juga belajar balet modern kepada Alvin Nicolais dari New York, yang pernah manggung di TIM tahun 1977. Masih ada juga pekerja seni yang dipoles hasil didikan Rusia, seperti aktor watak jadul, Bambang Hermanto, suami aktris sinetron TV Dien Novita.

Dalam kebudayaan, Rusia banyak memberikan perhatian kepada Indonesia. Mereka membangun pusat kebudayaan di Jakarta untuk memberikan banyak ilmu dan budaya Rusia kepada Indonesia. Saya sempat membuka halaman majalah terbitan Rusia berbahasa Inggris yang terkenal, “Sputnik”, koleksi ayah saya. Dalam majalah itu tercantum harga dalam mata uang rupiah untuk pembaca di Indonesia.

Ketika masih baru masuk SMA, saya sempat ikut belajar bahasa Rusia di pusat kebudayaan Soviet (sekarang jadi Rusia). Cuma di situ yang gratis. Di pusat kebudayaan lainnya semuanya berbayar. Koleksi buku-buku perpustakaannya agak banyak terutama untuk eksakta.

Cara mereka menjabarkan ilmu-ilmu eksakta sangat simpel dan ringkas dalam cetakan kertas koran. Makanya saya tertarik untuk mencurinya bersama teman saya dari perpusatakaan itu (pinjam tak pernah dikembalikan) dan berhasil.

Saya keluar dari pusat kebudayaan tersebut, karena ada demonstrasi besar anti Soviet di Indonesia dan saya dimarahi oleh ibu saya. “Awas kalau kau datang ke sana lagi!”, ancam ibu saya yang semula tak tahu kalau saya ikut kursus di sana. Pasalnya karena ada berita dari Radio Moskow, bahwa PKI mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada Presiden Rusia waktu itu Leonid Brezhnev yang beralis tebal. Padahal PKI sudah dianggap mati dan terlarang. Lha kok bisa ada di Moskow? Makanya pada demo di sini.

Selama Orde Baru, banyak yang menilai Indonesia terlalu manut dan dikemudikan oleh negara-negara barat, yang memberi bantuan secara reguler ke Indonesia. Beda dengan Rusia, banyak membantu jarang menyetir kemauannya kepada Indonesia. Mungkin lebih baik Indonesia bisa menjalin kerja sama lebih baik lagi dengan Indonesia. Misalnya dalam ruang angkasa.

Tahun 1970an Rusia pernah berniat membangun stasiun peluncuran satelutnya di pulau Waigeo, Papua, namun redup rencana itu dan kemudian menghangat kembali setelah kedatangan Presiden Putin ke Indonesia pada 2007 lalu. Kalau bisa Indonesia mengirimkan astronotnya melalui wahana antariksa Rusia.

Tahun 1985 kita sudah punya astronot yang siap diluncurkan ke angkasa. Namanya Pratiwi Soedharmono. Namun rencana itu batal karena ada kecelakaan pesawat ulang aling (space shuttle yang kini dihentikan) pada Januari 1986 hingga sempat dihentikan selama 3 tahun. Setelah itu tak ada kabar dan astronot kita keburu gembrot. Akhirnya kita kalah disusul Malaysia yang sudah punya astronot ke luar angkasa dengan menggunakan wahana Rusia.

Meskipun Indonesia belum punya astronot, kita sudah punya pahlawan ruang angkasa. Namanya Yuri Gagarin. Lho? Dia kan orang Rusia? Iya, tapi Presiden Soekarno memberikan Bintang Jasa Mahaputra kepada Yuri Gagarin pada Oktober 1964 di Moskow.

Artinya si Gagarin itu pahlawan Indonesia ‘kan? Lagi pula banyak nama Rusia sudah diadaptasi oleh banyak orang Indonesia. Nama pemimpin Rusia Mikhail Gorbachev adalah nama paling ngetop di daerah Parahiyangan (Jawa Barat). Nama hybrid (gabungan) Cecep Gorbacep sering terdengar untuk anak yang lahir tahun 1986 ke atas.

Mudah-mudahan Indonesia dapat kembali menjalin persaudaraan lebih akrab lagi dengan Rusia, seperti masa-masa lalu yang monumental. Mirip sebuah syair atau lyric dari lagu ciptaan kelompok the Beatles, ‘Back to the USSR.


Come and keep your comrade warm.
I’m back in the U.S.S.R. hey…

***

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *